Oleh: Iverdixon Tinungki
Sasambo adalah salah satu sastra lisan tertua di Sangihe bahkan Talaud, dan diajarkan secara turun temurun. Lewat sasambo, kecerdasan sastrawi dan kecerdasan musikal telah hidup dalam ribuan tahun suku bangsa Sangihe. Keindahan dan kebergunaan sastra telah menjadi akar sejarah dan filsafat kehidupan mereka.
Di negeri kepulauan itu, masyarakatnya memandang Sasambo (puisi) sama seriusnya dan sama pentingnya dengan filsafat atau ilmu pengetahuan kebijaksanaan dan memiliki persamaan dengan kebenaran atau jadi mirip kebenaran.
Kegiatan berbalas syair sasambo disajikan dengan iringan musik tagonggong atau juga dibawakan dalam tradisi musik tarian Lide. Sambil melantunkan sambo, para jenius sastrawi ini harus juga memainkan tagonggong sesuai irama yang diinginkan. Ketika sastra menjadi sabda, maka musik adalah perahu yang membawanya mengarungi kehidupan.
Bingkai pandangan-pandangan sejak masa lalu yang penuh simbol, petanda dan penanda ini, kata sejarawan dan antropolog Alex Ulaen, hanya dimengerti oleh mereka yang memiliki kecakapan puitik dan kecakapan estetik. Kritikus sastra Reiner Emyot Ointu menyebut Sasambo sebagai puisi endemik Sangihe.
Dalam cerita lisan (folklore) Sangihe di era Raja Makaampo (1530-1575) di Kerajaan Tabukan, disebutkan para leluhur orang Sangihe sangat gemar dan mahir dalam berpuisi dan berpantun yang disebut Mesambo. Aktivitas berpuisi secara berbalas-balasan ini pun disebut Mebawalase. Setiap lawan mesambo harus mampu menjawab atau membalas syair sasambo yang disambokan. Kalau tidak maka akan dianggap kalah dan dalam tingkatan syair tertentu bisa terjadi malapetaka.
Berdasarkan cerita rakyat dari kampung Dagho, Kalamadagho dan Pananaru, di mana pulau Sambo yang ada di pantai Kalamadago terlempar akibat permainan tagonggong dan sasambo para punggawa yang sakti. Sampai saat ini, pulau tersebut dinamakan pulau Sambo. Di masa lalu, setiap sasambo yang dilantunkan memiliki kekuatan magis yang dapat membunuh orang. Ini sebabnya sasambo juga disebut seni ritual magis.
Ada kata mematikan, ada kata menghidupkan. Demikian filosofi sastra Sasambo, sebuah seni ritual etnik Sangihe. Sebagai seni ritual magi, Sasambo tak sekadar seni hiburan tetapi ritual. Dalam Sasambo, kearifan dan heroisme tertinggi adalah penyatuan manusia, alam semesta, dan Ilahi. Setiap jenis syair seperti juga irama ketukan Tagonggong (Gendang Sangihe) memiliki makna dan maksud tertentu yang ingin dicapai mesasambo (pelantun Sasambo).
Alat musik tradisi Sangihe Tagonggong sebagai pengiring sasambo adalah sebuah gendang yang berbahan dasar kayu nangka, kayu hitam (batuline) dan kayu besi (siha/kaluwatu). Alat musik ini menyerupai “Gendang Batu Marawis” pada kesenian Islam. Menurut Alfian Walukow, seorang peneliti sejarah di Tahuna, sampai saat ini belum ada data ilmiah yang mengkaji kepastian lahirnya alat musik ini dalam aktifitas berkesenian di Sangihe.
Aktivitas mesambo biasanya dilaksanakan untuk maksud meminta pengasihan, atau keterlibatan kekuatan mekanis dalam alam semesta untuk mendatangkan kebahagiaan dalam kehidupan umat manusia seperti kebahagiaan perkawinan, karunia cinta, mendatangkan makrifat bagi anak, panen yang berhasil, memenangkan perang, mendatangkan keperkasaan bagi seseorang, menghindarkan negeri dari bahaya atau menolak bala, serta penyucian kehidupan manusia dan alam semesta. Aktifitas mesambo juga dapat digunakan untuk mendatangkan malapetaka bagi orang lain atau orang yang dimusuhi.
Sasambo berasal dari bahasa Sangihe yang dibentuk dari dua suku kata yakni : Pertama, Sasasa artinya pengajaran (Petuah, Penyucian). Kedua, Sambo artinya Syair (mantra, kalimat-kalimat petuah yang magi). “Dalam budaya magi etnik Sangihe diyakini jika huruf-huruf mematikan digambungkan akan menimbulkan petaka, huruf menghidupkan digabungkan mendatangkan berkah,” ungkap budayawan Syahrul Ponto.
