• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, Mei 22, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Daerah

“Negara Tidak Baik-Baik Saja”: Suara Perlawanan Perempuan Sulut di Panggung Aspirasi

by Meikel Eki Pontolondo
6 September 2025
in Daerah, Edukasi
0
Koordinator API Sulut, Aryati Rahman saat menyampaikan aspirasinya. (foto: meikel/barta)

Koordinator API Sulut, Aryati Rahman saat menyampaikan aspirasinya. (foto: meikel/barta)

0
SHARES
89
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com – Aliansi Perempuan Indonesia (API) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar aksi perlawanan dalam bentuk “Panggung Aspirasi” di Patung Ibu-Anak, Jalan Walanda Maramis, Komo Luar, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sabtu (6/9/2025).

Aktivis perempuan Sasa dan Indy saat bernyanyi. (foto: meikel/barta).

Koordinator API Sulut, Aryati Rahman, menyampaikan bahwa aksi ini adalah wadah bagi perempuan untuk menyuarakan keresahan yang selama ini terpendam.

Keterwakilan LBH Manado, Sandry Alexandria Pelupessy, saat melakukan monolog. (foto: meikel/barta).

“Kami ingin menunjukkan bahwa aksi ini adalah panggung aspirasi kami. Ini ruang yang kami ciptakan untuk menyampaikan segala keresahan perempuan hari ini,” tegas Aryati.

API Sulut saat memeriahkan aski panggung ekspresi. (foto: meikel/barta).

Aryati juga menyoroti bahwa situasi negara saat ini tidak sedang baik-baik saja. Ia menekankan pentingnya peran aktif perempuan dalam melawan ketidakadilan.

Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Sulut. (foto: meikel/barta).

“Kalau perempuan hari ini hanya diam, maka penindasan akan terus berlangsung,” ujarnya.

KMPA Tunas Hijau, Iing Imadji, saat membawakan lagu penolakan Reklamasi Manado Utara dan penggusuran Kalasey Dua. (foto: meikel/barta).

Ia menceritakan pengalamannya saat mengikuti aksi sebelumnya pada 1 September 2025. Saat itu, seorang pria mempertanyakan keikutsertaan para ibu dan tante dalam demonstrasi. Aryati menjawab dengan tegas:

Saat Bella bernyanyi hingga mengumandangkan semangat pada aksi Panggung Ekspresi API Sulut. (foto: meikel/barta).

“Justru karena saya seorang ibu dan tante, maka saya harus ikut. Saya harus menyuarakan aspirasi demi masa depan anak saya.”

Aksi protes melalui make up oleh Putri Lestari bersama rekannya. (foto: meikel/barta).

Menurut Aryati, Indonesia saat ini tidak ramah terhadap perempuan, dan jika perempuan tetap bungkam, maka anak-anak mereka hanya akan menjadi korban dari sistem yang menindas.

Bentuk protes melalui tulisan dan gambar. (foto: meikel/barta).

“Saya tidak ingin anak dan keturunan saya hanya menjadi penonton dari elit-elit politik kurang ajar yang mengendalikan negara ini,” katanya dengan lantang.

Aryati menegaskan bahwa perjuangan API bukan untuk menghancurkan negara, melainkan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan manusiawi, dimulai dari peran perempuan.

“Perempuan adalah sumber kehidupan. Presiden sekalipun bukan siapa-siapa jika tidak disusui oleh perempuan. Gubernur pun tidak akan menjadi seperti sekarang kalau tidak dirawat oleh perempuan,” ujarnya.

Ia menutup orasinya dengan menyatakan bahwa forum ini adalah bentuk luka kolektif perempuan Sulut yang selama ini terabaikan.

“Kami tahu sistem ini rusak, dan negara tidak baik-baik saja. Maka hanya ada dua pilihan: bangkit melawan atau tunduk dan tertindas. Hidup rakyat!”

Aksi ini diisi dengan berbagai bentuk ekspresi perlawanan, seperti pertunjukan makeup, pembacaan puisi, monolog, bernyanyi, hingga menggambar, semuanya sebagai simbol suara yang tak bisa dibungkam. (*)

Peliput: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: Aryati Rahman API SulutPanggung Aspirasi
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Demo makeup pada aksi API Sulut. (foto: meikel/barta)

Makeup sebagai Perlawanan: Aksi Kritis API Sulut Terhadap Patriarki

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Pendidikan Adalah Hak: Maleosan.ID Berbagi Semangat Belajar Bersama Anak-Anak Komunitas Dinding Manado 22 Mei 2026
  • PPMAN Menilai Penetapan Tersangka Warga Adat oleh Polres Halut Langgar HAM 20 Mei 2026
  • Kajati Sulut Pastikan Tambang Ilegal di Sangihe Masuk Prioritas Penindakan 20 Mei 2026
  • Bangun Kolaborasi, Rektor UC Surabaya, Prof Wirawan Sebut Polimdo Kampus Bergengsi di Manado 20 Mei 2026
  • Dua Hari di Sangihe, Kajati Sulut: Daerah Ini Luar Biasa dan Harus Dijaga 19 Mei 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In