Manado, Barta1.com — Mewawancarai narasumber adalah persoalan teknis bagi jurnalis saat melakukan kerja lapangan. Persiapan diri menjadi penting, agar wawancara menjadi berjalan mulus dan hasilnya menjadi bahan terbaik dalam penyusunan berita.
Teknik Wawancara dan Reportase menjadi salah satu item tematik yang dikupas Zulkifli Madina dalam Pelatihan Jurnalistik yang digelar Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulut, di hadapan peserta dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Komda Sulut. Kifli, Pemimpin Redaksi KabarManado.com, mengingatkan pentingnya persiapan sebelum jurnalis turun mewawancarai narasumber.
“Ada wartawan sudah bertemu narasumber, tapi tidak tahu apa yang akan ditanyakan. Oleh karena itu persiapan mengenai isu dalam melakukan wawancara itu sangat penting,” ujar dia.
Karenanya menurut dia, pendalam isu adalah hal lumrah bagi jurnalis. Kemudian ada catatan untuk mendaftar pertanyaan yang diajukan. Juga tak kalah penting adalah mengembangkan pertanyaan untuk menyasar persoalan secara lebih dalam.
Pelatihan bagi mahasiswa anggota PMKRI itu bergulir di Sekretariat AMSI Sulut, Jl Elang Raya 3, Kelurahan Malalayang 1 Timur, Manado, Sabtu (4/9/2021). Ketua Komda PMKRI Sulut Stefanus Goni dalam sambutannya mengatakan, pengetahuan dan ketrampilan di bidang jurnalistik menjadi suatu kebutuhan bagi kalangan aktivis mahasiswa. Lewat media massa juga juga suara-suara kritis mahasiswa bisa disalurkan.
“Sehingga menjadi penting bagi kami untuk memahami dunia jurnalistik, untuk itulah digelar pelatihan ini,” ujar Goni.
Pelatihan ini diawali dengan materi pertama tentang Pers dan Jurnalistik yang disampaikan Ketua AMSI Sulut Agustinus Hari. Dipandu moderator Nofriyadi Sururama, dalam pemaparannya Pemred Barta1.com ini mengulas secara detail tentang pengertian pers, sejarah perkembangan pers di dunia dan di Indonesia, serta fungsi pers.
“Catatan sejarah menunjukan Sulut termasuk daerah di Indonesia tempat lahirnya surat kabar berbahasa Melayu di periode awal, yakni Tjahaja Siang di Minahasa tahun 1868,” papar Pemimpin Redaksi Barta1.com ini.
Materi kedua membahas tentang Kode Etik Jurnalistik (KEJ) disampaikan oleh Ketua Badan Pertimbangan dan Pengawas Organisasi (BPPO) AMSI Sulut Yoseph E Ikanubun. Dalam sesi ini, Ikanubun membahas satu per satu pasal dalam KEJ, diserta sejumlah contoh kasus etik yang terjadi dalam melakukan liputan maupun karya jurnalistik yang dihasilkan.
“Kode Etik Jurnalistik ini berisi 11 pasal, yang harus dipahami serta diimplementasikan oleh wartawan dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya sebagaimana amanat dalam UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers,” papar Ikanubun.
Di sesi terkahir, Pemimpin Redaksi Sulawesion.com Supardi Bado mengajak peserta untuk memahami Tekhnik Penulisan Berita, serta simulasi menulis berita. Bado memaparkan mulai dari pengertian berita, struktur, unsur dan nilai sebuah berita.
“Berita yang bernilai itu harus punya daya pengaruh yang kuat, dan juga menyuarakan kepentingan publik,” ujar Sekretaris AMSI Sulut ini.
Setelah memberikan paparan materi, para peserta diberi kesempatan untuk menulis berita terkait kegiatan pelatihan itu. Bahkan mereka juga melakukan wawancara singkat untuk melengkapi berita yang dibuat.
“Dari beberapa berita yang dibuat peserta ini sudah cukup baik, untuk itu terus mengasah kemampuan menulis,” kata Bado.
Karena masih dalam masa pandemi Covid-19, peserta kegiatan ini hanya dibatasi 17 orang, dan menerapkan protokol kesehatan. Peserta berasal dari sejumlah organisasi seperti PMKRI Cabang Tondano, PMKRI Cabang Tomohon, PMKRI Cabang Manado, Ikatan Mahasiswa Tomohon (IMT) Unima, dan World Cleanup Day. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post