SANGIHE, BARTA1.COM – Di lantai dua Pasar Trikora Tahuna, suara gemeretak mesin jahit tua masih terdengar lirih. Dari balik meja kecil yang dipenuhi gulungan benang dan potongan kain, Viktor Papona (66) tampak tekun menyulam sisi demi sisi sebuah setelan pakaian dinas. Tangannya cekatan, matanya awas, meski usia tak lagi muda.
Viktor adalah salah satu penjahit senior di Kabupaten Kepulauan Sangihe yang tetap bertahan di tengah derasnya arus toko daring dan gempuran pakaian jadi. Ia telah menjahit sejak 1977, sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah mesin jahit sederhana di sudut rumahnya.
“Saya mulai dari satu mesin saja. Lama-lama pelanggan makin banyak, akhirnya bisa punya enam karyawan,” tutur Viktor ketika ditemui, Sabtu, (26/7/2025).
Namun roda waktu bergulir. Setelah hampir lima dekade menjahit, Viktor kini menghadapi tantangan zaman. Pelanggan mulai sepi. Toko-toko online menjamur, menjual pakaian murah siap pakai dengan model terkini dan pengiriman cepat.
“Sekarang sudah tidak mampu bayar orang. Kadang-kadang seminggu tidak ada penghasilan,” katanya pelan.
Satu per satu karyawannya harus diberhentikan. Dari enam orang, kini tinggal dirinya sendiri. Ia mengerjakan semua dari mengukur, memotong pola, menjahit, hingga menyerahkan pesanan ke pelanggan.
Meski begitu, Viktor tetap menjaga kualitas. Jas masih menjadi produk termahalnya—bertarif Rp1,5 juta dengan waktu pengerjaan enam hari. Sementara setelan pakaian dinas dikenakan harga Rp500 ribu, dan baju harian Rp250 ribu, rampung dalam dua hari.
“Dulu pelanggan saya banyak dari kalangan pegawai negeri. Sekarang mereka sudah pensiun, bahkan banyak yang meninggal,” ucapnya lirih.
Harapannya sederhana. Ia ingin pemerintah daerah memberi ruang bagi para penjahit lokal seperti dirinya agar bisa tetap hidup di tengah perubahan zaman. Salah satu caranya, kata Viktor, adalah dengan memesan seragam ASN dari penjahit setempat.
“Kalau bisa seragam pegawai dipesan ke kami-kami ini. Itu sangat membantu,” katanya.
Di tengah modernisasi dan kompetisi digital, Viktor Papona tetap menjahit harapan. Apapun tawaran menjahit kini ia terima dengan harapan bisa mengais rezeki setiap hari.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post