Talaud, Barta1.com – Inovasi digital merupakan satu hal yang terus didorong oleh pemerintah pusat melalui kementerian Komunikasi dan Informatika. Pengembangan kapasitas dan kesiapan infrastruktur digital terus dilakukan untuk memasuki era kedaulatan digital.
Seperti yang dilakukan oleh Dinas Kominfo Kabupaten Kepulauan Talaud yaitu menyiapkan jaringan dengan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) infrastruktur yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara perangkat komunikasi dan jaringan operator.
Selain itu, proses edukasi tentang pemanfaatan dan dampak dari penggunaan internet disosialisasikan kepada masyarakat.
* Dampak Internet Dalam Kehidupan Manusia.
Introduction networking atau yang disingkat
internet merupakan sistem global yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia saat ini dimana semua sektor kehidupan tidak bisa lepas dari peran dan ketersediaannya jaringan atau layanan internet.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kepulauan Talaud, Dr. Imelda Tingginege, M.Si menuturkan, penggunaan internet sudah menjadi kebutuhan primer dalam keseharian.
“Saat ini jaringan Internet telah menjadi kebutuhan pokok karena semua sektor kehidupan telah berbasis elektronik,” ungkapnya.
Penggunaan internet sangat berdampak untuk memenuhi kebutuhan dalam dunia Pendidikan, Kesehatan, Perbankan, Bisnis dan sektor lainnya. Apalagi bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud, hal ini sangat membantu karena bisa menghemat waktu dan biaya.
“Sektor pendidikan ada sekolah daring, Kesehatan BPJS harus online. Bahkan masyarakat miskin harus dibuktikan dengan data yang terinput berdasarkan basis data terpadu,” jelasnya.
Tak hanya itu, kondisi ini ikut mempengaruhi dunia hiburan dimana masyarakat dituntun untuk migrasi dari TV analok ke TV digital. Tetapi, utuk memenuhi kebutuhan berbasis digital ini maka harus didukung oleh ketersediaan jaringan internet.

* Upaya Dalam Pemenuhan Jaringan.
Keseriusan Dinas Kominfo Kabupaten Kepulauan Talaud tak main – main. Upaya untuk pemenuhan jaringan di wilayah yang belum terjangkau menjadi prioritas dalam menyambut era transformasi digital.
Dari data yang diperoleh, permasalahan jaringan internet di Kabupaten Kepulauan Talaud perlahan hampir teratasi. Saat ini sedang berlangsung penyelesaian pembangunan BTS untuk 10 wilayah yang belum tersentuh dengan sinyal komunikasi (Blank Spot) oleh Bakti Kominfo yaitu kategori wilayah Tertinggal, Terluar dan Terdepan (3T) dan non 3T.
Untuk program 3T saat ini sedang dilaksanakan pembangunan sebanyak 8 unit BTS yang berada di beberap Kecamatan yaitu Kecamatan Melonguane Timur berada di Desa Bowombaru, Kecamatan Kabaruan berada di Desa Pangeran, Kecamatan Damau berada di Desa Ighik, Desa Taduwale dan Desa Akas, serta Kecamatan Tampan’Amma yang berada di Desa Ganalo, Desa Dapalan dan Desa Binalang.
Sedangkan untuk program Non 3T, ada 3 unit BTS yang dibangun. Bahkan ada yang sudah selesai pengerjaannya dan kini mulai dinikmati oleh masyarakat yaitu BTS yang berada di Desa Rusoh Kecamatan Beo Selatan, sekalipun masih menggunakan genset karena masih menunggu pemasangan listrik. Untuk pembangunan BTS di Desa Tua Batu Kecamatan Tanpan’Amma akan segera dimulai karena materialnya sudah berada di lokasi. Sementara untuk pembanguan 1 unit BTS di Desa Rae Kecamatan Beo Selatan masih menunggu waktu pembangunan.
* Ada Ketambahan Pembangunan BTS.
Ada kabar gembira bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud setelah usulan penambahan pembangunan BTS sudah disetujui dan saat ini sedang berlangsung proses pengadministrasian.
Penambahan pembangunan BTS ini berjumlah 3 unit yang akan dibangun di tahun 2023 mendatang. Untuk Kecamatan Gemeh, titik pembangunannya berada di Desa Mamahan dan Desa Bambung. Sementara untuk Kecamatan Essang berada di Desa Bulude.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kepulauan Talaud mengatakan, untuk wilayah Pulau Karakelang pembangunannya hampir tuntas. Tak hanya sampai disitu, untuk pemerataan jaringan, saat ini Dinas Kominfo masih memperjuangkan pembangunan BTS di wilayah Kecamatan Rainis untuk Desa Alo dan Desa Rainis, serta Desa Makatara Kecamatan Beo Utara.
Bergeser ke Pulau Salibabu, sudah sebagian besar memiliki sinyal komunikasi, hanya saja ada peningkatan kebutuhan masyarakat sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas. Selain itu, ada beberapa wilayah yang tengah diperjuangkan agar bisa tersentuh oleh pembangunan BTS seperti yaitu Desa Musi Kecamatan Lirung, Desa Moronge Selatan Kecamatan Moronge, Desa Balang Kecamatan Salibabu dan Desa Kalongan Kecamatan Kalongan.
Untuk Pulau Kabaruan, saat ini sedang dibangun 4 unit BTS. Dengan adanya penambahan BTS ini, diharapkan persoalan jaringan yang ada bisa teratasi.
“Untuk jangkauan saat ini, dari 142 desa dan 11 kelurahan, masih perlu diperjuangkan lagi. Tinggal 23 Desa,” terangnya.

