• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Selasa, Juli 28, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home SWRF

Mengenal Dunia Mitologi Sangihe Talaud

by Redaksi Barta1
14 September 2021
in SWRF
0
Mengenal Dunia Mitologi Sangihe Talaud

Deretan pulau di Sangihe Talaud. (foto: ronny buol)

0
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Iverdixon Tinungki

Sangihe Talaud adalah negeri kepulauan yang memiliki riwayat mencengangkan tak saja dalam sejarah spiritual, tapi juga lewat keanekaan mitologi. Untuk menyemarakan Sangihe Writers & Readers Festival (SWRF) 2021, berikut ini kami sajikan, tulisan terkait dunia mitologi tersebut dikutip dari Buku “Nusa Utara Masa Purba Hingga Era Kerajaan” karya Iverdixon Tinungki.

Ketika Giacomo Gastaldi mencatumkan Sangil (Sangihe) dalam peta yang dibuatnya pada tahun 1528, Kerajaan Siau sudah berusia 18 tahun sejak diproklamasikan oleh Raja Lokongbanua II pada tahun 1510. Sementara kedatuan di pulau Sangihe yang didirikan Datu Gumansaļangi dan Permaisuri Ondaasa sudah berusia 178 tahun sejak berdiri pada 1350. Bahkan kedatuan ini sudah berusia 63 tahun saat Cheng Ho dalam ekspedisi ke IV tercatat sebagai pengelana laut pertama yang melintasi kepulauan Sangihe Talaud dalam 2 tahun pelayarannya sejak 1413 hingga 1415. Pada era inilah sejarah mulai ditulis oleh para pendatang. Pada masa sebelumnya, sejarah lebih banyak tersimpan dalam mite dan legenda. Demikian mitos dan legenda dalam ribuan tahun Nusa Utara menyajikan jejak tua asal-usul manusia di kepulauan itu.

Manusia Berevolusi Dari Pohon

Sebuah legenda mengisahkan manusia pertama di kepulauan Sangihe Talaud berevolusi dari pohon pisang Abaka (Musa textilis). Rahasia penciptaan dalam pandangan dunia kuno Sangihe Talaud ini dapat dipersandingkan dengan pandangan esoteris orang-orang Mandrake, sebagaimana dipersaksikan sejarawan Herodotus dari Yunani pada abad ke 5 SM.

Seperti pohon, manusia dalam pandangan dunia esoteris Sangihe Talaud juga berkembang secara hermafrodit seperti Hawa yang dibentuk dari tulang Adam. Cara reproduksi lainnya disebut parthenogenesis. Bagian dari tumbuhan jatuh dan tumbuh menjadi sebuah tumbuhan baru. Tumbuhan baru itu merupakan penerus dari yang lama sehingga dalam beberapa hal tidak mati.

Peninggalan alam pemikiran lama ini, hingga generasi kini masih bisa membauni lewat peninggalan khazanah sastra lama. Larik-larik syair lama seperti: “katuwokatamang” (tumbuh dan hiduplah), atau “sombo ndai sombo, Tuwo ndai tuwo” (hidup dan hiduplah, tumbuh dan tumbuhlah) adalah contoh dari bagian dalam frasa besar alam pemikiran nabati Sangihe Talaud.

Di pulau Kakorotan, Nanusa, Talaud Utara, masyarakat setempat hingga kini percaya adanya pohon kehidupan yang disebut “Pohon Lawa” pernah tumbuh di sana. Di Bannada, pulau Karekelang, pohon Lungkang dimitologikan sebagai penjelmaan seorang perempuan bernama “Nahangging” yang merupakan ibu mitologis dari suku bangsa Porodisa, Talaud.

Dalam pengajaran rahasia yang disebut “Sasasa” masyarakat purba Sangihe Talaud, memetaforkan manusia sebagai pohon. Peninggalan puisi-puisi purba seperti “Sasambo” juga menegaskan konsep pemikiran esoteris nabati itu. Larik yang menyebut “kalunairi” (Cabang yang patah) adalah penggambaran kehidupan manusia yang mati.

