• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Jumat, Juni 12, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Catatan Harian Bunga  Violet, Naskah  Dramatic Reading Karya Iverdixon Tinungki

by Meikel Eki Pontolondo
15 Juli 2025
in Seni
0
(Foto: ilustrasi)

(Foto: ilustrasi)

0
SHARES
73
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pelaku dan Karakter:
Lazarus : Lelaki (35) Penyair dan aktivis
Elena : Pelacur (29), Istri Lazarus
Amadea : Perempuan (27) Seniman dan pebisnis.
Maximus : Lelaki (55) Pengusaha.
Luciana : Perempuan (35) Pengusaha.
Narator : Sosok Tua, sutradara dalam pertunjukan ini.
Lazarus 1 : Bayangan Lazarus.
Lazarus 2 : Bayangan Lazarus.
Lazarus 3 : Bayangan Lazarus
Bartolomius : Bayangan penyair dari Kota M.

Panggung: Sebuah Ruang Imajinir.

Bagian I: Raung Renung

(Saat lampu menyala, di panggung nampak wujud-wujud Lazarus dalam potongan-potongan monolog. Elena sedang menyisir rambutnya di depan sebuah mejah cermin. Lazarus duduk di sebuah kursih tua di suatu sisi.)

Lazarus 1:
Entah itu tahun ke berapa dalam pernikahanku dengan Elena, dan ini bagian memuakan dalam sejatinya drama kehidupanku. Elena dikontrak seorang lelaki Melayu untuk bercinta di Singapura. Ia diminta di sana selama tiga bulan meladeni penis tua sebagai pekerjaannya.

Elena:
Sebagaimana para professional ya, aku berniat pergi menuju tempat kerja!

Lazarus:
Apa yang kau cari, uang, kenikmatan, atau hakekat sejatinya kehidupan?

Elena:
Tanyakan itu kepada presiden, menteri, gubernur, walikota, bupati. Tanyakan kepada semua cecunguk penindas, koruptor, dan bajingan-bajingan itu apa yang mereka cari, uang, kenikmatan, atau hakekat sejatinya kehidupan?

Lazarus 1:
Bayangkan, usianya yang dua pulu sembilan tahun. Sebuah masa paling matang dalam bersetubuh. Elenaku, baunya wangi, tubuhnya putih dan mengkilap. Tanpa berdandan, Elena sudah cantik sejak lahir dengan rambut keriwil, seperti gadis Turki. Saat niat itu diutarakan padaku, kalian pikir apa yang harus kulakukan sebagai suami?

(Lazarus membanting kursi hingga hancur)

Lazarus 1:
Aku hanya bisa membanting sebuah kursi hingga hancur. Kalian pikir Elena terkejut? Perempuan itu bernyanyi dan aku hanya bisa menangis.

Lazarus2:
Tempatmu di hatiku Lazarus, kata Elena membujukku. Jangan goyah atas pengakuanku ini. Beribu-ribu lelaki boleh mampir ke selangkanganku, tapi mereka tak akan sampai ke hatiku.
Mendengar suaranya yang lembut aku hanya bisa memeluk kaki istriku itu. Lalu dengan mesra ia mencumbu mulutku, lalu mengajakku bernyanyi. Lalu kami pergi berncinta dengan cara paling liar lagi.

(Setelah Lazarus dan Elena pergi)

Lazarus 3:
Harus kujelaskan di sini, sejak diusir oleh kedua orang tuanya dari rumah mereka di kota P, Elena masih remaja. Lalu ia masih sempat menyelesaikan pendidikan SMA di Kota M atas bantuan saudara perempuan ayahnya. Ia pun sempat kuliah beberapa semester di Fakultas Ekonomi di sebuah universitas di kota itu sembari nyambi jadi wanita panggilan. Kemudian aku bertemu dengannya di sebuah Pub untuk pertama kali. Saat keadaannya sangat terpuruk ditinggal pergi kekasihnya dengan janin dua bulan dalam rahimnya, aku merawatnya dengan baik. Tapi kemudian Elena keguguran. Awalnya kami menjalin persahabatan saja seperti biasa. Tapi aku jatuh cinta pada Elena, di saat perempuan itu terlanjur tak percaya dengan kata cinta. Kami kemudian hidup bersama di rumah peninggalan orang tuaku. Tak lama kemudian kami menikah. Begitulah ikwal hubunganku dengan Elena.

Lazarus 1:
Pada bagian lakon semacam itu, waktu tak akan berhenti. Semua akan berlalu begitu saja. Andaikata aku mau, aku bisa menceraikan Elena dan menikahi Amadea, gadis murni Asia dengan mata indah mongoloid, perempuan yang memberiku sebuah vespa. Yang siap mengikhlaskan vaginanya disetubuhi untuk pertama-tama. Karena bagi Amadea, aku patut mendapatkan yang suci. Dan dia tak akan menyesal, karena dia jatuh cinta padaku, pada airmataku yang jelang kering ini. Tapi aku tak mau melukai Amadea. Aku tak mau menodai jiwa suci perempuan itu. Aku tak mau pocinya retak hanya oleh pangilan hasrat mesum.

Lazarus 2:
Dan sejatinya, aku tak mau membandingkan Elena dan Amadea. Karena semua perempuan punya sisi terhormat yang tak patut ditanding-tandingkan, bahkan di saat nasib mereka paling buruk. Dunia mereka semacam pulchritudo adhaerens. Sebuah keindahan yang terkonsep, sejak Tuhan mendongengkan sebuah rusuk lelaki diukir menjadi perempuan. Dan sejatinya kejahatan adalah patriarki yang menempatkan perempuan ke dalam sisi gelap kebudayaan manusia. Dan mula-mula dosa paling buas berawal dari jiwa lelaki yang selalu ingin merusak keindahan natural perempuan. Itu yang dialami Elena. Dan aku tak mau hal yang sama terjadi pada Amadea. Aku tak mau Amadea membiarkan pocinya retak. Sebab tak sedikit wanita baik hidup dalam rumah tangga dengan perasaan tanpa kehormatan di mata suaminya karena itu. Mereka menderita secara diam-diam sepanjang hidup.

(Suasana berubah)

Lazarus 3:
Hari itu, seperti waktu-waktu sebelumnya. Pada saat paling galau, aku datang menemui Amadea, seperti kanak-kanak datang kepada ibu. Amadea akan menyuguhkan kopi tanpa gula dan sebungkus rokok berwarna hijau. Aku akan memberikan kecupan di keningnya, dan Amadea merasakan klitorisnya berdenyut.

(Begitu hari itu. Lazarus duduk di sebuah kursi, membaun bau kopi yang menguar dari atas meja di sampingnya, dan Amadea duduk di tepi ranjang. Ada lagu dangdut menelusup pelan dari rumah tetangga. Suasana semacam itu biasa di Kota M. Kejadian berikutnya adalah pertengkaran mulut antar tentangga karena perselingkuhan. Lalu, hura-hura anak-anak muda yang mabuk. Lalu bunyi beduk, bunyi lonceng, dan bising knalpot motor.)

Lazarus:
Apa yang kau tulis belakangan ini?

(Lazarus menyalakan rokoknya dengan pemantik murah. Dari luar terdengar derum mobil dengan toa yang meneriakan besi tua lewat.)

Amadea:
Aku menulis Gehlour. Sebuah desa yang tak sekadar desa, tapi menyerupai puisi. Kata-kata tak dapat dibekukan di sana dan jiwa tak mungkin binasa saat orang-orang menemukan Manjhi pada terik dunia. Bebukit menyemburkan debu ke wajahnya, kisahnya tercecer dari halaman sejarah. Dan aku ingin mengisahkannya sebagai jelmaan beribu-ribu makna.

Lazarus 1:
Suaranya Amadea lembut, dan Tuhan yang kami yakini mendengarkan setiap ucapannya. Kacantikannya murni, dan wajahnya putih gardenia. Ia penulis yang tak biasa. Dan yang luar biasa darinya adalah perasaannya yang halus, semacam perasaan katak yang bisa merasakan hujan akan segera tiba. Amadea hidup dengan warisan orang tua. Warisan yang banyak, bahkan punya perkebunan kelapa dan cengkeh berhektar-hektar. Ia punya rumah mewah dan mobil. Ia sarjana sastra yang memilih jadi penulis sambil menjalankan usaha.

Amadea:
Lelaki miskin itu, selain tangan dan sisa usia letih, satu-satu harta yang ia punya hanya cinta. Selagi hidup apa lebih mulia bila tak berbagi miliknya. Maka dibongkar bebatu mencangkung di bukit yang memagar desanya, dirapihkannya tebing-tebing lancip. Manjhi ingin memberi orang lain sebuah jalan agar bisa bepergian menuju rumah sakit di kota. Kekasih-kekasihnya jangan sampai mati karena tidak dirawat, jangan sampai beku oleh mimpi di desa terisolir itu. Di Gehlour, dari dua puluh dua tahun yang gila, orang-orang menemukan Manjhi pada debu beterbangan, pada ruas jalan dibangunnya sendiri hingga mati, pada sejarah mulia dari kebaikan hati sejati. Dan di abad-abad terus berganti, Manjhi, lelaki miskin itu tak lagi kehilangan orang yang ia cintai. Kekasihku jangan sampai diempas sedih karena kematian, ucapnya. Bersedihlah karena kehidupan. Karena kehidupan punya sebuah alasan. Kehidupan punya sebuah tujuan nyata, kendati usia adalah anak tangga cahaya selalu terentang meski tak ada catatan utuh di sana. Selalu ada sisi somplak terhampar serak bersama debu-debu puitis. Justru dari rengkahannya kemanusiaan menemukan jalan indahnya.