* Ada Proses Edukasi Untuk Masyarakat
Di tengah upaya menyiapkan jaringan bagi masyarakat dengan pembangunan BTS, Dinas Kominfo Kabupaten Kepulauan Talaud harus menguras energi untuk memberikan edukasi bagi warga tentang pemanfaatan dan dampak penggunaan internet.
Mengapa?
Karena program pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat berbasis internet harus didukung oleh peran masyarakat dengan berpartisipasi.
Partisipasi seperti apa yang dimaksud?
Untuk Kabupaten Kepulauan Talaud, 2 pola pembangunan BTS yaitu model pembanguan 3T dan non 3T, membutuhkan partisipasi masyarakat. Program 3T merupakan program bakti Kementerian Kominfo yang anggarannya bersumber dari pusat dan wajib didukung oleh Pemerintah Daerah dengan menyiapkan lahan.
Sedangkan model pembanguna non 3T merupakan program Pos dan Telekomunikasi Kementerian Kominfo yang berkerjasama dengan penyedia jasa Telekomunikasi untuk membangun Telekomunikasi di daerah – daerah. Kedua model pembangunan ini sangat bergantung pada lahan masyarakat yang berada di titik koordinat sebagai lokasi pembangunan.
Kata Tingginehe, penentuan lahan pembangunan BTS yang jenis programnya berbeda ini memerlukan kerjasama dari semua pihak agar proses pengerjaannya bisa berjalan lancar.
* Menjawab Tantangan dan Kendala di Lapangan
Jika proses edukasi ke masyarakat berjalan lancar, maka hubungan kerjasamapun akan membuahkan hasil. Tetapi sebaliknya, apabilah masyarakat lebih gampang diprovokasi, maka kendala di lapangan akan berdampak hingga mengganggu jalannya program tersebut.
Saat berada di lapangan, Dinas Kominfo tak jarang diperhadapkan dengan persoalan penentuan lokasi atau titik pembangunan BTS.
Dr. Imelda Tingginehe, M.Si kembali menguraikan, metode pembangunan BTS yang memilki perbedaan pembangunan Gedung. Jika membangun BTS, maka perlu melihat topologi dari wilayah. Menurutnya, hal ini sangat penting karena jangan sampai tidak mendapat jaringan karena terhambat oleh gunung dan sebagainya.
Lepas dari persoalan tadi, mereka juga dipaksa meningkatkan kesabaran serta menguras pikiran saat menghadapi persoalan lahan yang sebelumnya sudah ditetapkan dan dikomunikasikan dengan pemiliknya, tiba – tiba dibatalkan oleh pemilik lahan.
Dari penelusuran di lapangan, ada beberapa indikasi penyebab, diantaranya adalah kurangnya pemahaman yang mengakibatkan pemilik lahan gampang dipengaruhi oleh omongan atau bisikan yang bernada hasutan.
“Iya, kami sering menghadapi persoalan seperti itu. Tiba – tiba pemilik lahan berubah pikiran dan membatalkan kesepakatan yang sudah dilakukan sebelumnya. Sementara administrasinya susah berjalan,” kata Tingginehe.
Justru sebaliknya, ada warga yang rela memberikan lahannya untuk pembangunan BTS, tetapi tanah tersebut tidak berada pada titik yang tepat untuk dijadikan lokasi pembangunan.
Bahkan, terkadang ada satu pemandangan yang kurang elok dimana Kepala Desa yang seharusnya membantu dalam pengerjaan program pemerintah pusat malah terkesan menghalanginya.
Hal itu terjadi saat pembangunan BTS yang hasilnya tidak maksimal karena menggunakan energi tenaga surya. Penyebabnya adalah pantulan sinar matahari tidak bisa tertangkap penuh oleh panel karena terhambat oleh pohon besar disekitarnya.
Hal ini membuat masyarakat dan Pemerintah Desa setempat mengeluhkan kondisi terbit.
Saat diimbau agar pohonnya ditebang atau
dipangkas, bukannya mengarahkan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat, justru Kepala Desa menyarankan agar dilakukan relokasi BTS yang sudah dibangun.
Berkaca dari pengalaman ini, Tingginehe berharap agar kedepan semua lapisan masyarakat akan paham dan mendukung program pemerintah dalam menyambut era digital.
Peliput : Evan Taarae


Discussion about this post