• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Senin, April 20, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News

Senam Poco-Poco Mendunia, Ini Sejarahnya

by Agustinus Hari
6 Agustus 2018
in News, Olahraga
0
Senam Poco-Poco Mendunia, Ini Sejarahnya

Beberapa Pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulut sedang melakukan Senam Poco-Poco. (FOTO: ALBERT/BARTA1)

68
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

MANADO, BARTA1.COM – Senam poco-poco kini menjadi viral di dunia, pasca pemecahan rekor senam massal ini di Pohon Kasih Mega Manado, Minggu (5/8/18). Kegiatan dalam rangka menyemarakkan Asian Games dilaksanakan secara serentak ditiga tempat yang dua lokasinya adalah tuan rumah Asian Games yakni Palembang dan Jakarta, lalu Kota Manado.

Tarian Poco-Poco adalah jenis tarian modern asli Indonesia yang kemudian banyak dijadikan sebagai gerakan dasar pada senam irama. Tarian ini mengambil unsur-unsur gerakan tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu pada tarian ini dapat dijumpai gerakan seperti melempar lembing, melepas panah dan sebagainya karena memang gerakan-gerakan tersebut banyak terdapat pada tarian-tarian daerah di Indonesia.

Tarian Poco-Poco mulai populer di awal tahun 1998. Pada awalnya, Tarian Poco-Poco hanya dilingkungan yang dikenal dalam kedekatan emosional dengan keluarga, kerabat, dan sanak saudara yang ada di Maluku Ambon,” tutur salah satu guru senam yang berlisensi nasional, Drs Olnius Ma’i, Senin (6/8/2018).

Dia mengatakan Tarian Poco-Poco sebagai gerakan senam irama, sehingga mulai mendapatkan tempatnya di hati masyarakat melalui proses latihan.

Sekretaris Jemaat GMIM Maranatha Karame ini menjelaskan, tarian ini diiringi oleh lagu yang berasal dari Maluku yang juga berjudul poco-poco. Lagu poco-poco diciptakan oleh pencipta lagu berkebangsaan Indonesia asli Ambon yang bernama Arie Sapulette dan dinyanyikan oleh penyanyi yang ternama kala itu bernama Yopie Latul. “Kaset dan CD lagu poco-poco pun disertai dengan gambar gerakan senam poco-poco,” ujarnya.

Ia menjelaskan sejarah singkat Tarian Poco-Poco, terciptanya lagu-lagu poco-poco ini. Semua berawal dari sebuah pesta dan jamuan makan yang dihadiri oleh sang pencipta lagu, Arie Sapulette. Kala itu, sambung dia, Arie Sapulette terpikat pada seorang gadis yang sedang membawakan tarian tradisional Papua, yaitu Yospan dan Wayase Ambon.

Spontan ia pun membuat sebuah lirik lagu dari melodi gendang yang mengiringi tarian sang gadis tersebut. Dan keterpikatannya pada gadis tersebut pun tercermin dari lirik lagu Poco-Poco yang berbunyi:

Balenggang pata pata
Ngana pe goyang pica pica
Ngana pe bodi poco poco
Cuma ngana yang kita cinta
Cuma ngana yang kita sayang
Cuma ngana suka beking pusing

Yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti :

Jalan berlenggak lenggok
Goyangan badanmu gemulai
Bentuk tubuhmu indah berisi
Hanya kamu yang aku cinta
Hanya kamu yang aku sayang
Hanya kamu suka buat aku pusing

Arie Sapulette begitu terpikat dengan kegemulaian dan kelincahan gadis penari tersebut dalam membawakan tarian sehingga secara spontan ia mengeluarkan kata poco-poco. Dan sejak saat itu, tarian dengan melodi rentak gendang seperti yang dibawakan oleh gadis tersebut dinamakan Tari Poco-Poco.