Lazarus:
Manusia adalah pengembara menyusur padang bebas kehidupan di bawah lampu abad menari-nari hingga rambutmu berkibar merayakan angin, dan wanginya mengelanai ujung-ujung bumi. Karena tempat terindah hanya berada di ruang tersunyi. Tahukah kamu Amadea, oleh karena cinta kita dibangkitkan. Dan seseorang yang dibangkitkan tak terbuat dari hal-hal biasa. Ia adalah cahaya bagi hati disekap kegelapan. Ia membangun jalan agar yang sesat bertemu kebenaran. Lalu ia mengalir begitu saja dalam petualangan akan dilewatinya sebagai epitaf tanpa makam. Begitulah di sebuah ruang tanpa cahaya setiap orang harus mengikuti hati nuraninya. Karena setiap kepingan kesunyian memiliki sejarah dan bentuk. Pabila di balik jendela hujan menari, ingatlah bahwa kenangan terbaik pun bisa lepuh oleh waktu.

Amadea:
Di Gehlour atau di tempat-tempat terasing di muka bumi, seperti peniup gelembung, kehidupan kadang pecah dilanggar angin, kendati ia tak merintang siapa pun. Sebagaimana ombak, kita semua tak lebih Manjhi sang penyeduh ketiadaan. Dan tak ada jalan tanpa retakan. Pergi ke mana pun tujuan kita, hidup menyuguhkan beribu pengalaman, beribu keluh kesah. Pilihan hanya terus melangkah atau mengalah.

Lazarus:
Pada sebuah rumah, cinta adalah jam tua. Syafaat yang mendetak, terus menganyam teka-teki, senyawa abadi di buku para nabi. Dan kendati sebelum lahir, kematian telah lebih dulu ada di tikung khilaf sejak Manjhi mengikhlaskan lengan tuanya. Cinta satu-satunya yang menaklukannya meski cinta paling puitis justru berada dalam khianat yang belati. Disaat paling letih semacam itu, sebagaimana Tuhan tergugu terpalang di tengah bisu, ada yang keluar dari dalam diri, menyembul begitu saja dari keheningan tubuh, dari keheningan pikiran. Menyembul dengan beberapa tangkai daun. Rerantingnya begitu kuat menarik semuanya berjalan ke suatu arah, seakan dapat meringkas hidup dalam beberapa potong kata. Aku tak tahu apakah itu harum tubuhmu penuh gairah merayapiku, mengangakan birahi keindahan hingga aku tiba pada ketidaktahuan sempurna menggelora seperti gelombang api pada bangku tua dipenuhi puing doa dan dosa. Yang kutahu hanya dia yang penuh cinta dan luka itu menyentuhku, mendapatkan seluruh perasaanku. Aku tak akan menari sendiri meski satu-satunya sahabatku adalah dia, kesunyian itu. Aku menghaluskannya dalam kepulan asap rokok melewati hari demi hari bersamanya sebagai cinta tak pernah mengucapkan kata cinta, tetapi meneteskan darah untuk hatiku. Lalu pada setiap pagi memulai hidup baru dalam pengulangan yang sama bersamanya. Harus kujalani dengan cara yang indah, bahkan sangat indah saat memikirkannya.

(Amadea melucuti semua pakaiannya.)

Amadea:
Lihatlah tubuhku.

Lazarus 2:
Amadea begitu berani dan pasrah. Aku memandang tubuh Amadea, seperti membayangkan Cimborazo yang tak pernah aku jelajah.

Lazarus:
Tuhan yang memahat tubuhmu. Tapi aku tak pantas untuk ini! Karena dia memilihku untuk segala yang mengulang ini. Hanya padanya kuutarakan impian dan harapanku meski tak ada suatu hari untuk itu, karena impian tak butuh kata-kata. Ia hanya ingin bersama menaru tangan ke bahuku.

Lazarus 3:
Aku menatap bulu halus yang tertata seperti jalan gerimis di paha Amadea. Sedetik kemudian aku berpikir, dunia macam apa memelukku seperti ini. Aku berdiri tegak dan melihat kecantikannya melintasi jalanan lalu berbelok. cahaya tetap di sana mendahului kakinya, mendahului cara aku berpikir. Ia duduk di bawah pohon saat aku tertidur, dan saat aku terjaga, ia telah menerangi danau, membelai pepohon. Ia berkata: untuk jatuh cinta jangan pikirkan uang, karena hidup sudah terlalu rumit untuk dipikirkan. Dan ia memberiku vespa agar bisa leluasa bepergian. Tapi untuk pergi ke tubuhnya, aku tak kuasa!

Amadea:
Di atas kereta usia selalu terpecah belah ini, ada keterkaitan indah antara hujan, cinta, kelam
dan sebatang arang dari kayu kau nyalakan. Kelak di suatu pagi tak kau lihat lagi, namun dilemparkan oleh dunia kepadaku seperti bilangan-bilangan nafas memperkuat lututku terus melangkah ke tapal-tapal jawaban dari segala yang menyembul ini. Begitulah momen sempurna aku berjalan di atas jejakmu, tak mau menata ulang segala yang berlalu. Bagaimana bila Tuhan menginkan aku berlari menuju engkau. Bagaimana bila hari selalu menyiapkan jalan untuk kita bertemu. Bagaimana bila hujan menyisipkan sarinya untuk air mata kita menyatu. Bagaimana bila sepi adalah cara waktu membentuk kita berpadu. bagaimana?

Lazarus 1:
Sebuah kalimat klise yang menggoda, dan Amadea berharap aku terangsang oleh kata-katanya.

Lazarus:
Sebagaimana Manjhi, lelaki itu aku! Seseorang yang melintasi tirai putih dan percikan cahaya pada jendela menuju wajah dan ciuman yang jeda. Orang-orang yang tak pernah menemukan makamnya, karena kitab suci hanya menulis kebangkitannya, lalu ia mengalir begitu saja sebagai epitaf tanpa makam. Sebagaimana Manjhi, aku bersendagurau dengan kesunyian di suatu hari saat burung-burung camar memandangnya di atas kemegahan jejak laut sejak moyang dan saat segala yang rumit telah disederhanakan lewat cerita pengantar tidur. Sebab antara bakat dan keheningan hati, aku tahu aku tak punya apa-apa. Begitulah aku sebagai Lazarus, sebagai manjhi. Saat lahir aku menangis, aku bahkan nyaris tak mampu memberi makan mulut seorang anak, tak mampu menjaga istri tersenyum bila ke pasar. Puisi-puisiku semacam pasir di bawah tapak seseorang. Yang kupunya hanya cinta sejati, tangan dan sisa usia yang mulai letih.

Amadea:
Berapa usiamu?

Lazarus:
Aku tak menghitungnya. Karena berapa pun umur kita, kecerdasan kita tak mampu melawan khianat tubuh. Yang mati tua dan mati muda bukan persoalan usia, semata-mata tubuh yang berkhianat pada kesadaran kita akan hidup itu.

Amadea:
Cinta bagimu seakan gumpalan kecil dari semesta menyalakan cahaya. Darinya aku bisa menengok orang-orang menjalani hidup. Sebuah mosaik tak pernah menjadi kebetulan. Kata-kata menari di ruang pertarungan tanpa ampun. Dan aku seperti seseorang yang menelan muntahan dari sebuah batang tangisan kekal, jauh terpacak dalam sejak akar seorang manusia. Ini sebabnya bagimu setiap kali engkau tersesat bersamaku kau hanya tersenyum dan berkata, aku telah meninggalkanmu di sebuah rumah yang seluruh isinya diterangi doa.

Lazarus 2:
Gadis itu kemudian berdiri di hadapanku.

Amadea:
Akankah kau memilih yang mustahil ini? Sebuah cerita tidak beruntung. Siapa yang ingin seperti itu? Bahkan air mata tak bisa mengubahnya.

Lazarus 3:
Begitu ia bicara dengan kata paling menantang, seiring lubang uretra dan labia minora yang bergetar.

Lazarus:
Demikianlah cara dunia berjalan Amadea. Demikian cara cinta bekerja. Bukankah di atas mesbah cinta paling suci, bahkan sang kematian bisa berurai air mata. Karena hal tersulit dalam hidupku ini adalah melepaskan Elena.

Amadea:
Mengapa hanya ada Elena di hatimu.

Lazarus:
Aku juga bertanya seperti itu.

Lazarus 1:
Amadea meneteskan air mata, menyembunyikan hasrat yang membuai, seperti tikus yang ingin mencuri di lumbung padi.

Amadea:
Kau meringkuk seperti orang mati. Dan kau selalu dibangunkan ke dalam ruang kosong itu.

Lazarus 2:
Amadea pergi membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia telentang sebagai perawan, dan Tuhan memalingkan muka.

Lazarus:
Hanya itu hal berharga yang kupunya sebagai penyair. Begitulah aku dilontarkan ke arena kepelikan. Dan aku harus datang memberi tahu siapa dirimu, hingga kau punya cerita untuk dikisahkan pada malam hari kepada anak-anakmu, agar mereka bertemu kehidupan yang diimpikan. Tahukah kamu Amadea, seperti juga menarik pelatuk, ada beberapa tangan tak disiapkan untuk menulis.

(Lazarus mematikan rokoknya pada sebuah asbak. Udara malam menyelinap lewat jendela kamar. Musik dangdut telah berganti gaduh suara game online. Lazarus berdiri dari kursi yang sedari tadi ia duduk. Ia membuka celana dan bajunya. Ia menunjukan tubuhnya yang tak perkasa, dengan penis dua belas centimeter yang mulai tua, namun telah meruncing. Memandang itu, Amadea mendengus.)

Lazarus:
Inilah tubuhku. Apa yang kau harapkan dari tubuh yang tak lagi muda.

(Amadea terus menatap Lazarus, dengan gairah yang mendidi.)

Amadea:
Tusukan padaku.

Lazarus:
Tidak!

Amadea:
Tusukan padaku!

Lazarus:
Tidak!

Amadea:
Tusukan Lazarus!

(Dalam erangan Amadea yang membahana itu, Lazarus dengan gagah beronani sambil membaca puisi.)

