Manado, Barta1.com – Program Panen Raya Berdikari di Kampus Politeknik Negeri Manado (Polimdo) menghadirkan beragam inovasi hasil penelitian, salah satunya adalah Future, rangkaian teknologi pengolahan cakalang fufu yang mulai menarik perhatian publik.

Ketua tim peneliti Future Polimdo, Arifmanuel Kolondam, SE., MM, mengatakan kepada Barta1.com bahwa inovasi ini dikembangkan melalui program Berdikari yang diselenggarakan oleh Direktorat Minat
sains dan Teknologi Kemendiktisaintek (Kementerian pendidikan tinggi, sains dan teknologi) dan didanai oleh LPDP.

Menurutnya, Future merupakan kelanjutan dari program konsorsium kemitraan tahun sebelumnya. “Dalam penelitian ini kami fokus pada sektor unggulan daerah, yaitu perikanan,” jelasnya.
Arif menjelaskan bahwa pihaknya memilih fokus pada cakalang fufu karena kebutuhan industri yang mendesak. Mitra industri menghadapi kendala utama: cakalang fufu hanya mampu bertahan maksimal tiga hari, sementara permintaan terus meningkat, baik lokal, nasional hingga internasional.
“Di Manado, cakalang fufu adalah makanan sehari-hari. Orang luar daerah juga suka, tapi terkendala saat distribusi ke luar Manado karena daya tahan yang rendah. Dari penelitian ini kami menemukan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah proses produksi yang belum steril,” ujarnya.
Dari persoalan tersebut, tim kemudian mengembangkan teknologi Future (Fufu Ultra Tech Upgraded and Reinvented Engineering), yakni rangkaian teknologi pemrosesan cakalang fufu lengkap dengan SOP dari tahap pasca tangkap.
“Dalam rangkaiannya terdapat beberapa mesin, termasuk oven dan mesin Poiler Direktor. Ikan yang ditangani sesuai SOP pasca tangkap akan masuk ke mesin-mesin ini,” jelas Arif.
Ia memaparkan bahwa oven Future mampu menghasilkan cakalang fufu yang steril tanpa kontak udara luar. “Waktunya jauh lebih efisien. Hanya 90 menit untuk 15 kilogram, sedangkan metode konvensional membutuhkan waktu berjam-jam,” katanya.
Selain lebih cepat, prosesnya juga lebih ramah lingkungan. Oven Future menggunakan filter asap dan teknologi pengurang emisi sehingga karbon yang dihasilkan jauh lebih rendah dibanding pembakaran tradisional. “Ini sangat baik untuk lingkungan,” tambahnya.
Setelah melalui oven, produk kemudian dimasukkan ke mesin director untuk proses sterilisasi lanjutan. Selanjutnya cakalang fufu dipacking dan dimasukkan ke retorg agar ketahanan simpannya meningkat.
“Perangkat ini dikontrol oleh sistem AI Oti, dan seluruh komponen listriknya menggunakan tenaga surya. Hasilnya adalah cakalang fufu dengan daya simpan jauh lebih lama, potensi pemasaran lebih luas, serta efisiensi biaya dan waktu. Teknologi ini juga jauh lebih berkelanjutan,” paparnya.
Proses Future dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari pasca tangkap hingga distribusi, dengan kepatuhan ketat terhadap SOP agar menghasilkan produk yang higienis.
Ke depannya, Arif menyebut teknologi Future akan dikomersialkan dan melibatkan berbagai pihak, termasuk media. Ia menyampaikan hal ini mewakili tim peneliti: Andreas Randy Wangarry SE., MSA., Ak., CA, Selvy Kalele SE.,MSi, Ficky M F Purba, BBA., M.,M Oldy Labonan, dan Jane Hendriks. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post