• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, Mei 2, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Budaya

Menyemai Warisan Opo Toar di Tanah Malesung

by Agustinus Hari
22 Februari 2022
in Budaya, Kultur
0
Prosesi adat Rumeges Tumiwa Mangorai berlangsung di Taman Kesatuan Bangsa Manado, tepat di depan Patung Dot Lolong Lasut (foto: Ady/Barta1)

Prosesi adat Rumeges Tumiwa Mangorai berlangsung di Taman Kesatuan Bangsa Manado, tepat di depan Patung Dot Lolong Lasut (foto: Ady/Barta1)

42
SHARES
837
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Mempertahankan budaya leluhur telah menjadi pilihan hidup Johanis Pontoan. Lelaki paruh baya itu sudah menjadi praktisi budaya tua dari Tanah Malesung, Minahasa, lebih dari 4 dasawarsa. Di masa kini, dia satu dari beberapa Walian tersisa dari sub-etnis Tombulu yang terserak di kaki Gunung Lokon.

Walian adalah kaum pandita yang memimpin ritual keagamaan. Kelompok ini juga memiliki kemampuan khusus untuk mengobati atau “menganugerahi” kebal fisik bagi seseorang. Sambil memegang batang berdaun tanaman Tawa’ang’ para Walian menggunakan medium air, batu hingga akar-akar pohon dalam menjalankan misi spiritualnya.

Kemampuan itu juga kini diturun-temurunkan pada Johny, sapaan akrab Johanis Pontoan, oleh pamannya. Ditemui di kediamannya, Kelurahan Tara-tara Kota Tomohon beberapa waktu lalu, Johny tengah mempraktikkan pengobatan khas Minahasa tua pada seorang lelaki yang mengaku anaknya mendapat gangguan saat bekerja di luar daerah. Dia meminta lelaki itu membawakan 5 lembar jeruk swanggi.

“Ilmu ini saya dapat untuk menolong, bukan membuat susah orang,” cetus Johny beberapa waktu lalu pada Barta1.

Praktik budaya yang membawanya ke status sebagai Walian sudah ditekuni sejak berumur 12 tahun. Kini di usia ke-50-an, kemampuannya terasah matang. Bukan sedikit pasien yang datang meminta pertolongannya. Namun yang dia obati biasanya adalah penyakit ‘kiriman’. Beberapa tahun silam pernah juga Johny memimpin ritus perkawinan yang dilakukan dalam ragam budaya Minahasa.

“Melaksanakan tugas sebagai Walian menjadi panggilan jiwa buat saya, bisa menyembuhkan orang juga berarti saya ikut menjaga budaya Minahasa tetap hidup dan diyakini kemampuannya,” ujar dia.

Masing-masing Walian punya kekhususan tersendiri dalam menjalankan ritual. Ada yang bisa memanggil dan menerjemahkan bahasa burung Manguni, yang disebut Pasoringan. Sedangkan kemampuan dirinya adalah berinteraksi langsung dengan leluhur.

Roh leluhur bisa menempati raganya untuk menjalin komunikasi dengan orang di sekitar. Bagi yang sakit, roh orang tua nantinya akan memberikan petunjuk soal tata cara pengobatan. Pun begitu, leluhur juga akan memberikan batu pegangan yang bisa memberi kesaktian kebal. Kemampuan yang dimiliki Johny biasa disebut Paka’ampetan.

Walau banyak pelaku agama purba Minahasa, tak semua serta-merta menjadi Walian. Dalam skala berbeda, mereka bisa disebut Tona’as. Menurut Johny, di masa lalu, Tona’as adalah bagian penting dalam struktur sosial di suatu wanua atau desa. Kendati kemampuan mereka tidak seperti Walian, namun Tona’as juga bisa ikut membuat obat-obatan, menganugerahi penjaga diri, menjadi ahli cocok tanam serta ahli dodeso atau perangkap binatang. Para Tona’as akan maju berperang bila wanua-nya mendapat ancaman dari orang luar.