Lazarus:
Aku ingin berdiri di sini, Amadea
Dan berteriak sekeraskerasnya, sebab:
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Kota adalah ibu tak bernyawa
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Negara adalah tempat ibu tergeletak
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Kekuasaan adalah makam ibu yang kesepian
Wujud
kematian
abadi
dari sebuah akal sehat

Aku ingin berdiri di sini
Dan berteriak sekeraskerasnya, atau:
aku harus diam terpaku
Membiarkan katakataku tenggelam ke dasar bisu
Menukar khayalanku
Tidurtiduran di atas sofa kenyamanan
Memplototi tontonan sebuah bangsa sedang runtuh
di atas bahu para pemimpin tengik itu
lantas gusar seperti anjing dirantai di tengah hura hara
sekadar menggonggong dan memekik
di tengah gempuran virion, retorika dan dusta
dari sebuah akal sehat yang hampa
Tidak!

Aku harus berdiri di sini
Dan berteriak sekeraskerasnya karena:
Kebijaksanaan paling tua
Adalah catatan lepas
tak berayah ibu
Kesempurnaan adalah api
Kecerdasan adalah air
Duka cita adalah tanah
Kehidupan adalah kemungkinan
Dari menjadi
tak menjadi
dan entah
andaikata lembing tertancap
adalah benih luka tua
tak terhindarkan
andaikata matahari akan berhenti
dan bulan turun padam
akulah tanah yang bernyanyi
Karena benih itu telah kembali
Untuk mengulang segala
telah ia bawah pergi

Aku Lazarus
Aku tak mau meminjam katakata orang ketiga
Untuk menyenangkanmu
Membuat engkau yakin
Aku tak mau dipaksa mimiliki akar
pada bukubuku panduan
Pada filsafat, pada etika
Sementara sejak aku lahir
hingga berdiri di sini
Aku tak kekurangan katakataku sendiri
Seperti jerit ngiau kucing liar
Mendermakan cinta kepada kekasihnya di malam hari.

(Sperma Lazarus terpancar. Amadea menjerit. Vaginanya basah. Keduanya terengah-engah.)

Lazarus 3:
Kalian pikir bagian ini menarik. Tidak! Aku Lazarus, seseorang yang disebut Pizarnik sebagai sosok yang melintas sendiri dalam suatu gelombang El Bosco di mana ada banyak pasangan telanjang berbaring dalam dunia yang begitu halus, yang hanya karena keajaiban sehingga tidak memecah di setiap saat.

(Lazarus duduk di tepi ranjang Amadea, ia menciumi perempuan yang kecantikannya masih mawar segar yang baru mekar.)

Amadea:
Aku puas meski ini hanya persetubuhan imajinir paling sial.

(Lazarus, lalu tidur di samping Amadea. Keduanya berpelukan dan terlelap untuk hari mereka yang tanpa mimpi ini.)

Lazarus 123:
(Bernyanyi)
Saat manusia dibangkitkan dalam kesadarannya bahwa harta dan kekuasaan tak memuaskan, ketenaran dan puncak karir tak lebih ilusi dangkal, apalagi yang menarik di dunia ini selain cinta. Saat aku berdiri di sana, di hadapanmu, harusnya aku menyeringai menunjukan keliaranku, dan… sejujurnya aku ingin bercinta denganmu Amadea. Tak akan kubiarkan seseorang merampas ini dariku, karena aku tokoh dalam hidupku, bukan sosok dibentuk dari sel-sel pikiran orang ketiga yang tak kukenal, yang asing, yang selalu dipaksakan membentuk diriku. Aku ingin berdiri di sana dan berteriak sekeras-kerasnya, aku Lazarus! Aku tumbuh dari remah-remah kematian sejarah. Fiksi dan berhala-berhala ilmu bahkan agama. Aku hidup dengan pemberotakan imajinasi paling liar. Namun aku Lazarus yang sejujurnya mengasihimu. Menyayangimu adalah menyayangi keheningan yang selalu ingin kucumbu.

Lazarus 1:
Kalian pikir apa yang terjadi mendekati pagi? Amadea terjaga. Ia merasakan kembali tubuhku yang telanjang di sampingnya. Ia membangunkan aku saat hasrat libidinalnya tak tertahankan. Ia ingin persetubuhan imajinir itu lagi.

Amadea:
Lazarus bangunlah. Bacakan aku puisi, aku ingin masturbasi.

Lazarus 2:
Bunyi nafas Amadea mulai berpacu. Akus tak mau mengecewakannya. Aku bangun mengucapkan puisi, sambil menegak air putih, sambil memantik rokok, sambil menggiring gairah Amadea yang berkobar-kobar. Aku sublime seperti lelaki dalam gambaran Pirzanik, sosok yang melintas sendiri dalam suatu gelombang El Bosco. Aku berapi-api dengan puisi, dan Amadea melayang-layang seiring leguhannya.

Lazarus:
Bermingguminggu di udara pongah
Di kota kelabu dihuni pemimpinpemimpin tengik
Kaum yang mengira harta dan kekuasaan
adalah sumber kehormatan harus direbut sepanjang hidup
Aku telah dibangkitkan
Persis di tepian hukum alam
Di ruangruang dipenuhi kepanikan massal
Di mana segala yang tak diucap
Terus mengulang
Yang tak dipikir
Datang pergi
Dari retak ke retak
Tertunduk masygul tanpa harapan
Oleh karena tujuan hidup telah menjadi dangkal
Dan malam mendesis bagai ular
Imaji matang menjelma sepasang tangan
Bergandengan dan bersamasama saling meraih
Dan pagi membersit dalam pemandangan aneh
Lebih indah, dan terus menghadirkan indah
benarbenar indah
Bahkan sekadar untuk setegukan kopi
Lalu kita bersepakat menyukai hujan
Dalam sebuah pertukaran air mata
Saat saling menyeret tubuh kita masingmasing
penuh hasrat, saling memuaskan

—Aku bingung dan bertanya-tanya
mengapa Tuhan menciptakan penyair dengan nasib seburuk itu
Seseorang yang melewati jam malam dengan kesepian
seakan berjalan ke jalur kematian,
lalu lenyap sepenuhnya
Saat ia mulai menulis, ia menjadi seseorang yang tiada
tak nyata.
Penyair itu Lazarus. Kamu juga Lazarus.
Kita semua lahir dari sepasang birahi yang aneh
Lalu hidup. Lalu mati
Hidup dan kembali mati—

Amadea
Amadea
Bongkarlah lebih dalam perasaanmu
Hingga melesat seakan uap dari dalam bumi yang berjuang menjadi awan
di tengah abad ketika peradaban bagai akar
menyerap tetes demi tetes hujan
Untuk kebahagiaan pucukpucuk ranting
Yang mengikhlaskan seluruh getahnya menjadi bunga
Menjadi buah lalu rentah, patah
Dan sepanjang hidup aku belajar cakap mendengarmu
Amadea
di usia setua ini terasa klise mencium bibirmu
Bahkan Tuhan menggambar pada dinding
dua ekor burung berwarna suram
menyusuri takdir di garisgaris retak
dan engkau terbangun di atas kasur berwarna abu
berselonjor seperti cacing ke liang hitam yang lain

Aku ingin berdiri di sini
Dan berteriak sekeraskerasnya: Wahai…
Engkau yang pernah bertemu waktu
Dan mengalahkannya
Saat dentangnya menangis
Kau persembahkan jantungmu
Tapi siapa yang bisa bersahabat dengan waktu
Di mana tempat menyenangkan itu
Selain pada ciumanmu Amadea, sebab:
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Kota adalah ibu tak bernyawa
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Negara adalah tempat ibu tergeletak
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Kekuasaan adalah makam ibu yang kesepian

Hari itu begitu terik
Amadea adalah sebuah tarian bayang perempuan di atas panggung
Seakan sebuah drama berlangsung di tempat serba dimensi
Ada sebuah sumur imaji
Lampu-lampu mengantung di berbagai sisi
Tempat itu seperti mengambang
Saat Amadea bernyanyi
Ada gemuruh suara orang-orang bersedih
memanggil Lazarus dari dalam sumur
Sang Pemburu mengarahkan senjatanya ke Lazarus lalu menembak
Lazarus terkulai
Lampu mendadak padam

Ya Tuhan, mengapa engkau tinggalkan aku!

Saat lampu kembali menyala
Lazarus tampak tengah terbaring lelap di pangkuan Amadea
di dekat Sumur Imaji

Apa yang dapat dilakukan penyair
selain menguap, begitu saja
Tak ada yang akan datang mengetuk pintu kesepiannya
sebentuk hidup tak pernah menjadi nyata
sosok tak memiliki tanah benarbenar tanah
daratan benarbenar daratan. Selain bayangan suram
berulangulang memberi nyawa pada kata
sebagai perjuangan suci ditakdirkan untuknya
Bahkan untuk cinta tak pernah memeluknya”.

Lazarus 3:
Amadea menjerit seperti kucing dalam percintaan di jelang pagi. Aku memeluknya, dan kami menangis bahagia.

Amadea:
Sudah kuberikan diriku pada alam, pada gelombang besar menebas, pada keindahan, pada kecantikan yang tak punya ucapan penghinaan, pada kekasihku yang mengisap seluruh tubuhku ke dalam ilusinya, dan cinta penuh api pada sepasang air mata. Dengan begitu aku merasa tak sepenuhnya sendirian.

(Lazarus mengecup keningn Amadea. Dan mereka menjadikan hari itu, entah kapan.)

***

Lazarus 1:
Di atas sebuah panggung pertunjukan lakon “Bunga Violet dan Renungan Senjakala”, aku menjadikan kehidupan Amadea sebagai inspirasi. Bagian pertunjukan itu dimulai di sebuah kamar dengan perempuan yang menari. Ia menari mengikuti denting reranting di tengah angin. Ia menari menyusuri suara-suara hidup yang ajaib. Tak saja dengan tubuh, jiwanya ikut menari. Ia gelombang dan kuda betina, gairah yang menerbitkan matahari di malam hari. Ia bebunga dan taman hidup dipenuhi gerak. Ia menari di ratusan bahkan ribuan panggung. Di hadapan ribuan mata riang dan terhibur.