Dalam ikonografi orang-orang Sangihe Talaud purba, manusia disimbolkan sebagai pohon yang hidup (kalutamata). Simbol ini mengisyaratkan asal-muasal kehidupan manusia. Sementara setan disimbolkan sebagai kayu kering (Kaluhegu). Simbol lain tentang semak di gunung, disebut “Utae” (rambutnya). Hutan di bukit disebut “Wembange” (pundak). Sementara kebun di lembah gunung disebut “Sulaede” (kaki). Bahkan hingga kini orang Sangihe saat mengucapkan selamat Hari UlangTahun (HUT) kepada seorang kerabat dengan sebutan “Pakalaluhe, pakaumbure” (tumbuhlah tinggi, panjanglah umur). Eksistensi pepohonan dalam tradisi esoteris ini termaktub dalam bagian tradisi besar “Sasahara dan Sasalili” (Budaya Laut dan Budaya Pulau). Bagi masyarakat tradisi di sana, semua pohon memiliki kehidupan, bahkan setiap pohon memiliki dewanya sendiri, dan dari pohon manusia itu berasal. Pandangan esoteris ini menempatkan delusi, khayalan, dan kemauan, berada di antara kekuatan-kekuatan besar di alam semesta. Sungguh sebuah pandangan dunia yang menakjubkan.

Peri Air dan Putri Kayangan

Seperti dalam mitologi Yunani, pada jarak paling dekat, Putri Lohoraung, pendiri kerajaan Tagulandang (1570-1609) dipandang sebagai salah satu kaum Nimfa. Manusia dongeng yang hidup dan berasal dari dunia air atau lautan yang datang ke dunia nyata. Masyarakat dari ujung Kampung Buha hingga bentangan lain di Minanga, hingga kini percaya Lohoraung bukan manusia biasa. Ia dianggap peri cantik yang ditemukan dalam keadaan telanjang setelah terhempas badai besar yang menerpa pulau Tagulandang. Kerena kecantikan dan kemampuan lain yang dimilikinya sebagai sosok peri, Lohoraung kemudian diangkat menjadi pemimpin negeri kepulauan itu.

Para tetua di pulau Siau juga punya kisah tentang peri dari dunia air yang pandai berkidung disebut “Ingang”. Peri-peri ini suka menyanyikan lagu-lagu memikat hati hingga manusia tertarik menemuinya, lalu kawin dengan mereka atau membunuhnya.

Cerita semacam itu juga sama dengan dunia para Siren atau Seirenes, perempuan-perempuan ajaib dalam mitologi Yunani. Mereka termasuk kaum Naiad, salah satu kaum Nimfa yang hidup di danau atau lautan. Mereka tinggal di sebuah pulau yang bernama Sirenum Scopuli, atau di tanjung Pelorum, pulau Anthemusa, pulau Sirenusian dekat Paistum, atau di Capreae, yaitu tempat-tempat yang dikelilingi oleh batu karang dan tebing. Mereka menyanyikan lagu-lagu memikat hati yang membuat para pelayar yang mendengarnya menjadi terbuai sehingga kapal mereka menabrak karang dan tenggelam. Di Yunani, para Siren ini kadang menikah dengan manusia dan mempunyai keturunan. Mereka adalah para putri Akhelous dengan Terpsikhore, Melpomene, dan Sterope. Menurut sumber mitologi Yunani jumlah para Siren ini saat berkumpul disuatu tempat mandi yaitu sembilan.

Di Siau juga ada “Akesio” (Air Sembilan) di Kampung Beong, Kecamatan Siau Tengah (Siteng), yang diriwayatkan sebagai tempat mandi sembilan bidadari dalam dongeng “Sense Madune” yang berhasil menikahi seorang bidadari hingga membuahkan seorang anak bernama “Pahawo Suluge” lalu menjadi moyang orang-orang Siau dalam versi dongeng.

Kisah legendaris dari mitologi Yunani seperti Dryad atau Peri Hutan, Nimfa dan juga Siren, tak lebih sama dengan cerita rakyat orang-orang Bannada, Talaud tentang “Lamaru dan Bidadari Bahangging”. Orang Bannada di zaman dahulu menamakan kampung mereka Wantane. Disebut Wantane karena bentuk desa ini cekung seperti bentuk lunas kapal. Di belakang perkampungan penduduk ada sebuah gunung bernama Gunung Tanna, yang dirimbuni hutan lebat. Dikisahkan, di desa yang terletak di pulau Karakelang, Talaud ini pernah hidup seorang lelaki bernama Lamaru.

