Manado, Barta1.com – Siapa yang tak mengenal Gunung Sindoro. Gunung yang keberadaannya di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawah Tengah, Indonesia, itu dikenal dengan beragam keindahan dan kekayaan alamnya.
Gunung Sindoro sendiri merupakan Gunung volcano aktif yang memiliki ketinggian 3.136 MDPL. Dan menjadi salah satu destinasi wisata, yang sering dikunjungi oleh wisatawan local maupun mancanegara.
Begitupun dengan Rivaldo A. Harindah, pendaki asal Sulawesi Utara (Sulut) ini menceritakan keindahan Gunung Sindoro dimulai dari hamparan kebun teh disepanjang jalan menuju pos 1.
“Kemudian, setiap pendaki akan melihat keindahan hamparan lautan awan dan beberapa deretan Gunung dari puncak Gunung Sindoro, seperti Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Prau, Dieng, Slamet dan lain-lain,” ungkap Rivaldo.

Bukan itu saja, kata Rivaldo, Gunung Sindoro sangat dikenal dengan kekayaan flora dan faunanya, seperti babi hutan, musang, hutan pinus, bunga edelweis dan masih banyak lagi.
“Gunung Sindoro ini juga memiliki kawah aktif yang mengeluarkan asap solfatara. Keberadaan kawah ini, mampu menarik perhatian dari setiap pendaki, yang datang berkunjung,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa Gunung Sindoro memiliki beberapa puncak di antaranya Bansari dan Kyai Santri, kedua puncak itu mampu ditempuh dengan waktu 5 sampai 7 jam. Sedangkan posnya, ada 4 yang lokasinya berukuran besar dan 16 pos berukuran kecil, sebagai tempat peristirahatan.
“Untuk mencapai kesemuanya itu, tentunya akan melewati berbagai tantangan, tapi saya menikmati tantangan itu untuk mencapai kepuasan diri. Saya dan rombongan saat itu, mengikuti jalur pendakian Sigedang, sebuah Desa di Jawa Tengah,” terangnya.
Anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Will Roy Harindah dan Noviane N. Monigir menceritakan medan yang dilaluinya itu, bertanjakan dan ekstrim. “Untung saja kami menyediakan perlengkapan, seperti tali webing untuk bisa melewati jalan tersebut.”
“Begitupun ketika cuaca cerah jalur pendakian dipenuhi debu, kemudian banyak bebatuan dan sangat curam. Sebaliknya ketika hujan, jalannya sangat licin dan bisa membahayakan keselamatan dari setiap pendaki,” jelasnya sembari mendorong setiap pendaki untuk bisa membawah air dari kaki Gunung Sindoro, ketika melakukan pendakian, mengingat setiap jalur hingga Puncak, kekurangan mata air.
Selain medannya yang menantang, tambah Alumni Politeknik Negeri Manado (Polimdo) ini, ada juga tantangan lainnya, yaitu jalur pendakian yang bercabang. Setiap pendaki ketika salah memasuki jalur, pastinya akan tersesat. Untung saja, Rivaldo bersama rekan-rekannya dari Kota Manado, memiliki kontak penjaga Gunung Sindoro dan memintah arahan ke jalur yang benar.
“Setelah mendapatkan arahan dari penjaga Gunung Sindoro. Baru kami mendapatkan jalur yang benar, dan bisa melewati berbagai pos hingga mencapai puncaknya” ucapnya.
Setiap pendakian pasti ada persoalan yang dihadapi, lanjut pemuda kelahiran Poigar, 23 Agustus 2001 ini, namun hal ini sangat baik untuk dijadikan sebagai pembelajaran hidup. “Saya mendapatkan banyak pembelajaran dari setiap pendakian ini, yang pertama melawan rasa takut, setia kawan, mendorong rasa empati dan simpati, kemudian pergaulan makin luas dan mendapatkan relasi,” tuturnya.
“Selain itu juga, saya bisa belajar berkomunikasi dengan pendaki local, yang datang dari berbagai daerah. Bahkan juga, pendaki dari luar negeri. Berikutnya, bisa belajar mengatur waktu dan keuangan. Intinya banyak hal yang bisa kita didapatkan dalam dunia pendakian ini,” kata Rivaldo sambil tersenyum.
Menurut anggota KSR PMI UPT Polimdo, pendakian sudah menjadi hobi yang mendorong pribadinya menjadi mandiri, menjaga, merawat, dan tidak merusak keindahan yang Tuhan sudah ciptakan.
“Maka dari itu, jika pribadi kita pembawaannya baik. Pastinya juga akan disambut baik oleh masyarakatnya, yang lokasinya kita kunjungi. Apalagi masyarakat di kaki Gunung Sindoro, mereka sangat baik dan toleran kepada setiap pendaki, yang berdatangan dari berbagai daerah,” tambahnya.
Sedangkan untuk menuju Gunung Sindoro ini. Rivaldo memanfaatkan kesempatan, ketika dirinya mengikuti praktik kerja lapangan di Jogja, saat masih berstatus mahasiswa. Dan dari Jogja menuju Kaki Gunung Sindoro, dirinya dan rombongan menggunakan kendaraan roda dua dengan menghabiskan materi (uang) sebesar Rp. 700.000.
“Ada 2 Gunung di Jawa yang saya lakukan pendakian, selain Gunung Sindoro, ada juga Gunung Merbabu. Sedangkan, Gunung di Sulut itu ada Klabat, Soputan, Lokon, Tampusu, Mahawu, Ambang dan Popo,” imbuhnya.
Bagi siapapun yang akan melakukan pendakian di Gunung Sindoro dipastikan akan kembali dengan berbagai pengalaman dan cerita yang menarik. Sindoro adalah Gunung yang kaya akan alam dan keindahannya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post