Sangihe, Barta1.com – Rumah Makan Sunset Tahuna, yang terletak di Kelurahan Tidore, Kecamatan Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah sekian dari ratusan usaha kuliner di Pulau perbatasan Indonesia – Filipina yang berjuang keluar dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.
Fitri Lumiu, pemuda Kelurahan Tidore, Kecamatan Tahuna Timur menceritakan bahwa pada awal pandemi yaitu di tahun 2020 mereka sangat terpukul dengan sepinya pelanggan. Padahal di kalangan kuliner penyedia ikan laut rumah makan Sunset Tahuna salah satu andalan para tamu yang datang dari daratan Manado.
“Tahap pertama hampir 90% terpukul. Itu tahun 2020 selama 4 bulan memang sangat parah. Sekarang pun sebenarnya masih berasa. Kalau seperti kami kan pasarannya kepada tamu yang daang dari daratan Manado. Tamu sekarang kan sedikit. Apalagi kalau ada pembatasan kapal, memang sangat sedikit,” ucapnya ketika diwawancarai barta1, belum lama ini.
Bahkan raupan untung yang biasanya mencapai satu jutaan rupiah itu turun merosot jauh. Dia kehilangan tamu yang biasanya membuat dirinya dan beberapa karyawan super sibuk seharian penuh. Bahkan kata dia, awal pandemi seharian penuh tak ada tamu yang datang menikmati sajian makanan khasnya Ikan Woku, Bakar dan Kua Terang.
“Sebelum pandemi penghasilan bersih kami itu sekitar satu jutaan. Saat pandemi hari ini untung-untungan mendapat hasil 100.000. bahkan awal pertama 4 bulan itu parah-paraah sekali. Bisa satu hari itu tidak ada pelanggan sama sekali,” ujarnya.
Pelan-pelan terus berjuang, berharap pandemi akan segera berlalu. Dirinya tetap memegang teguh harapan akan bencana yang melanda umat manusia menjadi pelajaran terpenting menghadapi keterpurukan. Strategi-trategi konvensional seperti promosi melalui media sosial atau jasa pesa antar mulai dilakukannya. Sedikit-demi sedikit dirinya mulai bangkit.
“Proses bertahan kami melalui promosi medsos membuka jasa pesan antar dan mempergunakan relasi. Itupun tidak seberapa. Jadi waktu itu disiasati, pembelian bahan pokok dikurangkan,” ungkapnya.
Dengan angka kasus covid-19 di Kepulauan Sangihe sudah nol kasus, bahkan sudah beberapa minggu terakhir ini tak ada penambahan kasus baru lagi, Fitri mulai memberanikan membuka usahanya seperti biasa. Hal yang utama dilakukannya adalah menyesuaikan dengan kebiasaan baru dengan mengedepankan protokol kesehatan.
“Sekarang kami mencoba membuka kembali. Sesudah lebaran ketupat kemarin kami mulai. Alhamdulilah pelanggan mulai ada satu dua orang. Tetapi untuk mengembalikan seperti semula saya rasa belum karena tamu yang datang ke Sangihe masih sedikit. Di situasi pandemi ini tentu menarik kepercayaan pelanggan adalah mengedepankan protokol kesehatan seperti menyediakan tempat cuci tangan dan di tempat pembayaran ada hand sanitizer, baik semprot maupun jell,” ungkapnya sambil terus berharap pandemi segera berlalu.
Peliput : Rendy Saselah


Discussion about this post