SANGIHE, BARTA1.COM – Siapa yang tak kenal sastrawan, wartawan senior, Herman Lahamendu. Barangkali media-media industri hari ini yang banyak menetaskan generasi baru di dunia jurnalistik, pimpinannya adalah hasil didikkan dari dia.
Semisal, sastrawan juga wartawan senior Iverdixon Tinungki, wartawan dan dramawan Leonardo Axsel Galatang, eks wartawan, Sovian Lawendatu, Samuel Muhaling dan banyak lagi adalah hasil dari tempaan sosok Herman Lahamendu.
Herman Lahamendu, lahir di Manganitu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, 12 Mei 1956. Menyelesaikan studi dengan gelar BA (Sarjana Muda) di IKIP Manado FKSS yang kini Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNIMA.
Sovian Lawendatu mengatakan Herman Lahamendu selain sebagai seorang jurnalis, ia adalah sastrawan besar.
“Herman Lahamendu, setara dengan sastrawan Kamajaya Al Katuuk, juga mendiang Johny Rondonuwu. Mereka seangkatan sebagai sastrawan dan pegiat teater, juga menerbitkan buku antologi puisi bersama yang berjudul BUKIT KLEAK SENJA (1981),” ungkap Lawendatu.
Sedangkan Samuel Muhaling, melalui tulisan ungkapan dukanya menjelaskan, “Alm adalah seorang tokoh pers Sulawesi Utara. Alm adalah bagian dari sejarah Surat Kabar (SK) Obor Pancasila, Surat Kabar Mingguan (SKM) Warta Utara, Surat Kabar Harian (SKH) Cahaya Siang, Surat Kabar Harian (SKH ) Manado Post, Radio Montini FM, RKB FM Bitung dll. Tahun 1986-1987 alm masih di Warta Utara dan beliau yg terima saya ketika pertama kali jadi wartawan. 1987-1991 Redaktur Pelaksana (Redpel) di Cahaya Siang saya sebagai salah seorang redaktur rangkap editor. Rest in Peace seniorku, guruku, kakakku, sahabatku Herman Lahamendu. Engkau akhirnya mengakhiri belasan tahun penderitaanmu. Selamat jalan menuju rumah Bapa yang kekal,” tulis Muhaling.
Selanjutnya Joppie Worek, mengatakan Herman Lahamendu merupakan Redaktur Pelaksana (Redpel) Manado Post.
“Herman adalah Redpel pertama Manado Post tahun 1987 – 1992 dan ikut meletak dasar bangunan Manado Post hingga jadi seperti sekarang,” tulis Worek menyambung tulisan Sovian Lawendatu diakun facebooknya.
Orang besar itu kini tutup usia pada 3 Agustus 2018, ia meninggalkan istri, Selesta Koloay (guru) dan putrinya yang kini tengah menapaki karier Diplomat di Kementerian Luar Negeri. Di bidangnya, ia meninggalkan sekian banyak generasi penulis yang kini merajai media-media di Sulawesi Utara.
“Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergian senior yang banyak berjasa pada kami,” ungkap Iverdixon Tinungki, sastrawan sekaligus wartawan senior yang juga merasakan didikan Herman Lahamendu. Demikian juga ungkapan duka dari sastrawan dan wartawan senior Leonardo Axsel Galatang, “Selamat jalan guru puisi dan jurnalistikku, Bapak Herman Lahamendu. Mohon maaf, muridmu tidak bisa menghantar kepergianmu karena (juga) sedang berjuang melawan sakit,” tulis Galatang yang sekarang masih dalam proses pemulihan.
Penulis: Rendy Saselah


Discussion about this post