Minut, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) kembali melaksanakan kegiatan pengabdian Penugasan Institusi (PPI), kali ini di Desa Wisata Darunu, desa binaan Polimdo setelah Desa Budo, pada Senin (24/11/2025).

Pada agenda tersebut, Pengabdian ini mengusung tema “Implementasi Participatory Mapping Jalur Evakuasi Bencana Tsunami dan Peningkatan Tata Sosial Masyarakat Sadar Bencana di Desa Wisata Darunu Binaan Politeknik Negeri Manado.”

Ketua Tim Pengabdian Polimdo, Ir. Dian Puspita Sari, S.T., M.Ars, kepada Barta1.com menjelaskan bahwa sasaran program ini meliputi perangkat desa, masyarakat, wisatawan, hingga mahasiswa.
“Kegiatan Pengabdian ini kami diawali dengan FGD (Focus Group Discussion) dan participatory mapping yang melibatkan masyarakat untuk merumuskan jalur evakuasi terbaik,” ujar Ir. Dian, yang turut didampingi Direktur Polimdo Dra. Mareyke Alelo, MBA, serta anggota tim Dwars Soukota, S.T., M.Ars, Steve W.M Supit, S.T., M.Eng., Ph.D, Januar Valentino, dan Samehe, S.E., M.M.
Ia menambahkan bahwa tim Polimdo juga merancang visualisasi peta teknis yang mudah dipahami, dengan melibatkan mahasiswa Arlando dan Dave dalam proses penyusunannya.
“Sosialisasi pada FGD ini mencakup pemahaman membaca peta dan teknik evakuasi mandiri saat terjadi gempa sebagai peringatan dini tsunami. Pada sesi akhir, hadir pembicara Ir. Trias Musadi, S.T., tenaga ahli program Indonesia Disaster Resilience, serta Ir. Erlin Bawembang, S.T., M.Ars, dosen arsitektur Universitas Klabat,” jelasnya.
Sebagai akademisi dari Jurusan Teknik Sipil Polimdo, Ir. Dian menegaskan bahwa pengabdian ini bertujuan mewujudkan desa tangguh bencana dengan sistem mitigasi mandiri yang kuat.
“Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) mengenai konstruksi tahan gempa dan prosedur evakuasi saat gempa, sehingga desa dapat memperkuat resiliensinya secara berkelanjutan melalui transfer ilmu pengetahuan dan teknologi,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan ini membawa dampak transformatif dan berkelanjutan bagi Desa Wisata Darunu, di mana masyarakat bukan hanya memahami risiko gempa dan tsunami, tetapi juga terampil melakukan evakuasi mandiri serta mengetahui standar keselamatan bagi penduduk maupun wisatawan.
“Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi wadah penerapan ilmu dan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) bagi mahasiswa,” pungkasnya. (*)
Editor: Meikel Pontolondo


Discussion about this post