Kekuatan utama pendidikan di Indonesia adalah para pengajar yang tak kenal lelah berjuang. Guru-guru di SMP Negeri Pomoman menjadi satu dari banyak gambaran keuletan dan semangat mencerdaskan anak bangsa. Mereka sejatinya pahlawan, kendati tanpa tanda jasa.
Gratia Tulung tak boleh kelelahan. Tanggung jawabnya mendidik siswa-siswi SMPN Pomomon, salah satu desa di Kecamatan Poigar Bolaang Mongondouw memang tidak mudah. Bersama 6 rekan pengajar lain, setiap hari ke tempat tugas mereka melewati jalur ‘tidak normal’. Setidaknya 7 sungai mengadang perjalanan ketujuh guru menuju sekolah dengan kedalaman antara 7-100 cm. Kontur tanah juga berbukit dan lembah. Bila cuaca tak bersahabat, mereka sering disambut arus bandang hingga longsoran tanah.
Sedangkan jarak antara pemukiman guru ke SMPN Pomomon sekitar 11 kilometer. Mengingat ketidaknormalan tadi, tak semua jarak tempuh bisa dihabiskan dengan kendaraan bermotor. Setiap pagi butuh 45-60 menit untuk tiba di tempat tugas, tergantung kondisi lapangan. Artinya, berbeda dengan guru-guru di perkotaan, Gratia dkk perlu bersiap lebih subuh agar tidak terlambat datang mengajar.
“Walaupun jarak yang jauh dan banyak rintangan yang harus dilewati saya tetap semangat untuk mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik bagi anak-anak yang ada di Desa Pomoman,” ungkap Gratia pada Barta1.com, Rabu (02/03/2022).
Sejak pertama kali dikirim ke Pomomon oleh instansi terkait pada awal tahun 2020, Gratia langsung paham kendala apa saja yang ditemui saat bertugas. Selain keterbatasan infrastruktur menuju sekolah, juga di sekitar situ tidak ada akses internet. Padahal kita semua tahu, kata perempuan kelahiran Tumpaan 4 Agustus 1995 ini, internet menyajikan media informasi yang dibutuhkan untuk membangun sumber daya dalam sekolah.
Satu lagi menurut dia adalah belum adanya rumah dinas yang disediakan untuk semua tenaga pengajar. Sehingga ini menjadi poin krusial yang perlu dipikirkan lembaga pemerintah terkait, termasuk pembangunan akses jalan yang memadai dan ramah. Karena lanjut dia, jalur utama menuju Desa Pomomon sering tertutup longsor dan pepohonan tumbang kala cuaca berubah ekstrim.
Lantas dengan banyaknya kendala, Gratia dkk patah arang? Tidak seperti itu. Sebagai guru, mereka diangkat dengan sumpah atas nama pendidikan yang memerdekakan masyarakat dari ketertinggalan. Tugas utama para guru SMPN Pomomon adalah membawa anak didik yang kini berjumlah 12 siswa ke arah masa depan yang cerah. Karenanya, Gratia tak boleh lelah, apalagi menyerah. Mereka melatih mental untuk siap dengan kondisi, karena hanya yang siap yang bisa bertahan.
“Sebagai suami sangat bersemangat menemani istri dalam menjalankan tugas negara. Para siswa di Desa Pomoman harus mendapatkan pendidikan yang setara dengan siswa yang ada di Perkotaan,” ujar Viando Imanuel Manarisip, suami Gratia, yang juga terus berjuang mendampingi istrinya. .
“Semangat siswa untuk belajar mendorong saya dan istri semangat untuk bolak-balik dari kediaman kami tinggal menuju ke sekolah untuk mengajar,” cetus Viando. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post