Manado, Barta1.com – Tim Penelitian Berdikari Politeknik Negeri Manado (Polimdo) yang diketuai Arifmanuel Kolondam, SE., MM bersama para anggota: Andreas Randy Wangarry, SE., MSA., Ak., CA, Selvy Kalele, SE., MSi, Ficky M. F. Purba, BBA., M.,M, Oldy Labonan, dan Jane Hendriks menggelar Focus Group Discussion bertema “Potensi Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna FUTURE untuk UMKM Pengolah Cakalang Fufu di Sulawesi Utara.” Kegiatan ini berlangsung di Baru Nona Room, Hotel Sentral Minut, Kamis (27/11/2025).

Sebelum memulai presentasi hasil penelitian, Arifmanuel menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para undangan dari berbagai instansi, mulai dari Pemerintah Kota Bitung, pihak industri, hingga tim peneliti Polimdo.

“Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Edij Rudy Panamon, S.Sos selaku Kepala Kerja Sama Setda Kota Bitung, Ibu Fita Notulo, S.Pd selaku Kabid Perlindungan Konsumen dan Pengawasan Perdagangan, serta Ibu Agnes R. Tuwaidan, SE selaku Kabid Bina UMKM Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bitung. Terima kasih atas kehadiran Bapak-Ibu sekalian,” ujar Arifmanuel dengan senyum hangat.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kapus Dr. Rilya Rumbayan, ST., M.Eng, Ketua Jurusan Teknik Mesin Polimdo Meidy P.Y. Kawulur, S.Si., M.Si, serta para ahli dan pelaku industri seperti Monalisa Pulukadang dan Suriana.

“Terima kasih khusus kami sampaikan kepada Bapak Rudij yang telah menghubungkan kami dengan berbagai dinas terkait hingga para pelaku industri. Tidak menyangka, hasil dari Pameran Panen Raya membawa kami ke titik ini, di mana cakalang fufu semakin dikenal para mitra,” lanjutnya.

Arifmanuel menjelaskan bahwa program Berdikari merupakan program nasional dari Kementerian melalui Minaksaintek Direktorat Pengembangan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, didanai oleh LPDP.

“Kelompok kami menjadi salah satu dari tiga tim peneliti Polimdo yang lolos program ini. Penelitian berdikari mengutamakan sektor unggulan daerah. Tahun 2024 kami fokus menghasilkan policy paper untuk Sulut, dan tahun ini kami melakukan implementasi innovation planning. Kami memilih sektor perikanan, karena cakalang adalah ikon provinsi ini,” jelas Sekjur AB Polimdo tersebut.

Ia menambahkan bahwa mereka bekerja sama dengan pelaku UMKM, Ibu Suryana Livia Nosa Boga, yang menghadapi tantangan dalam memperpanjang daya simpan produk cakalang fufu.
“Meskipun fufu adalah metode pengawetan, daya simpannya tetap singkat. Ini menjadi alasan kami meneliti lebih dalam: bagaimana meningkatkan daya saing cakalang fufu agar bisa menembus pasar internasional,” ujarnya.
Dalam proses penelitian, tim menemukan bahwa metode produksi tradisional masih belum steril dan cenderung konvensional, sehingga memengaruhi daya simpan produk.
“Kami melibatkan banyak pihak, seperti ahli perikanan dari Unsrat hingga tenaga ahli pembuatan mesin seperti Nico Pinangkaan, ST., MT. Dari sini kami menyusun SOP yang lengkap, mulai dari pasca tangkap hingga distribusi,” jelas Arif.
Tim kemudian mengembangkan lima teknologi tepat guna, termasuk oven tertutup berbahan stainless steel yang menggabungkan metode tradisional dan teknologi modern.
“Oven ini masih menggunakan arang briket dan serabut kelapa untuk mempertahankan cita rasa khas, namun dilengkapi blower, kipas, filter, dan kontrol digital. Prosesnya lebih steril, cepat, dan efisien. Jika secara konvensional butuh 4–8 jam, teknologi kami bisa menyelesaikan dalam 90 menit pada suhu 70 derajat,” paparnya.
Oven tersebut juga menggunakan energi solar panel, sehingga lebih ramah lingkungan. Selain itu, mesin boiler dan retort turut dikembangkan untuk proses sterilisasi produk.
“Hasil uji laboratorium menunjukkan kadar air cakalang fufu produksi kami lebih baik dibanding proses konvensional. Uji penyimpanan pun menunjukkan produk kami dapat bertahan satu bulan di freezer dan tiga bulan di chiller. Target ke depan, tiga bulan di freezer dan satu tahun di chiller,” tambahnya.
Pemaparan tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kota Bitung.
Kepala Kerja Sama Setda Kota Bitung, Edij Rudy Panamon, S.Sos, menyampaikan apresiasinya.
“Kami sangat tertarik dengan inovasi ini. Setelah mengikuti expo Polimdo, kami langsung melaporkan kepada Bapak Wali Kota Hengky Honandadar beserta Ibu Walikota. Cakalang adalah ikon Bitung, sehingga pengembangan seperti ini harus disambut serius,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bitung siap berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait, serta pihak ketiga yang telah melihat brosur dan video, juga menyampaikan ketertarikannya dengan teknologi tersebut. “Pihak ketiga ini mengajak pihak Polimdo untuk bertemu, guna menjelaskan alat yang sudah dibuat, hari ini mereka tidak hadir, karena bertepatan ada agenda lainnya.”
“Ke depan, mungkin bisa juga bekerja sama dengan PKK, khususnya Pokja 2 yang bergerak di bidang UMKM. Pertemuan lanjutan akan kami jadwalkan secepatnya,” tutupnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post