Dari mana kemampuan para Walian dan Tona’as berasal? Johny meyakini ini adalah warisan Opo Toar, leluhur orang Minahasa. Ilmu itu diturunkan pertama kali pada turunan Opo Toar dan Lumimuut yakni leluhur sub-etnis Temboan, Tombulu dan Tounsea. Kanuragan itu, diyakini sesuai ajaran yang dia terima berasal sebuah Zat yang menguasai alam semesta. Kuasa itu bukan mirip sistem dewa-dewi dari suku bangsa lain. Johny menyebut, dalam praktik agama purba, orang Minahasa telah mengenal Tuhan.

“Ilmu pengobatan dan kesaktian diajarkan oleh Opo Toar dan turun-temurun ke semua keturunannya orang Minahasa, namun yang terpenting semuanya itu merupakan pemberian Opo Empung Wailan atau Tuhan yang menciptakan langit dan bumi,” kata Johny.

Lirik doa Walian dalam seluruh ritual menunjukkan keberadaan kuasa yang lebih tinggi dari akal manusia. Salah satunya dalam awal permohonan mengobati: Tali-talingan ni Opo Empung Wailan Wananatas, niaku Tona’as Walian mengopei wianiko Ni Opo Empung Wailan Wananatas, niaku mower umpanawar wia si puyun kararawoi. Artinya, Tuhan yang Maha Tinggi, saya Tona’as Walian meminta kepada Tuhan yang Maha Tinggi untuk mengobati cucu yang sakit.

Kemudian, Ni anamo un tawa’ang pe’pespes ni Walian meirengan untana, mei kulele ni Opo Walian wiantana pinaesaan, wia sendangan, wo ma patalikuran, wanan timu wo wana amian, nianamo aantumepima u sumakit karawoi ni puyun. Artinya, Tuhan ini tawa’ang tanaman yang berasal dari tanah yang dibawa leluhur Walian mengelilingi Tanah Minahasa, dari Timur ke Barat, Selatan ke Utara, ini yang akan menyapu sakit penyakit dari si cucu.

“Secara filosofi, doa ini memohon pada Tuhan untuk memberkati medium yang akan digunakkan mengobati,” terang Johny.

Kemampuan Walian maupun Tona’as merapal doa ternyata berada di batas nalar manusia. Lirik demi lirik tak pernah tertulis secara khusus dalam bentuk buku yang diwariskan. Itu menurut Johny, dibisikkan oleh para leluhur yang kemudian terhapal dengan sendirinya.

“Tidak ada catatan-catatan khusus, roh orang tua yang langsung menyampaikannya kepada kami dan kemudian terhapal,” katanya.

Berbagai ritual itu juga tidak pernah terlepas dengan Salib. Simbolisasi karya keselamatan Kristus itu selalu terlihat dalam bendera maupun vandel yang digunakan saat upacara kebudayaan. Namun Johny membantah simbol salib merupakan sinkritisme antara budaya Minahasa dan agama Kristen yang dianut semua orang Minahasa. Dia bertutur, salib adalah tanda yang diajarkan oleh Opo Toar. Salib menurutnya merupakan simbolisasi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

Steven Maramis, salah satu praktisi budaya tua Minahasa mengatakan banyak tantangan yang dihadapi di masa sekarang. Ini karena ketika budaya lokal bertabrakan dengan agama yang dianut masyarakat menghasilkan stigma negatif dilekatkan pada kaum Tona’as dan Walian. Beberapa praktisinya menurut Steven bahkan mengalami pengucilan, dijauhi warga sekitar tempat tinggal. Juga difitnah karena dianggap menjadi pembawa bala.

“Secara moril pelaku budaya terintimidasi oleh anggapan bahwa mereka adalah tukang jampi yang bergaul dengan roh jahat, sesuatu yang dalam ajaran agama harus dijauhi, tapi pada kenyataannya tetap saja banyak orang (beragama) yang menemui Tona’as ketika mereka sakit,” sebut Steven.

Bagi dia praktik Tona’as dan Walian harus dipertahankan. Pertama, ini adalah budaya khas orang Minahasa yang patut dilestarikan. Kedua, Steven menganggap Walian bisa ikut mengobati yang membuat tugasnya tidak berbeda dengan tenaga medis.

“Budaya Minahasa tua ini tetap menjadi kebutuhan, kacang jangan sampai lupa pada kulit, apalagi kalau budaya itu sebenarnya sesuatu yang berguna semisal berfungsi untuk mengobati,” sebut dia.

