Oleh: Ir. Jhon Theodorus Harahap, MT.
Dosen Politeknik Negeri Manado
Setiap pagi dan sore, jutaan warga Indonesia berhadapan dengan satu masalah klasik: kemacetan lalu lintas. Jalanan padat merayap, klakson bersahutan, dan energi masyarakat habis di atas aspal. Solusi yang sering digaungkan biasanya berkisar pada pembangunan infrastruktur: pelebaran jalan, pembangunan flyover, atau transportasi massal. Namun, ada satu solusi yang tidak membutuhkan dana triliunan rupiah dan bisa dilakukan hari ini juga: membangun budaya tertib dan antri di jalan.
Mari kita jujur. Banyak kemacetan bukan terjadi karena jumlah kendaraan semata, melainkan akibat perilaku egois di jalan raya. Kendaraan yang menyerobot lampu merah, pengendara motor yang melintasi trotoar, hingga mobil pribadi yang mengambil bahu jalan demi “memotong antrean.” Setiap tindakan kecil ini menciptakan efek domino: menambah kekacauan, mempersempit ruang gerak, dan memperlama waktu tempuh semua orang.
Jika setiap pengendara mau menunggu gilirannya di lampu lalu lintas, menjaga jarak aman, dan tidak saling salip seenaknya, aliran lalu lintas akan jauh lebih lancar. Tertib lalu lintas bukan hanya soal hukum, tetapi soal kesadaran sosial. Sama seperti kita mengantri di kasir tanpa menyerobot orang lain, berkendara pun haruslah mengedepankan rasa hormat terhadap pengguna jalan lain.
Sayangnya, kesadaran ini belum menjadi budaya. Bahkan ironisnya, orang yang memarahi pengendara yang menyerobot antrian di jalan seringkali dianggap sok suci atau cari gara-gara. Padahal, budaya tertib hanya akan tumbuh jika kita semua—bukan hanya petugas atau segelintir warga—ikut menjaganya.
Pemerintah memang punya peran, misalnya dengan edukasi berkelanjutan, pemasangan kamera tilang elektronik, atau patroli rutin. Namun, masyarakatlah yang memegang kunci perubahan. Tertib di jalan bisa dimulai dari diri sendiri, dari keputusan sederhana untuk tidak melanggar aturan meski tidak diawasi.
Indonesia tidak kekurangan infrastruktur sebanyak kita kekurangan etika berlalu lintas. Maka sebelum menuntut pembangunan jalan baru, mari bangun budaya baru: budaya antri, sabar, dan menghargai sesama pengguna jalan. Percayalah, jika kita bisa tertib di jalan, kita sudah selangkah lebih dekat pada kota yang bebas macet—tanpa perlu beton tambahan.


Discussion about this post