Amadea:
Sebagaimana dosa tak menjadi noda bagi mereka yang berada di hari yang salah, di abad lain biarlah kita mengenangnya sebagai penari. Kau tahu, bagaimana pedihnya orang yang hidup menjalani peran sebagai orang mati. Tanpa harapan. Tanpa keinginan. Kecuali, menjalani sesuatu dan mengambil resiko. Namun tujuan selalu punya pikirannya sendiri.

(Tak jauh dari Amadea, Lazarus berdiri di dekat tali gantungan. Ia mau bunuh diri.)

Lazarus:
Kekasihku, saat aku mulai menulis, aku berharap rokok terakhir tak habis. Aku kian sulit beradaptasi, dan belakangan hari-hariku agak berat. Kau tahu aku seperti seorang penunggu di taman kecil dengan pemandangan pohon belimbing, daunnya yang kuning kadang jatuh tertiup angin. Aku pernah menghitung setiap kali ia jatuh, menghitung rahasia terus mengulang itu. Lalu aku tiba di sebuah hari yang salah, aku merasa terperangkap seperti sisifus. Sementara kadangkala upacara peringatan orang mati di sini telah menjadi pesta basa-basi. Orang-orang hanya pura-pura menangis, tapi tak ada yang menyesalkan seseorang telah pergi. Ikhlaskan aku bunuh diri kekasihku.

Amadea:
Dulu kita banyak berbincang tentang kesekejapan hidup, seksualitas, spiritualitas dan tragedy nihilistic. Kadang kita bertanya, bagaimana mungkin Ikarus punya gagasan, harapan dan impian setragis itu. Ia ingin mencapai matahari dengan sayap yang bulunya hanya direkatkan dengan lilin. Apabila hidup adalah dolanan di tangan para dewa, bukankah ruang antara hidup dan mati tak lebih kebenaran palsu yang tak patut dirayakan. Sambil menikmati kopi dan gorengan di tengah udara malam penuh rahasia kita kemudian menyimpulkan segala gerah hati dalam teologi, lalu penari lain mengisi panggung mengunjungi kamar-kamar sumpek kita. Mereka mengulang detakan-detakan indah dalam jiwa kita yang buaya. Mereka seperti penjinak kemurungan, seperti bebungaan liar di pinggir jalan hutan yang entah untuk apa mereka mekar. Atau benarkah setelah hidup tak ada tempat melarikan diri, kecuali menjalani. Kendati tak semua keinginan akan terwujud, kita harus menerima dengan lapang data.

Lazarus:
Lihatlah, bagaimana pun daunan akan gugur meski dulu kita gigih membuatnya abadi. Dalam beriburibu catatan, dalam beriburibu hari. Selamat tinggal kekasihku.

(Sang Lelaki kemudian gantung diri. Ada gelegar guntur dan sambaran kilat. Muncul para malaikat bernyanyi. Amadea menangis dan membacakan puisi:

Amadea:
Harusnya kau ingat Oslo
Kota Christiania dalam novel Knut Hamsun
Dulu kau mengisahkannya padaku
saat uap asin tertiup dari lautan Pasifik
Pohonpohon kelapa bergetar terdorong ke belakang
Menandahkan kita pemilik negeri laut
Dengan pulaupulau yang harusnya jadi berkah
Namun sungguh betapa pedih perbudakan kehidupan
Saat manusia dianggap gema kosong sebuah suara
Sekali waktu dari satu kota di Afrika kau menelpon rindu
makan gorengan pisang goroho bersama
seperti masa muda
Di saat lain, dari hutan Kalimantan kau membacakan
sajaksajak tentang manusia sederhana
Yang belajar pada kesekejapan hidup kupukupu
untuk mengindahkan dunia
Di lain hari kau narasikan novelnovel Eropa
Tentang sungai Saine yang menakjubkan sebagai muara para petualang
Juga kisah manusia nan saleh menapaki hidup sebagai anugerah
dalam perumpamaan hosti dan tubuh Kristus
tercabik dalam kelaparan dunia
Pernahkah kau melihat bunga berwarna violet lelakiku?
Baiklah aku akan bercerita:
–Sembari meneteskan air mata
Seorang perempuan mencium setangkai bunga berwarna violet
Ada semacam kesedihan dan kegelapan
Kendati ia masih sangat muda dan cantik
Adakah ide lebih ceria untuknya?
Tapi kau memilih bunuh diri.

Lazarus 2:
Baru sampai di bagian itu, aku roboh pingsan. Aku tak mampu menahan kesedihan. Pertunjukan dihentikan. Amadea memelukku. Sesaat kemudian, aku terjaga dalam pelukan Amadea.

(Suasana berganti)

Lazarus:
Berkali-kali kau mampir ke rumahku membawa apel, roti dan segepok uang untuk penerbitan buku. Kau tahu Amadea, kadang aku berpikir ketika Engels menyantuni Marx, ayah dan ibuku benar, puisi tak memberi penyair sekilo beras.

Amadea:
Aku merasa dengan puisi semua bisa dihidupkan kembali, bahwa hidup mengalir lewat kata-kata dan diksi adalah kata-kata terpilih, kata-kata yang kita cintai. Kata-kata yang membuat segala bisa tumbuh, bergerak dan terus berlangsung, bahwa hidup tak sekadar sesuatu dipinjamkan waktu. Kita tak boleh menyerah, tak boleh duduk dan menunggu waktu memercikkan belaskasihannya. Dengan kata kita bertindak dan mengubah. Seperti bunga hutan dan penari, mekar mengikuti koreografi walau tujuan selalu punya pikirannya sendiri.

(Panggung kembali sepi.)

***

Lazarus 3:
Dalam kamar di rumah tua warisan ayah dan ibu, tak ada barang mahal satu pun. Hanya ranjang kayu yang nampak mulai lapuk beralas boslak murah yang ditutupi sprei abu-abu. Ada bantal kepala dan bantal guling yang berisi kapuk. Sebuah mejah kayu yang cukup lebar, di atasnya ada beragam buku tersusun, sebuah laptop, dan mok kopi berwarna perak. Ada dua kursi kayu, yang bila diduduki akan berderit, pakunya mulai longgar. Yang berharga adalah apa yang disebut kawan-kawannya sebagai eden untuk kamar ini, tempat pikiran jernih ditetaskan. Namun bagiku, tempat ini adalah sebuah ruang merenungi dosa dan Elena. Di ruang ini pula penyair menjadi seseorang yang menyalin wahyu Tuhan dalam kata-kata. Aku dulu pernah bermimpi menjadi filsuf, itu sebabnya aku mengambil kuliah jurusan filsafat di sebuah universitas di kota J. Kendati sudah semester depalan, aku tak pernah menyelesaikan pendidikan itu. aku telah berpaling pada sastra dan teater. aku tergila-gila dengan apa yang disebut sebagai wahyu itu. Sesuatu yang selalu datang padaku sebagai sang tamu imajinir. Sesuatu yang selalu tiba di waktu paling meresahkan bersama seorang yang kusebut sebagai Sang Narator.

(Narator muncul)

Narator:
Itulah aku. Saat aku muncul, Lazarus bergegas menuliskan ucapanku: Barang siapa membaca syair Alfanun di Mojorca, mereka adalah orang-orang yang mencintai hidup. Tulis dan lafalkan!

Lazarus:
Dalam selimut hujan malam
sang dalang memacak jam dari kayu palang
ia menghitung waktu kematian

Narator:
laut berwarna tosca
bulan menangis
di kegelapan

Lazarus:

sungguh perawan hati perempuan
keperawanan ini hanya dimengerti Tuhan

Narator:
tiga puluh lima menit seakan batas tanpa batas
Elena membawa bekas senggamaku ke kota
sebuah kota bau sperma dilanda banjir nanah

Lazarus:
–kami samasama terjebak cinta dan amarah:
Saat tanah airku kau belah!

namun aku hanya kelinci di meja juri
tak berdaya menilai harihari keji

Narator:
bilamana laut itu bergelora
dan angin merobek dinding
waktu mana batas itu menempatkan seseorang
sebagai —yang mulia—
kemuliaan hanya untuk mereka yang merana

Lazarus:
di sanalah dalang memiringkan jam, narasi dan malam
hari itu semua kita penyaksi
nyanyian angsa kembali mati
sebagai cinta di ludah kita kenduri”

(Ada bunyi guntur mengoyak hening malam, kilat melesat di luar jendela. Lazarus kemudian berjalan menuju mesin ketik di atas meja dan mulai mengetik sebuah kisah.)

Narator:
Begitulah penyair akan memantik rokoknya, merayakan kelahiran puisi dalam keheningan. Segelas kopi tanpa gula telah dingin, diserupnya. Ia kemudian berkesimpulan: Manusia tak bisa memilih lahir, namun yang lahir hanya sejatinya yang terpilih. Begitu juga asal usul segala sesuatu sangatlah indah, dan tak ada pilihan bila setiap kali kita memulai dari awal lagi. Ulangi saja sebelum waktu berbaring diam dan makhluk-makhluk kecil berhenti berdenging. Ia kemudian jadi ingat Elena.

Elena:
Aku Elena! Perempuan yang selalu kau ingat Lazarus! Perempuan yang tidak punya kampung halaman. Apa yang dirindukan selain cinta, karena ia anak tunggal kebenaran, anak kudus kebaikan. Pabila di atas menara para malaikat bernyanyi, sebuah malam akan menjadi menyenangkan. Berilah seluruh cinta dikecupkan ke dahi, karena cintalah petanda engkau manusia, bahkan alasan engkau hidup.

Narator:
Itu ucapan Elena. Seperti nubuat yang membuat Lazarus mempertimbangkan lagi keputusannya saat ia sudah merasa dekat dengan Amadea. Keberangkatan Elena ke Singapura, telah menjadi jeda yang berbahaya bagi hubungannya dengan perempuan suci itu, ya… Amadea yang perawan.