Magisme Sasambo berada pada musikalitas bahasa yang dipengaruhi unsur bunyi (Lagung). Semua bermula dari bunyi, begitu falsafah Sasambo. Sementara Tagonggong adalah media roh bertemu pesan dalam syair. Efek bunyi adalah spirit pencapaian kulminasi trans (katarsis). Suatu periode puncak menyatunya kosmik manusia dengan kekuatan alam semesta dan Ilahi. Puncak trans dalam Sasambo khususnya berlaku pada jenis Lagung Sonda (Sasambo heroisme).
Syair dan lagu (irama ketukan gendang) sasambo terdiri dari beberapa jenis di antaranya : a).Lagung Bawine: Berisi petua-petua berumah tangga, atau syair cinta. b).Lagung Kakumbaede atau Sasahola: berisikan syair maarifat pengantar tidur bagi anak-anak. c).Lagung Duruhang : Berisi syair kearifan pesisir. d). Lagung Balang : Berisi syair kearifam lautan. e). Lagung Sonda: Berisi syair perang. f).Lagung Kapire: Berisi mantra yang ditujukan untuk mencelakakan orang.
Masyarakat Etnik Sangihe meyakini adanya tenaga mekanis yang sakti dan rahasia berada dalam seluruh alam, yang dipandang sebagai Ilahi sumber ke-asal-an. Sesuatu yang bisa mengerjakan atau menimbulkan kebahagiaan maupun pemusnahan. Karenanya, segala aspek pikiran dan tindakan didasarkan pada penyatuan kehendak manusia dengan tenaga sakti dalam alam ini. Jalan penyatuan kehendak inilah yang disebut jalan Sasambo.
Kekuatan semesta itu berasal dari para Opo atau ampuang (roh orang suci atau orang perkasa yang telah mati), Ompung (roh dewa-dewi lautan) atau Taghaļoang (Tagaroa), Ingang (peri-peri), Ghenggonaļangi (Sang Maha Kekuatan pencipta semesta-Tuhan dalam pengertian agama-agama semitik), serta roh-roh penyebab petaka, di antaranya : Pehang, Mongang, Laghohe, Kabanasa, Setang, Ratoen Setang. Sedang roh-roh yang bersifat baik seperti : Saritana, Ading dan Ghenggona.
Dengan Sasambo, ungkap John Rahasia, manusia Sangihe menjalankan filsafat kehidupannya melalui lima (5) unsur penting: Pertama, Tembo (Kepala) Aspek kecerdasan dan kearifan. Kedua, Seba Kuaneng (Dada Kanan) atau Humanity. Ketiga, Seba Kuihi (Dada Kiri) Keyakinan. Keempat, Tiang (perut) kesejahteraan. Kelima, Manu Kadio (kelamin) regenerasi. Dengan demikian Sasambo sebagai ritual puncak dalam tradisi Sasahara dan Sasaili masyarakat Etnik Sangihe merupakan jalan menuju kearifan, humanitas, keimanan, kesejahteraan dan regenerasi.
Demikian musik, susastra dan tari dari era pra sejarah di kepulauan ini selalu berhubungan dengan alam dan ritual. Sebuah dunia kearifan manusia masa lampau yang terkadang sulit diterima dan dimengerti dalam logika modern.
Di masa lampau para penganut kepercayaan Sundeng, lagu-lagu lide yang mengunakan syair sasambo akan mengiringi gerakan penari-penari perempuan. Mereka menari mengelilingi korban manusia yang akan dikorbankan dalam ritual sakralnya. Mereka menari dalam gerakan masing-masing, imajinatif dan spontan. Tangan bergoyang dan kaki disentak-sentakan ketanah sambil mengelilingi korban sebagai tradisi mengantar roh perempuan muda yang dikorbankan kepada sang pencipta, agar dosa dan salah termaafkan dan hidup terhindar dari bencana. Sumber lokal mengatakan, Lide telah dikenal sejak zaman kerajaan atau sekitar tahun 1300 silam. Namun menurut para peneliti, musik tradisi ini sudah ada sejak 5.000 tahun. Secara fungsi, musik Lide mempunyai makna yang luas seiring sirkulasi kebudayaan lokal pada masa purba (dinamisme) hingga era masuknya agama-agama samawi.(*)


Discussion about this post