Gerakan dasar Tari Poco-Poco relatif cukup mudah sehingga sangat digemari oleh masyarakat. Bahkan, saking di gemarinya, Tari Poco-Poco lalu dijadikan semacam senam irama oleh murid-murid sekolah di Indonesia. “Gerakan tarian poco-poco adalah dua langkah kecil ke kanan, kembali ke tempat, lalu mundur satu atau dua langkah ke belakang, kemudian maju kedepan sambil berputar. Begitu seterusnya, gerakan tersebut terus di ulang-ulang. Prinsipnya adalah memutar tubuh ke seluruh penjuru mata angin lalu kembali ke tempat semula,” bebernya.

Saat ini, Tarian Poco-Poco telah berkembang dengan pesat sehingga memiliki sekitar 50 variasi gerakan. Iringan musiknya pun menjadi beraneka ragam, dari iringan musik poco-poco versi dangdut, house music (disko) sampai Cha-Cha.

Kontroversi Pengharaman di Malaysia

Beberapa waktu yang lalu, Tarian Poco-Poco kembali mendapat perhatian luas setelah pernyataan sepihak negara tetangga kita yang memfatwakan haramnya Tarian Poco-Poco ini. Dalam pernyataan tersebut dikatakan bahwa Tarian Poco-Poco bukanlah berasal dari Indonesia melainkan dari Filipina. Tarian ini juga dikatakan ditarikan oleh umat Kristiani di Filipina sebagai prosesi ibadah mingguan yang tercermin dalam gerakannya yang membentuk tanda salib.

Namun fatwa haram tersebut sebenarnya sangat tidak berdasar. Dikatakan sangat tidak berdasar karena menilik sejarah dan asal-usulnya, tarian ini adalah jelas tarian asli dari Budaya Indonesia. Dibuktikan dengan tarian ini sudah ditarikan sejak lama terutama di daerah timur Indonesia. Gerakan yang dibuat pun sama sekali tidak membentuk tanda Salib melainkan membentuk delapan penjuru mata angin. Selain itu, fatwa tersebut tidak datang dari badan resmi yang boleh mengeluarkan fatwa halal haram melainkan dari oknum tidak bertanggung jawab yang menyampaikan pesan tersebut melalui pesan berantai dalam email. Dari email tersebut, pesan ini kemudian meluas melalui blog-blog pribadi.

Untungnya fatwa haram tersebut tetap tidak dapat menghentikan perkembangan Tarian Poco-Poco yang kini juga mulai populer ke berbagai penjuru belahan dunia. Terbukti kini Tarian Poco-Poco mulai populer di Negara-negara Eropa seperti Swedia, Belanda, Jerman dan lainnya.

“Namun sayangnya Kini Tarian Poco-Poco lambat laun mulai kehilangan kepopulerannya di tempat asalnya sendiri, Indonesia. Terbukti generasi muda kini justru lebih menyukai tarian asing seperti breakdance dan tarian bernuansa hip-hop lainnya. Padahal sudah sepantasnya bagi kita sebagai pemilik tarian Poco-Poco untuk melestarikannya agar tidak kemudian dilupakan,” ujarnya.

Peliput: Albert Piterhein Nalang

Barta1.Com
Tags: Olnius Ma'isejarah tarian poco-pocosenam poco-pocotarian poco-poco
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Dari Kinali ke Pasar Eropa, Jalan Berliku Pala Siau

Dari Kinali ke Pasar Eropa, Jalan Berliku Pala Siau

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Wabup Sangihe Buka TKA SD 2026, Tekankan Kejujuran dan Kesiapan Infrastruktur 20 April 2026
  • Hengky-Randito Dampingi Dirjen Pendidikan Tinjau Pelaksanaan TKA di SDN Impres 6/84 Madidir 20 April 2026
  • Jalan Berlubang di Sulut: Keluhan Warga Menggema, Respons Diharapkan Nyata 20 April 2026
  • Dari Bibit Tomat hingga Rafting: Cara KMPA Tansa Rayakan Hari Bumi di Manado 19 April 2026
  • IKA Polimdo: Larangan Vape adalah Investasi Kesehatan Mahasiswa 19 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In