Kini Elena mengajak Lazarus pindah ke kota J dengan alasan ada kontrak pekerjaan dengan penghasilan lebih menjanjikan untuknya. Lazarus sebenarnya tak ingin lagi ke kota J. Ia lama tinggal di kota itu sepanjang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Bahkan ia sempat bekerja serabutan di beberapa tempat. Bagi Lazarus, kota J digambarkannya sebagai ibu yang membiarkan anak-anak meletus seperti balon saat tertusuk jarum.

Saat menerima telepon Elena, Lazarus sedang menulis sebuah drama berjudul: “Mojorca”. Drama itu sejatinya sebuah gambaran pedih dari hubungannya dengan Elena. Sepasang manusia yang masing-masing punya senjata yang siap ditembakan. Pasangan kekasih yang berpeluang saling membunuh.

Ia menulis di mojorca seorang lelaki berkuda menuju Eulalia, ia ingin bertemu cinta yang berdoa di bawah kubah suci antara yang fana dan yang abadi. Namun dijumpainya hanya payudara luka, dan vagina berlumur leci.

Elena:
(Mengancam dengan pestol.)
Cinta hanya memiliki kekuatan jika engkau percaya padanya. di sebuah dunia dipenuhi ketidakpuasan dan kesombongan, yang kau dapati hanya kebenaran diucapkan seorang bodoh. Pabila engkau kecewa pada tajam duri, selamanya engkau tak punya mawar untuk kekasih. Bahwa sejak benih, sebatang pohon tahu ke arah mana ia tumbuh. Seekor burung tahu saat mana ia mengepakan sayap. Demikian kuucapkan cintaku padamu kehidupan. Demikian kuucapkan cintaku padamu kefanaan. Pada dasarnya setiap manusia benih terpilih. Dan rajawali tahu ke mana ia harus pergi. Sejak benih, cinta punya cara mengukir hidupnya. Jangan ucapkan apapun dalam ciuman. Turunlah ke kedalaman rahimnya, nyalanya yang biru akan memelukmu, mendekapmu bahkan di kegelapan.

Lazarus:
Di Eulalia, di ruang kudus ini tahukah kamu, tak ada pameran suara dan cahaya dalam cinta. Sekali lepas dari ujung jarimu yang tersisa hanya air mata di hari tua. Demikianlah cara dunia berjalan.

Elena:
Untuk itulah aku menunggu, sebab tak ada yang bisa memaksa untuk kau tiba, bahkan saat nafasku pergi menanggalkan diri. Tapi lihatlah bayanganmu, lihatlah rambutmu, sejumput rumput di udara terbuka itu tersenyum, menginspirasi semua di bumi diciptakan dengan tujuan. Sebagaimana dasar utama keajaiban adalah kebaikan, demikian manusia dilahirkan dengan dua kemampuan melakukan hal baik dan hal buruk. Pabila engkau melihat kebaikan, maka kebaikan melihatmu. Pabila engkau melakukan kejahatan, maka kejahatan melakukannya bagimu. Pergilah dan selalulah bergerak, karena pada sekuntum anggrek putih engkau bisa mempelajari rahasia dan cara alam berseri kendati ia berada di kecuraman tebing. Tahukah engkau antara senyuman dan amarah ada hubungan keseimbangan, sebagai dunia ajaib di mana seseorang harus mati sekali untuk bisa hidup lebih lama dari bunga matahari.

Lazarus:
(Meraih pestol miliknya dan menodongkannya ke Elena.)
Banyak hal muncul seiring usia. Matahari berbagi nubuatan setelah kegelapan dan pahlawan muncul di tengah kesulitan. Kenangan tak memiliki batas pandang, semuanya terkubur di dalam hati. Muncul dan tenggelam kembali. Begitu aku berlayar di arus dalam itu, satu yang ingin kudengarkan yaitu suaramu. Bahkan saat aku sudah kalah, dengan debu di udara akan kukirimkan kata-kata untukmu. Sebagaimana aku percaya kepada Tuhan, aku percaya pada kata-kata yang mengantar cahaya antar kehidupan. Wahai kebenaran intuitif, bernyanyilah untukku.

Elena:
Hatiku ingin mendengar engkau. Sebab, bagi siapa pun perindu bunga-bunga bermekaran, singkirkan tiang pancang dari tanganmu. Lucuti semua peluru dari pikiranmu. Karena peluru tak memilah yang memaki dan yang berdoa. Jadi, jangan biarkan dunia selalu basah olehnya, kendati kebenaran selalu berada di urutan terakhir untuk didengar.

(Terdengar letusan dua senjata itu. Kedua terkulai di akhir drama yang pedih ini.)

Narator:
Begitulah Lazarus menggambarkan oposisi binner dalam kehidupannya dengan Elena. Sebagai jiwa yang dibangkitkan untuk mati, Lazarus menumpahkan semua ide di kepala, memperbaiki indera, memberi makan jiwanya. Tak ada tempat untuk yang lain di dalam pikiran sejauh ini.
Hanya ada suara Elena yang ingin ia dengarkan. Karena saat berjalan di lembah kekelaman, ia tak akan takut bahaya bila bersama cintanya. Sebagai seseorang yang menangkap pesan keselamatan pada selembar daun, pada ucapan selangkangan bunga dalam lisutnya. Pada retaknya ia ingin hidup. Agar hidup tak semata sebuah kekecewaan dan sejarah tak semata serangkaian kesedihan dan kematian.

(Hujan kian menderas di luar sana.)

Bagian II: Hanya Sepotong Catatan Harian

Lazarus 1:
Di kota J, seks virtual sudah lama tak memuaskan lagi. Dan dunia ecek-ecek itu seakan mendapatkan tempatnya yang lebih mulia di panggung-panggung berkelas kaum sosialita. Begitulah Elena menerima tawaran sebuah agen seks undercover di kota itu. Sebuah kota urban yang digambarkan Plato, sebagai tempat orang-orang yang nampak bahagia, tetapi diri mereka kosong dan tidak pernah menemukan siapa diri mereka sebenarnya. Mereka tidak punya mimpi. Bahkan kematian datang lebih dulu bagi kaum bawah saat politik tak lagi dipandang sebagai respublika. Saat kaum miskin hidup berebut nasi di pagi hari, politisi berebut kelamin di malam hari. Sementara bagi orang kaya, persaingan bisnis dan aktivitas tinggi sehari-hari membuat mereka dibayangi anxiety disorder. Untuk menghindar stress berlebihan dalam tekanan kehidupan kota, mereka membutuhkan hiburan. Di sanalah hiburan seks menjadi salah satu pilihan mewah.

Lazarus 2:
Sejak kembali dari Singapura, Elena tidak pulang ke kota M. Ia langsung berangkat ke kota J menemui Misar, seorang lelaki yang menjadi agen bisnis seks undercover. Di sanalah Elena memulai kariernya sebagai aktor pertunjukan hubungan seks di atas panggung. Persetubuhan paling menggelitik itu ditonton kaum berduit secara eksklusif dengan bayaran yang lumayan mahal. Sebagai tontonan, ia melakoni hubungan seks dengan beberapa lelaki setiap kali tampil. Itu dilakukannya setiap akhir pekan. Di hari lain, Elena meladeni panggilan pribadi. Kabar itu menjadikan aku diselimuti kesengsaraan. Lelehan airmataku seakan sebuah pertunjukan yang tak pernah tamat, kecuali menerima sang tamu kematian yang menunggunya dengan sabar setiap hari di pintu kehidupannya.

Lazarus 3:
Beberapa bulan kemudian, Elena mendapatkan hak eksklusif hanya melayani Maximus, seorang pengusaha kaya. Misar dan Elena menyetujui kontrak dengan Maximus. Lelaki berusia lima puluh tiga tahun itu mengontrakan Elena sebuah apartemen yang bersebelahan dengan apartemen milik pribadinya. Hanya dalam beberapa waktu, Elena berhasil merampas perhatian Maximus. Bahkan lelaki yang penuh perhatian padanya itu memberi izin Elena mengajakku untuk tinggal di apartemen mewah yang dikotrakannya untuk Elena.

Narator:
Saat Elena memberitahukan rencana itu pada Lazarus. Suaminya ini langsung merasa terhina. Tapi Lazarus bukan orang yang suka meledak saat marah. Ia hanya mengirimkan sebuah puisi berjudul “Menyusuri 80 Hari Jules Verne”, kepada Elena lewat telepon genggamnya:

Lazarus:
Aku lahir dekat laut
terpikat kunangkunang
kunang berkeliaran
kunang mengenangi malam

aku lahir dekat laut
yang menenun sayap
risau dan gelombang

sepanjang hayat aku memandanginya
bahkan saat bunga Azalea
berlompatan
meninggalkan dasar semak
memasuki bahasa kusajak
dan cinta ditumbuhi sayap

–namun semua hal akan menyisih jadi debu
di atas tanah air yang dipaksa bisu

tapi,
menyusuri 80 hari Jules Verne
waktu selalu pendek bagiku
tatapmu senantiasa misteri
dan aku tertimbun utopia

–sedemikian gilakah aku menabalnya sebagai cinta?

sejauh ini aku bangga dengan Verne
dengan kunangkunang
dengan mereka yang mengarungi lautan api
menyemati selembar daun di rahim bumi

–tetapi di mana pintu menuju semesta cinta selain duri
sedang aku, ingin mengenduri tanah airku sendiri

di manamana
aku memandang salib Tuhan
betapa luka Ia
luka oleh cinta
terpaku oleh amarah

di manamana
aku memandang air mata
memecah
bagai bulir yang jatuh ke tanah
tumbuh tak bernama

pabila aku menulis sejumlah perjalanan dengan mahir
catatlah, bahwa sepanjang usia aku gagal menulis cinta
berapa sayap harus patah di tangan Gibran
kekasihnya hanya kesunyian hutan cedar

bahkan Ramayana tak pernah percaya akan cinta
andaikata Shinta terbakar, apakah ia sepasrah Sapardi
–menjadi kayu, lalu abu abadi

ada dua pertemuan yang sekuatnya kusangkal
pertama di tepi kolam
kedua di Cabana
selebihnya luka yang berbaur di udara,
berlikuliku dalam cerita tanah air yang samar

dan aku tak lain hanya
seseorang dalam bayangan Dickens
seseorang yang menjagai pos perlintasan kereta api
seseorang yang dihantui penampakan petualangan lain menuju mati

Narator:
Sehari setelah menerima puisi yang dikirim Lazarus, Elena jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan. Kabar itu langsung disampaikan Maximus kepada Lazarus.

