Manado, Barta1.com – Dalam renungan Kristen hari ini Rabu, 20 Maret 2024 diberi judul: Keberanian yang Terkendali sesuai RHK GMIM melalui bacaan Alkitab Lukas 22:50.
Serangan yang tiba-tiba dan melibatkan serombongan orang dalam jumlah yang besar apalagi dengan menggunakan senjata lengkap berupa pedang dan pentung, pasti membuat murid-murid Yesus kaget dan harus melakukan upaya perlindungan diri. Tentu tidak ada satupun manusia yang tidak membela diri jika diserbu dan diserang dengan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Apalagi, baik Yesus maupun para murid-Nya tidak melakukan kejahatan sekecil dan sesedekit apapun. Yang ada hanyalah tuduhan tidak mendasar yang tidak terbukti. Jelasnya lagi, Mereka menyerang orang benar, orang tidak berdosa dan orang yang selalu melakukan kebaikan untuk semua orang tanpa kecuali.
Petrus sebagai murid Yesus yang juga ada di situ, tak mampu menahan diri. Dia tersinggung dan merasa apa yang dilakukan oleh gerombolan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Apalagi Yesus, Sang Guru Agung dan Tuhan, telah melakukan banyak kebaikan bahkan mujizat untuk semua orang. Jadi dia keberatan dengan perlakuan orang banyak yang dipimpin oleh para imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi disertai oleh pengawal Bait Allah yang seenaknya menuduh Yesus melakukan kejahatan. Karena dia sangat mengenal siapa Yesus.
Itulah sebabnya, secara spontan bahkan cenderung emosional, Petrus membela Yesus. Dia mengambil pedang dan menghunusnya ke arah seorang hamba Imam Kepala, yakni Malkhus. Akibatnya, terputuslah telinga kanan Malkhus dan jatuh ke tanah. Pedang itu memang telah dibawah oleh mereka ketika mereka mendengar bahwa Yesus akan dianiaya, disiksa dan dibunuh. Maka untuk melindungi diri itu, mereka membawa 2 buah pedang (Lukas 22:38). Nah, ketika mereka diserang itulah, Petrus mengambil salah satu parang untuk menyerang mereka.
Petrus tentu berharap agar setelah penyerangannya itu, mereka berhenti menyerang Yesus. Tetapi, hal itu tidak membuat mereka mundur. Malah mereka semakin brutal. Mereka terus menuduh, mengancam dan menyerang Yesus untuk membunuh-Nya. Itu semua terjadi sesuai dengan apa yang Yesus sampaikan kepada mereka. Bahwa Yesus akan ditangkap, disiksa, menderita sengsara dan akan dihukum mati oleh orang-orang yang sebenarnya harus menjadi contoh dan teladan dalam melakukan kebaikan itu.
Tindakan itu tidak seharusnya dilakukan oleh Petrus. Karena dia tahu bahwa Yesus tidak suka dengan tindakan kekerasan, apalagi kriminal. Yesus selalu mengajarkan tentang Kasih.
Kita diajarkan untuk selalu berbuat hal yang baik dan tidak mencelakakan orang lain dengan alasan apapun juga. Bahkan Yesus sudah mengingatkan bahwa musuh sekalipun harus dikasihi. Jika mereka berbuat jahat, harus diampuni dan dikasihi. Tidak dibenarkan membalas kejahatan dengan berlaku jahat. Sebab jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan, itu artinya kita turut menjadi penjahat.
Jadi, Yesus tidak suka apa yang dilakukan Petrus, karena Dia telah mengajarkan dan memberi contoh kepada mereka dan semua orang. Petrus ceroboh. Dia memang berani. Tetapi keberaniannya ceroboh dan tidak sejalan dengan apa yang Kristus inginkan, yakni harus mengasihi sesama dan juga musuh, sekalipun itu menyakiti hati dan fisik tubuh kita.
Maka yang harus disadari dan diingat selalu oleh semua orang yang mengikuti Yesus, bahwa kita harus menjadi sosok pengampun dan punya pengendalian diri yang baik. Jangan ceroboh dan emosional, agar kita tidak jatuh dalam dosa dan kejahatan yang justeru menjerumuskan dan membinasakan diri sendiri. Sabar dan tetap setia kepada Tuhan. Yakni dengan mengampuni sesama serta mengasihi mereka dengan tulus, sekalipun kita tidak dianggap bahkan diperlakukan tidak adil, baik secara fisik maupun psikis.
Demikian firman Tuhan hari ini: Dan seorang dari mereka menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinga kanannya, (ayat 50).
Sahabat Kristus, penting bagi kita untuk bersikap pemberani. Tapi bukan berani tanpa kendali. Itu namanya ceroboh dan bunuh diri. Beranilah dengan cara yang baik, benar, tepat, bijaksana dan sesuai kehendak Tuhan. Kita berani bukan melawan Tuhan, tapi berani berbeda untuk hidup lebih setia dan lebih berkenan lagi di hadapan Tuhan. Sehingga hidup kita benar-benar hanya mempermuliiakan nama Tuhan.
Beranilah untuk berbuat baik. Bukan berbuat konyol, nekad-nekadan yang mencelakakan diri sendiri maupun orang lain. Tapi beranikah membela kebenaran sebagai pahlawan sejati untuk kebaikan banyak orang. Lakukanlah itu untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan.
Beranilah menyaksikan Kristus dalam sikap dan prilaku hidup sehari-hari, sehingga dari segala yang kita lakukan, nama Tuhan Yesus dipuji dan dimuliakan. Senangkanlah hati Tuhan. Tuhan pasti menolong dan memberkati kita bersama keluarga, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post