Selebihnya, dalam kehidupan sehari-hari khususnya yang bersentuhan dengan layanan pemerintah bagi masyarakat, Steven menyebut tidak ada masalah. Praktisi budaya yang tersebar di Kabupaten Minahasa induk, Minahasa Tenggara, Kota Tomohon, Minahasa Selatan, Minahasa Utara bahkan Kota Bitung tetap diperlakukan sama dengan pemeluk agama arus utama. Hak-hak mereka dalam sisio-kultur masyarakat tetap terpenuhi. Status di KTP pun mencantumkan mereka sebagai pemeluk agama yang diakui negara.

“Sesungguhnya yang menjadi pelaku budaya tua Minahasa adalah pemeluk agama juga, jadi itu pula yang dicantumkan di kartu identitas, kami ikut datang di ibadah dan sembahyang pada Tuhan dan tentu saja mengimani Tuhan dalam kehidupan sehari-hari,” tandas dia.

Namun karena ini menyangkut budaya, bagi Steven pengakuan pemerintah untuk menjadikan praktik Tona’as Walian sebagai aliran penghayat resmi belum dibutuhkan. Ini karena pemerintah kata dia sudah memberi perhatian dengan kebebasan menjalankan ritual. Apa yang dilakukan itu merupakan upaya pelestarian budaya asli Minahasa.

“Pemerintahnya kan orang Minahasa juga, sudah menjadi panggilan mereka untuk tidak melupakan adat dan budaya,” katanya.

Akademisi Katolik Pst Paul Richard Renwarin Ps ikut mendalami budaya Minahasa. Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng di Kabupaten Minahasa itu membedakan Walian sebagai peran sosial di tengah masyarakat Minahasa tua.

“Walian berasal dari kata wali artinya pengantar, mereka lebih sebagai pembimbing spiritual, mereka menjalankan social role,” sebut Richard.

Sementara Tona’as lebih kepada gelar yang disematkan masyarakat kepada sosok yang unggul. Etimologinya berasal dari kata Tou yang artinya orang dan Ta’as artinya unggul.

Tona’as dan Walian tidak serta merta adalah pemimpin secara keseluruhan. Tak heran struktur masyarakat Minahasa purba tidak mengenal sistem monarki.

“Para Tona’as punya keunggulan di berbagai bidang, ada yang bisa menjadi pawang binatang, menyembuhkan orang sakit, mengarahkan pembangunan, membaca perubahan cuaca, dengan spesialisasi di masing-masing bidang mereka menjadi pemuka di tengah masyarakat tapi tidak ada salah satu yang menjadi raja, ini kemudian membuat orang Minahasa banyak pemimpinnya, jadi sistemnya big men,” sebut dia.

Di masa kini, sebagian orang Minahasa modern mempersempit peran Tona’as Walian sebagai tukang berobat. Walau kedengarannya baik, tapi terkandung stigma negatif di dalam situ. Tona’as dan Walian dianggap sebagai dukun yang mempraktikkan ilmu gaib. Tugas-tugas mereka di tengah masyarakat mulai terganti ketika agama Kristen masuk tanah Minahasa.

Upaya pekabaran injil salah satunya dilakukan dari pendekatan pendidikan dan agama memiliki identitas baru, “sehingga peran Tona’as dan Walian diganti oleh sosok-sosok yang telah mendapat pendidikan formal,” kata Richard.

Mempelajari budaya Minahasa serta agama purbanya, Richard menemukan figur Opo Empung Wailan dalam doa-doa para Tona’as Walian sejatinya bukan Sang Pencipta. Figur itu menurut dia jamak dan benar-benar merujuk pada leluhur atau para pendahulu. Istilah Opo berasal dari kata pu dari rumpun Astronesia yang artinya dihormati. Kata yang sama dengan pengertian persis sama pula digunakan masyarakat daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Apo, Puan, Ompung, Opung dan Empu.

Istilah ini bahkan ditemukan mulai dari Fiji, masuk ke Maluku, Kalimantan, Jawa hingga Sumatera.

“Jadi Pahopoan di Minahasa adalah kelompok yang diluhurkan, yang disembah berdasarkan kategori keilahian dan buka pada sosok yang esa, leluhur adalah sosok-sosok terdahulu yang dianggap memulai segala sesuatu. Nanti ketika Kekristenan hadir maka agama memiliki identitas baru di mana paradigma itu dirombak mengacu cuma pada 1 saja yang bisa disembah,” jelas Richard.