“Dalam situasi ini, Elena membutuhkanmu,” kata Maximus via ponsel kepada Lazarus. Dan kata-kata Maximus menjadikan Lazarus semacam Judas, sosok yang menjual Tuhan, karena ia memang dilahirkan untuk itu. Kata-kata itu pula membuat dia datang ke kota J.

Lazarus 1:
Begitulah perjalananku ke panggung pertunjukan yang lebih pedih. Kendati apartemen itu sangat mewah, aku tak merasakan kenyamanan sedikit pun. Setelah Elena sembuh dari sakit gastroenteritis, semacam radang lambung dan usus akibat serangan virus, aku mulai hidup dalam terror psikologis yang amat hebat. Aku sadar istriku pelacur. Tapi mendengar lenguhan dan dengusan istrinya saat bersetubuh dengan Maximus di kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempatinya bersama Elena, bagaimana bisa.

Lazarus:
Ini golgota bagiku!

Lazarus 2:
Begitu umpatku. Tapi mau bagaimana lagi, Aku tak bisa memaksa Elena berhenti. Satu saja pilihan yaitu ia harus meninggalkan Elena. Tapi bagiku, meninggalkan Elena sama dengan aku bunuh diri.

Narator:
Kedua kamar itu terhubungan dengan pintu khusus yang direnovasi untuk kepentingan ini. Dan di sana Lazarus harus menahan jantungnya jangan sampai rontok. Begitu selalu, dan menyakitkan untuknya. Elena tahu apa yang dialami suaminya. Setelah selesai dengan Maximus, Elena akan mencebok kelaminnya lalu datang memeluk Lazarus, seperti biasa, seakan bayi yang sangat dikasihinya. Ia akan bernyanyi, lalu mereka bersetubuh dengan cara paling indah. Begitu Elena memberikan yang terbaik untuk Lazarus. Lazarus akan meneteskan airmata pada pemberian tubuh paling tulus ini.

Lazarus:
Di kamar kita, Elena, ada kenangan paling ingin kulupakan. Sungguh paling ingin kucampakkan. Namun tak bisa kutanggalkan. Aku selalu ingin bercinta denganmu. Bercinta dengan sayap-sayapnya dirajut api sepi, gerimis tua, butir-butir peluru dari ngagah jendela yang membuat aku melihat Tuhan dalam wujud airmata menemanimu pulang di suatu dini hari saat embun terakhir membaunkan bau sperma. Aku tak mencari ke sebuah kuil kuno seorang pelacur yang berbahagia, engkau sungguh Olympia. Sungguh jenaka menjadikan kehidupan tak lebih padang canda di mana kepingan diriku setara tiang-tiang balok, dinding papan atau atap tempat engkau bersejenak teduh sambil membiarkan aku bertamu pada selangkangan kegembiraan kau sajikan bersama kopi dan doa-doa pedih bahwa segala yang erotis itu tak lebih gesekan benda saat manusia ingin terbakar api purba yang hanya bisa menyala oleh karena dekapan. Dan padamu aku belajar cinta itu berada di bilik lain tak bisa disenggamah.

Narator:
Elena tersenyum. Senyuman yang sama sejak Lazarus mengenal perempuan itu di sebuah Pub dan menyetubuhinya pertama kali dalam toilet. Sudah lama banyak sahabat mempertanyakan profesi memalukan yang dilakoni istrinya itu. Tapi Lazarus selalu tak punya cukup jawaban.

Lazarus:
Bila aku pergi dari Elena, aku akan mati!

Lazarus 3:
Itu saja yang bisa aku katakan. Lalu ada sahabat menawarkan diri untuk mencicipi Elena. Aku terpaksa mengangguk. Aku sadar, setelah itu aku akan menanggung rasa malu di hadapan sahabatku. “Pantas kau tak bisa meninggalkan Elena. Tak saja tubuhnya indah, tapi vaginanya juga enak,” kelakar sahabatku. Setiap kali mendengar pernyataan itu, aku rasanya ingin segera mengambil kapak untuk dihujamkan ke kepala sahabatku sampai pecah. Tapi itu tak bisa aku lakukan, karena aku harus menghormati profesi istriku. Sementara itu Elena selalu bercerita padaku tentang kontol sahabatku itu hanya sebatas cacing kepanasan di lubang uretranya. Begitu selalu, dan selalu mendebarkan bagiku.

***
Narator:
Suatu ketika, langit kota J tak sekabut malam kali itu. Elena, baru usai mandi saat mengutarakan rencana kedatangan Maximus dan istrinya Luciana, ke apartemen mereka.

Lazarus:
Untuk apa mereka ke sini.

Elena:
Mereka ingin menonton cara kita bersenggamah.

Lazarus:
Gila! Tidak adakah yang lebih mulia dapat kudengar di kota ini?

Elena:
Itu biasa bagi mereka Lazarus!

Lazarus:
Manusia macam apa itu? Apakah istrinya tahu kau berhubungan dengan suaminya?

Elena:
Bahkan kami sering bercinta bertiga!

Lazarus:
Itu di luar nalar!

Elena:
Nalar? (Elena tertawa sesaat.) Mereka penganut promiskuitas. Pernikahan bagi mereka adalah persekutuan bisnis. Namun untuk seks, mereka bersepakat untuk bebas. Bukankah sejak menikah kita juga menyepakati kebebasan seks?

Lazarus:
Aku tak pernah bersetubuh dengan perempuan lain. (Lazarus agak jengkel.)

Elena:
Tapi kau beronani di hadapan Amadea. Itu pengakuan Amadea padaku. Harusnya kau setubuhi Amadea, agar kau bisa merasakan keperawanan.

Lazarus:
Tapi kau yang kucintai bukan Amadea. Aku tak akan menyetubuhi perempuan yang tak kucintai! Dan… hanya iblis yang berburu keperawanan.

Elena:
Prinsip-prinsip idealmu sangat kuhormati Lazarus. Namun kau mengatakan cinta berada di bilik lain, bukan pada kelamin. Lantas apa keraguanmu bersetubuh dengan wanita lain?

Lazarus:
Suatu pandangan yang keliru.

Elena:
Dalam etik ya keliru. Tapi siapa yang masih bertahan hidup di sana?

Lazarus:
Ini gila Elena. Ini Gila!

Elena:
Maximus dan istrinya Luciana, ingin melihat bagaimana penyair menyetubuhi seorang pelacur. Itu tontonan yang belum mereka lihat. Mereka tak punya pengalaman tentang itu. Sebutlah tontonan ini sebagai persetubuhan puitis.

(Lazarus terdiam, ia berpikir keras menghadapi tawaran itu.)

Narator:
Jam berputar dalam bunyi detik yang mencekam. Keduanya diam seperti menanti maut.
Pukul 10.00 waktu kota J, Maximus dan Luciana muncul di sana. Mereka membawa Wine dan beragam kue mahal untuk dinikmati bersama. Maximus dengan stelan mahal yang bagus membuat ia nampak sebagai pribadi yang elegan. Luciana baru tiga puluh lima tahun. Ia cantik, sebagaimana perempuan Asia pada umumnya. Tubuhnya semampai dengan kulit yang terawat baik. Tapi Lazarus bukan lelaki yang tak memikat, Ia punya gestik dan rambutnya panjang terurai dalam gambaran seorang aktor Spanyol. Elena, sudah pasti punya citra lain, dengan kecantikannya yang nyaris sempurna dalam gambaran dunia seni lukis realis.

Saat mereka ngobrol sambil menikmati wine, Luciana sering melirik ke Lazarus. Ia melihat lelaki itu jantan. Bagi Luciana, Lazarus cukup tampan andai ia bukan lelaki miskin. Luciana menyukai gaya bicara Lazarus yang terdengar puitis dan sarat filosofi saat menanggapi percakapan mereka, tentang hubungan antara cinta dan seksualitas. Lazarus sadar dengan makna tatapan Luciana. Bagi Lazarus, sejatinya Luciana telah telanjang di hadapannya. Ketelanjangan yang lapar. Lazarus melihat api seksualitas telah berkobar di permukaan payudara Luciana. Perempuan itu nampak gelisah menanti.

Elena:
Aku sudah menjelaskan maksud kedatangan pak Maximus dan ibu Luciana ke suamiku.

Luciana:
Ini pasti sangat menarik.

Lazarus:
Aku bukan penjantan yang sempurna. Aku melakukannya pada Elena sebagai cinta. Sesungguhnya hanya begitu. Aku takut itu tak menarik, bahkan biasa-biasa saja.

Maximus:
Justru pada sisi paling natural, aku pikir persenggamahan itu menjadi menarik. Di banyak panggung, persetubuhan telah dieksploitasi dengan beragam gaya yang memuakan.

Luciana:
Elena! Aku tak tahan lagi ingin melihat Lazarus telanjang.

Lazarus:
(Kepada Luciana)
Bila kau ingin melihatnya, bukakan bajuku.

Narator:
Entah dari mana ide gila itu muncul, tapi Lazarus telah berdiri menantang. Tanpa sungkan, Luciana menghampiri dan membuka pakaian Lazarus. Sebagaimana seorang aktor, Lazarus ingin menyuguhkan pertunjukan itu sebaik mungkin pada Luciana. Saat celananya dibuka, Luciana meremas lembut penis Lazarus dengan penuh gairah.)

Luciana:
(Berbisik ke Lazarus.)
Ini penis yang bagus, ukurannya keren.