Di rumahnya, Lamaru hanya ditemani seekor anjing peliharaannya yang bernama Randipa. Suatu ketika, pergilah Lamaru dan anjing Randipa berburu ke hutan gunung Tanna. Sebagai anjing yang pandai, Lamaru sangat percaya pada naluri Randipa dalam mengendus buruan. Tetapi dalam perjalanan kali ini, Lamaru merasa, Randipa seperti menuntunnya ke suatu tempat yang belum pernah didatanginya. Setelah menempu perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang misterius di hutan itu. Ada sebuah kolam pemandian yang airnya sangat jernih. Tak lama, turunlah sembilan bidadari yang sangat cantik ke kolam itu untuk mandi. Lamaru begitu terpana, karena sembilan bidadari itu wajahnya hampir sama. Namun begitu ada satu yang wajahnya menyerupai gadis yang selalu datang dalam mimpinya. Lamaru tiba-tiba merasa yakin inilah perempuan yang ia cari selama ini. Setelah para bidadari melepaskan sayapnya ke atas rumput di pinggir kolam dan turun ke dalam kolam untuk mandi, Lamaru dengan mengendap-endap mendekati sayap bidadari yang dikenalnya itu, lalu mengambilnya dan menyembunyikannya di suatu tempat.

Seusai mandi, terbanglah kembali mereka ke khayangan. Tetapi salah seorang dari mereka tak bisa terbang lagi karena sayapnya hilang. Bidadari cantik itu menangis terseduh-seduh ditinggal saudara-saudaranya. Pada saat itulah Lamaru pergi menemuinya. Sejak itu pula, Lamaru dan Nahangging hidup bersama sebagai suami-istri. Lamaru pun memanggil istrinya dengan nama Woi Nahangging. Sementara Nahangging memanggil suaminya dengan nama khusus hanya untuknya yaitu Porodisa.

Manusia Hobbit Apapuhang

Sejarah penduduk Pulau Sangihe juga punya kisah manusia kecil nan imut yang disebut Apapuhang. Mereka kini ras manusia yang tak lagi kasat mata yang mendiami tempat bernama Balang Apapuhang. Sebuah lembah di Pulau Sangihe.

Beberapa ahli sejarah menyimpulkan, Apapuhang adalah manusia awal (pra-sejarah) yang mendiami lembah indah itu. Mereka hidup bersamaan dengan era para raksasa (Angsuang), kemudian disusul homo sapiens lainya—terutama ras manusia biasa yang disebut dalam nama lokal, Ampuang. Orang boleh tak percaya, namun fakta tentang keberadaan manusia Hobbit Sangihe yang hidup sejak ribuan tahun lalu itu dicatat sumber-sumber sejarah lokal.

Dr. Ivan RB Kaunang SS, MHum adalah salah satu sejarawan terkemuka yang dimiliki Sulawesi Utara yang percaya Apapuhang pernah ada. “Bulan Sabit di Nusa Utara” (2010) adalah salah satu dari sekian buku yang sudah ditulisnya. Dalam buku sejarah yang mengupas tuntas sejarah masuknya Islam di Sangihe ini, Kaunang menyentil perihal nenek moyang suku bangsa Sangihe dan Talaud yang disebutnya berasal dari beberapa suku yakni suku Apapuhang, suku Ansuang, dan suku yang datang dari Merano dan Kotabato Filipina, Suku yang datang dari Bowontehu dan keturunan bidadari khayangan.

Apapuhang lebih spesifik disebut Kaunang, sebagai jenis manusia alam yang semata-mata tergantung pada alam. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri, yang sebagian telah bercampur dengan bahasa-bahasa Filipina. Pengajar sejarah di Universitas Sam Ratulangi ini menulis, suku Apapuhang terbagi dalam empat sub suku yaitu (1) Deduhe Batang, suatu kelompok yang berumah di bawah pohon besar yang telah tumbang, (2) Dalige Kalinsu, suatu kelompok berumah di tengah-tengah banir pohon besar, (3) Nanek, suatu kelompok yang tempat tinggalnya berpindah-pindah, dan (4) Tamak, suatu kelompok yang lebih rendah derajatnya dan tempat tinggalnya tidak menentu.