Simbol-simbol Kristen seperti salib dan pemakaian ayat Alkitab dalam prosesi dan ritual, ditemukan Richard sebagai upaya pemberi legitimasi dalam praktik budaya kelompok Tona’as dan Walian di era modern. Alkitab tidak digunakan sebagai bacaan, tapi lebih berfungsi sebagai wahana meramal.

Simbol salib digunakan untuk membuat ritual menjadi lebih bergengsi. Ini menurutnya merupakan bisa disebut sinkritisme. Dalam ritual tradisi, simbolisasi agama monotheism sesungguhnya bukan substansi tapi lebih sebagai aksesoris.

Kepercayaan dalam budaya asli Minahasa ini lanjut Richard tidak bakal lekang dimakan jaman, selama masih ada kelompok dan individu yang mempraktikkannya. Prosesnya berjalan dinamis, bahkan meluap di waktu-waktu tertentu yang mempengaruhi hajat hidup masyarakat. Dia ingat, tahun 1998 ketika negara dilanda krisis ekonomi, dari Minahasa justru bermunculan Tona’as-Tona’as muda.

Agama dan budaya adalah sesuatu yang berbeda. Richard pernah ikut memimpin ritual pemindahan waruga (kubur kuno orang Minahasa), sempat mendapat pertentangan dari pemuka agama. Namun bagi dia ada perbedaan besar antara menghormati dan menyembah.

“Dari pada mempertentangkan, kami kemudian lebih memilih untuk mempelajarinya,” cetus rohaniawan yang memelajari antropologi budaya di Universitas Leiden Belanda itu.

Dalam mendalami budaya Minahasa, banyak kesulitan yang dia temui. Penyebabnya tidak banyak peninggalan berbentuk tulisan untuk menggali kisah-kisah masa lalu. Yang paling tua adalah tulisan gubernur jenderal Ternate dari abad ke-17 yang menyempatkan diri mampir ke Tanah Malesung.

Namun tidak banyak yang bisa didapat dari catatan perjalanan tersebut. Selebihnya orang Minahasa mewariskan sejarahnya lewat tuturan. Selebihnya pun belum ada upaya arkeologi yang secara detil mengungkap arti simbol-simbol purba di situs peninggalan sejarah Batu Pinabetengen. Lokasi di Desa Kiawa Minahasa ini diakui merupakan tempat pertemuan para Tona’as di masa lalu untuk mengambil berbagai keputusan menyangkut kemaslahatan rakyat.

Budaya batu yang sering menjadi jimat kebal bagi pelaku budaya, menurut dia harus didalami dari pendekatan semiotika karena standar yang digunakan berbeda dengan ilmu-ilmu fisika. Hingga kini masih banyak orang Minahasa yang meminta jimat batu pada Tona’as sebagai pegangan. Dari berbagai fakta yang terjadi di tengah masyarakat modern nampak jelas pemegang jimat batu memang kebal senjata tajam. Bagi Richard, memang ada unsur misterius yang mengitari budaya Minahasa. (*)

(Penulis: Ady Putong)

Barta1.Com
Tags: Lumimu'utminahasaToartona'aswalian
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Catatan Pendek Katamsi Ginano dan Sajak-sajak Frangky Kalumata

Catatan Pendek Katamsi Ginano dan Sajak-sajak Frangky Kalumata

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Alarm bagi Pendidikan Vokasi: Teknik Mesin Polimdo Hadapi Krisis Minat dan Regenerasi Dosen 2 Mei 2026
  • Semarak Peringatan 63 Tahun Integrasi Papua di AMN Dipimpin Rektor Unsrat dan Kolonel Jacobus 2 Mei 2026
  • HUT ke-17 IKA Polimdo: Menebar Kepedulian, Menghidupkan Kasih di Setiap Langkah 2 Mei 2026
  • Supriyadi Pangellu: Pak Gubernur, Evaluasi Dulu Kinerja Calon Sekprov! 2 Mei 2026
  • Pemkot Kotamobagu Sebut Perda APBD 2026 Sudah Lolos Evaluasi Gubernur 2 Mei 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In