Lazarus:
Luciana, tahukah kamu, Tuhan berurai air mata ketika Gauguin melukis Tehura. Karena hanya lewat pintu derita cinta bisa melihat senyuman. Begitulah hari ini bila aku memelukmu, memeluk cinta dan dosa. Biarkan Jantungku berdarah, aku ingin ciumanmu Liciana. Dengan itu, akan kurayakan dunia liar dan suci ini, sebuah dunia antara Gauguin Tehura, dunia yang kulihat pada matamu yang jelita, yang menjelmakan aku sebagai bayangan, sosok jiwa nan ringkih pada cermin raksasa petualangan hanya bisa ditempu dengan mati dan mati.

Narator:
Dada Luciana sontak berdebar mendengar ucapan Lazarus. Vaginanya terasa meleleh dalam tatapan lembut lelaki itu. Lazarus meraih Luciana dan mencium bibirnya. Semua pintu seketika terbuka dalam diri Luciana. Pintu yang sarat penantian dimasuki.

Lazarus:
Biarkan aku mati di pelukanmu Luciana, kendati itu kematian paling dosa, namun paling indah. Dan apabila aku mati nanti atau kini, aku akan mati bersama namamu, bersama kenangan birahi berwarna biru, bersama kejantanan paling manipulatif, tapi paling puitis dari definisi kata kalah. Aku berserah pada kudusnya cinta yang tak mungkin binasa meski semua makna kata-kata telah beku. Aku berserah pada kudusnya cinta yang kukamuskan pada malam-malam duri, pada siang yang selalu kulalui dengan mati. Hingga mati sejatinya menjadi cinta sejati, menjadi Elena, menjadi Luciana, menjadi beribu perempuan yang akan kujantani dalam api, menjadi nasib terpilih kujalani di kawah pelukanmu sebagai perjamuan indah dari sosok manusia hina sambil membayangkan golgota bahwa Tuhan pun pernah mati dengan merana.

Narator:
Mendengar sublimnya kata-kata Lazarus. Luciana melepaskan pakaiannya. Ia tahan lagi. Ia ingin Lazarus menjantaninya.

Luciana:
Jantani aku Lazarus!

Narator:
Tubuhnya Luciana yang elok bergetar. Maximus dan Elena tercenung memandang mereka. Tapi siapa yang bisa memadamkan api birahi saat ia telah menyala. Perempuan itu menarik Lazarus ke ranjang. Ia mencium Lazarus dengan penuh gairah. Lazarus menanggapinya dengan perkasa. Ia kemudian menjantani Luciana dengan indah, dengan seluruh daya, penuh api, sambil mengucapkan puisi dengan perasan yang membara.

Lazarus:
Seperti mengarungi lautan birahi Angela del Moro, kuarungi dirimu Luciana. Kusujudkan Hasrat-hasratku. Kita adalah pelacur yang berbahagia, sapasang manusia dengan lapang dada melacurkan semua kebanggaan dunia karena yang kekal hanya cinta. Akulah saksi mata yang gemetar, menangis dan kuyu saat melihat betapa telanjang engkau bagai sosok malaikat mitologis yang melucuti bungkusnya menjadi Lucina. O Luciana rasakan tubuhku yang payah.

Luciana:
Teruskan Lazarus. Bacakan puisi untukku. Jantani aku sekuatnya!

Narator:
Luciana melengu dengan suara yang dibaluti hasrat yang mendidih.

Lazarus:
Keringkan aku di bawah akar-akarmu Luciana. Karena aku tak punya tempat lain di dunia ini selain pada tandus tubuhmu yang menjadikanku tamu sengsara, dalam bau petualangan, dalam bau bedil birahi menghabisi doa-doaku, menghabisi harapan-harapanku. Peluk aku Luciana, rasakan tubuhku seperti tiang matahari, karena itu satu-satunya sinar untuk umurku, hari-hari yang menikam, hari-hari yang mendermakan pedih pada ujung rambut, pada kulit, pada bayanganku yang kutangisi. Ambil semua Luciana, kupas aku menjadi rangka pada sebuah puisi penyair menjelang mati.

Narator:
Luciana terbakar dalam kobar senggamah puitis itu. Semacam konser megah, mereka menyatu sebagai simphoni begitu merdu menderu dan mendentam. Mereka bergelut seakan nyala api yang mengapai-gapai udara. Luciana berganti di atas memompa Lazarus seperti ekstase musikal yang terus mencari puncak keindahan di panggung-panggung estetika kelas dunia.

Luciana:
Aku tak punya puisi Lazarus!, aku tak punya kata-kata indah. Aku hanya punya tubuh. Terus terobosi aku. Aku tak pernah merasakan senikmat ini Lazarus. Kau yang pertama dan segalanya. O… Lazarus tak ada yang menandingimu. Aku mencintaimu, inilah cinta itu Lazarus. Babi semua orang yang pernah menyetubuhiku. Mereka hanya cancing tak berarti. Tapi denganmu aku merasakan cinta Lazarus. Cintai aku Lazarus.

Narator:
Luciana mengerang dengan nafas yang berpacu. Lalu Lazarus kembali mengambil alih posisi. Ia dengan panas menggelut Luciana, meraba segalanya yang membuat perempuan itu menggelinjang dalam nikmat.

Lazarus:
Kita adalah dua ekor anjing absurditas, karena mencintaimu adalah mencintai burung. Sampai kapan pun burung ia tak ingin menjadi kuda. Dan kuda tak ingin menjadi apa yang kupikirkan. Dalam beribu-ribu hari kulalui, tahun-tahun membelatung dalam nafas bayi lelaki, persis saat kuberdoa memohon bahagia, begitulah pada pelukan paling tuba aku kian percaya bahwa dunia ideal itu letaknya hanya dalam pikiran. Hanya dalam pikiran! Karena apa yang lebih api dari pelukan kita. Apa yang lebih beku dan seru dari kesepian kita. Satu-satunya pemberontakan atas rasa jengah ini Luciana, adalah memilih mati bunuh diri atau mati dalam pelukanmu yang duri. inilah pilihan paling kolot, karena di dunia yang liar, manusia ternyata hanya terhibur dengan kegembiraan yang liar, kebenaran yang samar, kebahagiaan palsu yang berakhir hambar di ujung-ujung penis yang layu dan memar.

Luciana:
O Lazarus, aku milikmu selamanya. Ambil semua cintaku. Kehormatan ini hanya milikmu semata.

Narator:
Luciana bermandikan lelehan air mata bahagia di tepi-tepi katarsisnya. Keduanya mencapai puncak dengan sangat indah. Mereka berpelukan seperti penari diiringi isak yang harus dipahami sebagai hening paling musikal. Pada saat yang sama, Elena meneteskan air mata, dan Maximus gemetar oleh semacam ketakutan.

Kalian pikir apa yang terjadi setelah ini? Maximus berlari lewat pintu menuju kamar apartemen miliknya. Di sana terdengar ia meraung-raung. Betapa dasyatnya persetubuhan itu, dan Elena meledak dalam tangisan. Luciana pergi ke kamar suaminya. Lazarus tertunduk di ranjang yang basah oleh peluh. Ini pertama kali Lazarus melihat Elena sesedih itu.

(Saat tangisan Elena redah, Lazarus mendekati dan memeluk Elena.)

Lazarus:
Mengapa engkau menangis?

Elena:

Aku cemburu! (Sorot matanya memancarkan sinar kehilangan. Ia merasa hidupnya tiba-tiba layu.)

Lazarus:
Kau bisa cemburu?

Elena:
Betapa puitis kau menyetubuhi Luciana. Aku merasa kau telah mengenyahkan aku!

Lazarus:
Bukankah kalian ingin menonton hal itu?

Elena:
Aku tak menyebutkan cinta pada semua lelaki yang menjantaniku. Tapi kau menyetubuhi Luciana dengan cinta. Kau melakukannya dengan sangat jantan.

Narator:
Lazarus terdiam sejenak. Sesaat kemudian, Lazarus mengenakan pakaiannya, lalu pergi dari kamar itu menuju jalanan kota J yang mulai bergerimis. Setelah memantik rokoknya, ia memikirkan semuanya. Ia teringat Luciana, wangi parfumnya masih melekat di ujung jari-jarinya. Di apartemen, saat Luciana kembali ke kamar Elena, ia mendapati perempuan itu dirundung kesedihan.

Luciana:
Maafkan, bila peristiwa ini membuat kau terluka.

Elena:
Aku pernah bercinta dengan perampok yang lembut, padanya aku merasakan kejantanan paling natural. Itu yang terjadi antara kau dan Lazarus. Itu bukan tontonan. Itu cinta Luciana.

Luciana:
Apakah begitu?

Elena:
Ya!

Luciana:
Jujur, aku pun merasakannya seperti itu. Dan Maximus juga melihatnya seperti itu pula. Ia cemburu.

Elena:
Semacam itulah yang tiba-tiba kurasakan pula.

Luciana:
Aku salah?

Elena:
Tidak. Tak ada yang salah. Itulah kejujuran sejati, Luciana.

(Luciana tercenung sejenak.)

Luciana:
Perampok yang kau sebut, di mana dia kini.

Elena:
Garin nama perampok itu. Kami bertemu di kota M, di sebuah rumah makan. Ia mengajakku pergi dan kami tinggal beberapa hari di sebuah Cottage tempat wisata. Ia tak setampan Lazarus, tapi aku pikir, aku mencintainya, dan aku suka selalu dijantaninya. Beberapa tahun kami hidup bersama dan aku seperti seseorang yang bermandikan kebahagiaan. Hingga suatu waktu Garin tertangkap, dan sejak itu kami tak bertemu lagi. Aku hamil saat ditinggalkannya. Aku keguguran dan Lazarus menolongku.

Luciana:
Kau mencintai Lazarus?

Elena:
Entahlah! Aku mengucapkan cinta padanya, seperti seseorang yang sedang membohongi anak kecil. Tapi aku menghormati kebaikan hatinya.

Narator:
Sejak kejadian malam itu, Maximus tak pernah datang lagi menemui Elena. Hanya Luciana yang sesekali datang mengajak Lazarus bercinta di kamar apartemen miliknya.