Kembali ke lembah Balang Apapuhang. Data-data yang tersedia memaparkan, tempat hidup para Hobbit versi Sangihe itu terletak di sebelah timur kaki gunung Awu, Sangihe. Di era kerajaan abad 15, kawasan itu termasuk dalam lanskap kerajaan Tabukan. Lembah ini di masa lalu adalah kawasan dengan pemandangan menakjubkan, dihiasi sebuah air terjun dan area hutan yang lebat. Sebagaimana gambaran dunia para hobbit dalam film The Lord of the Rings, kaum Apapuhang disebut-sebut pernah bermukim di sana, sebagai kelompok masyarakat yang menghuni rumah-rumah pohon dan hidup layaknya manusia pada umumnya. Tentang bangsa hobbit Sangihe ini, tak sedikit legenda dan mitos yang menyebut mereka adalah penemu berbagai teknologi maju di zamannya. Antara lain teknologi pembuatan perahu, anyaman dan tenunan, alat-alat musik, peralatan perang, alat rumah tangga, dan teknik membangun rumah. Mereka juga punya sistim kekerabatan mulai diatur sampai kepada persekutuan hukum yang mengikat kebersamaan.

Belakangan, mereka dikatakan telah membangun sebuah kerajaan yang dikepalai oleh seorang raja. Istana raja mereka adalah sebuah bangunan megah yang berbalutkan emas, di kawasan air terjun Apapuhang, di lembah Balang Apapuhang. Sayang dikemudian hari, kata para punggawa adat Sangihe, kerajaan para Hobbit ini lenyap akibat ulah manusia biasa. Mereka memilih menjauh dari lingkungan hidup manusia pada umumnya, dan hidup pada dimensi dunia lain yang tak kasat mata.

Manusia-manusia Raksasa

Di pesisir kampung Peling, ada jejak kaki berukuran besar di bebatuan. Sepelempar pandang ke laut, sebuah pohon tumbuh di batu Kasahu. Benarkah itu artefak dunia mitologis para raksasa dari era pra-sejarah di pulau Siau

Sebagaimana di Peling, didongengkan sebagai jejak raksasa Linsaha dan Onding, di Kota Tahuna, penduduk setempat akrab dengan kisah Bakeng. Kendati artefak mitologis yang dipercaya sebagai celana sang Bakeng di punggung gunung Awu tak lebih dari hamparan bukit batu yang luas dan besar ungkap Rikho Sidangoli (23), aktifis lingkungan yang sedikitnya sudah 26 kali mendaki gunung dengan jenis strarovolcano yang menjulang 1320mdpl di pulau Sangihe itu.

Di Talaud, selain dikenal sosok raksasa Wangkoang, penduduk Karakelang juga mengoleksi kisah makhluk raksasa seperti Yologe yaitu sejenis babi yang ukuran besarnya beragam. Jenis Sandapa panjangnya satu depa atau lebih dari satu meter. Jenis Santariup panjangnya dua depa atau mendekati tiga meter. Jenis Sanding Porong’nga panjangnya lima depa atau lebih dari enam meter. Jenis Salareang panjangnya tujuh depa atau mendekati sembilan meter. Lalu jenis Sabtani’a panjangnya sepuluh depa atau kurang lebih dua belas meter. (*)

Barta1.Com
Tags: iverdixon tinungkiMitologi Sangihe TalaudNusa Utara Masa Purba Hingga Era Kerajaan
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Bank SulutGo Kembali Raih Penghargaan Infobank

Bank SulutGo Kembali Raih Penghargaan Infobank

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Tumbuh Bersama Danantara, Pegadaian Cetak Kinerja Gemilang di Semester 1 Tahun 2026 28 Juli 2026
  • Merlia Humambi: Pelatihan Kearsipan Digital Polimdo Sangat Berharga bagi Pelayanan Publik 28 Juli 2026
  • Polimdo Bekali Aparatur Kelurahan Malalayang Dua dengan Pelatihan Kearsipan Digital 28 Juli 2026
  • Bukan Sekadar Berebut Juara, Open Turnamen Bola Voli Justice Porodisa Cup Menjadi Ajang Telurkan Atlet Berprestasi 27 Juli 2026
  • Sidak SPKT dan Call Center 110, AKBP Arie Sulistyo Pastikan Pelayanan Prima bagi Masyarakat 27 Juli 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In