Keadaan itu membuat Elena khawatir. Ada dua hal yang membuat Elena khawatir. Pertama, pasokan keuangan dari Maximus yang tiba-tiba terhenti. Kedua, hubungannya dengan Lazarus yang terasa menjadi dingin. Namun harus diakui, Lazarus pun memikirkan Luciana. Ucapan perempuan itu saat bersetubuh pertama kali dengannya telah meninggalkan sensasi dan kesan mendalam baginya. Sangat mendebarkan bila dikenang. Apalagi Luciana, perempuan pertamanya dalam hubungan intim selain Elena. Tapi Lazarus tak mau berkhayal lebih jauh, karena di dasar hatinya, tekadnya menjaga Elena dengan penuh kasih sayang tetap menyala. Ia kemudian lebih memikirkan pekerjaannya yang baru sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan buku.

Lazarus 1:
Harus disebutkan, siapa sesungguhnya Luciana, perempuan yang membuat pikiran-pikiranku keluar dari jalur ideal. Ia seorang sarjana lepasan pendidikan tinggi jurusan Advertising dari San Francisco, Amerika. Ia punya perusahaan Advertising ternama di Kota J. Sementara Luciana juga pewaris beberapa perusahaan lain milik keluarganya. Perkawinannya dengan Maximus tak lebih sebuah tradisi endogami dalam kelas masyarakat yang sama. Keduanya sama-sama datang dari latar belakang kaum kaya. Pada titik itu, cinta menjadi sesuatu yang tak penting diperbincangkan. Ini sebabnya mereka memilih promiskuitas sebagai hiburan untuk melepas sumpek. Namun padaku, Luciana merasa perasaannya terampas. Ia tiba-tiba tak saja merindukan persetubuhan denganku, tapi ada perasaan cinta yang sulit dibohongi.

(Susana berubah)

Luciana:
Aku tak bisa orgasme dengan Maximus.

Narator:
Begitu kata Luciana, suatu hari saat perempuan itu mengajak Lazarus bertemu di sebuah rumah makan yang biasa dikunjungi kalangan atas.

Luciana:
Sudah lebih dari sepuluh tahun aku terus berpura-pura bahagia dengan hubungan kami. Entah sampai kapan itu bertahan.

Lazarus:
Perlu kejujuran radikal untuk mengungkapkan itu kepada suamimu.

Luciana:
Itu yang ingin kubicarakan denganmu!

Lazarus:
Perempuan cerdas seperti kamu tentu punya cara yang efektif menyelesaikan masalah itu. Menurutku akui saja dengan jujur, agar kau dan suamimu bisa saling memahami atau mengevaluasi hubungan kalian.

(Luciana nampak berpikir sejenak.)

Lazarus:
Kau berhubungan dengan banyak lelaki sejauh ini?

Luciana:
Tidak juga. Sebelum menikah, aku punya pacar di Amerika semasa kuliah. Kami sering berhubungan intim. Tapi aku merasa ada yang salah dengan kondisi seksualku. Aku selalu mengalami anorgasmia. Aku lebih puas dengan oral seks.

Lazarus:
Bisa jadi itu penyakit perempuan cerdas. Kecerdasan bisa memicu banyak fantasi di kepala.

(Luciana tertawa menanggapi celoteh Lazarus.)

Luciana:
Itu sebabnya aku jarang berhubungan dengan lelaki selain Maximus. Aku memilih masturbasi untuk mendapatkan kepuasan. Tapi aku sering terlibat threesome bersama wanita lain diajak Maximus, aku menyukai bagian oralnya saja.

Lazarus:
Saat denganku kamu orgasme?

Luciana:
Nah, itu yang ingin kubicarakan. Kau satu-satunya penakluk tubuhku. Aku benar-benar mencapai puncak. Itu bahkan jauh lebih nikmat dari oral seks.

Lazarus:
Kau bicarakan hal ini dengan Maximus?

Luciana:
Aku tak perlu bicara, tapi ia tahu. Ia menyaksikannya kan.

Lazarus:
Apa rencanamu selanjutnya?

Luciana:
Jujurnya aku jatuh cinta padamu Lazarus. Tapi aku tahu, kamu tak mungkin meninggalkan Elena. Aku dan Maximus tak mungkin memiliki anak. Ia mandul. Kalau aku bisa bermohon, bolehkah aku mendapatkan anak darimu?

Narator:
Lazarus terdiam. Ia tak mau menjawab permintaan senekat itu. Setelah pesanan mereka datang, keduanya memilih menyantap makanannya masing-masing sambil merenung.

Luciana:
Kau tak harus menjawab sekarang.

Lazarus:
Aku yakin tak mau menjawabnya. Tapi kalau hal itu terjadi, maka biarlah itu terjadi.

Narator:
Luciana nampak bahagia. Malam itu kemudian mereka menghabiskan waktu di villa milik Luciana yang mewah yang terletak di tepian Kota J dalam percintaan yang lebih liar dari sebelumnya. Luciana benar-benar puas dibuatnya.

***

Lazarus 2:
Elena sudah beberapa bulan tak pernah keluar apartemen. Ia memilih mengurung diri merenungi kehidupannya bersamaku. Sementara aku disibukan oleh pekerjaannya di kantor penerbitan. Namun saat Lucian berkunjung ke apartemen miliknya, aku pergi menemani perempuan itu. Pada saat seperti itu, Elena selalu disentak rasa cemburu yang harus diterimanya dengan lapang dada. Ia memilih bersenandung mengungkap kesedihannya. Setelah itu, ia mencoba kuat meladeniku, saat aku membutuhkan tubuhnya. Kami bercinta, namun tak seperti sediakala.

Elena:
Aku baru tahu arti kata ketabahan.

Lazarus:
Kau ingin aku menyudahi pertemuanku dengan Luciana?

Elena:
Tidak! Aku pikir kau bahagia saat bersamanya.

Lazarus:
Aku hanya mencintaimu Elena.

Elena:
Mungkin sudah saatnya kita berpisah Lazarus!

Lazarus:
Setelah puluhan tahun kita menikah, kini kau mau pergi?

Elena:
Kau patut mendapatkan kebahagian. Denganku kau sangat menderita.

Lazarus:
Beruntung kita punya warna warni kenangan, wajah-wajah yang membuat senang saat dikecup. Dan kenangan tak boleh mati. Kita menyadari sejak lahir diarahkan untuk suatu tujuan. Barangkali itu kekuatan yang menghubungkan penulis dengan kebaikan, seakan kita bagian dari Ikarus dan dongeng lain dari kitab suci. Semacam Nuh, Junus bahkan Lazarus. Dan kita bangga punya bahasa sendiri untuk itu, punya kebahagiaan tersendiri merayakannya lalu mengatakan satu hal tanpa keraguan. Kita telah mendefinisikan hidup pada segala kealpaan itu. Bila kau pergi, pergilah tapi cintaku hanya untukmu.

Narator:
Misar, mendapatkan kontrak dari industri film dewasa di Filipina untuk Elena. Tanpa pernyataan yang pasti, Elena meninggalkan kota J menuju Filipina. Perpisahan itu membuat Lazarus harus pergi juga dari apartemen yang dikontrak Maximus. Luciana mencoba menahan Lazarus untuk tetap tinggal di sana, tapi Lazarus menolak tawaran itu. Ia memilih tinggal di sebuah kontrakan kecil yang tak jauh dari tempatnya bekerja.

Lazarus 3:
Untuk menghibur kesedihanku atas kepergian Elena, aku mengisi waktu senggangku bersama grup teater di kota itu. Aku kadang tampil sebagai aktor dan menulis beberapa lakon untuk kepentingan pertunjukan. Aku juga sering tampil sebagai pembaca puisi untuk karya-karya yang kutulis sendiri di acara-acara perhelatan seni. Luciana menjadi seseorang yang sering mendampingiku pada kesempatan-kesempatan itu. Perusahaan milik Luciana bahkan ikut mensponsori sejumlah pertunjukan. Tapi aku tak mau berharap banyak dari perempuan yang bersuami ini. Setiap kali aku berhubungan dengan perempuan itu, aku selalu menolak bila ia menawarkan uang. Bahkan aku menolak, saat Luciana mengajaknya tinggal di sebuah villa miliknya. Namun saat Luciana menawarkan pekerjaan sebagai copywriter di perusahaan advertising miliknya dengan gaji lumayan besar, aku tak menolaknya.

Luciana:
Akhirnya kau bisa menerima tawaranku.

Lazarus:
Aku tak bisa menerima uang dari hubungan kita, kecuali dari pekerjaan professional.

Luciana:
Tinggal sedikit orang yang berpikir dan berperilaku seperti kamu.

Lazarus:
Setidaknya masih ada. Kau tahu Luciana, aku pernah menulis begini: ketika kebaikan dan keindahan telah dimusnahkan, yang hidup bukan mereka yang bertahan hidup, tetapi mereka yang berani memulai hidup. Me

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Foto: Fri Jhon Sampakang dalam Sebuah Giat di Kabupaten Kepulauan Sangihe. (Dok. Istimewa)

FJS Minta Media Tidak Bangun Framing Sepihak: “Kasusnya Bukan Penganiayaan, Tetapi Perkelahian"

Discussion about this post

Berita Terkini

  • PLN Jamin Listrik Tanpa Kedip di Puncak HUT Tiga Instansi Sulteng 12 Juni 2026
  • Ubah Sampah Jadi Berkah, PIKK PLN Tolitoli Edukasi Warga Bikin Eco-Enzyme 12 Juni 2026
  • Gempa Sangihe: PLN Salurkan Bantuan Logistik ke Tiga Desa Terluar 12 Juni 2026
  • Saat Anak-anak Korban Gempa Sangihe Menemukan Lagi Ruang untuk Tertawa 11 Juni 2026
  • Bupati Sangihe Sisir Tiga Pulau Perbatasan Filipina yang Terdampak Gempa M 7,7 11 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In