Manado, Barta1.com – Anggota DPRD Sulut Dapil Minsel-Mitra, Sandra Rondonuwu dengan tegas menyampaikan aspirasi masyarakat untuk penyediaan taman hutan rakyat, budaya dan meminta perhatikan nasib petani cap tikus kepada Gubenur Sulut, Olly Dondokambey.
Hal itu disampaikan pada rapat paripurna laporan kinerja kepemimpinan OD-SK periode 2016-2021, di Ruang Paripurna DPRD Sulut, Senin (29/3/2021) lalu. “Saya mau menyampaikan apa yang menjadi aduan masyarakat Minsel. Dimana ada satwa yang harus dilindungi yaitu yaki namun disatu sisi sudah banyak merugikan masyarakat oleh karena begitu banyak hasil pertanian yang menjadi incaran dari yaki. Sehingga masyarakat setempat sangat tergganggu, untuk itu saya mengusulkan kiranya dapat dibuat taman hutan rakyat di Minsel. Dan itu kewenangan pengelolaannya sesuai dengan UU 23 tahun 2014,” ujar Rondonuwu.
Ia menyampaikan, hal yang kedua tentang cap tikus. “Saya sangat prihatin terhadap kondisi masyarakat kita. Petani kita sebagai pengelolah cap tikus yang sudah turun-temurun bahkan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka, tetapi saat ini kita melihat bagaimana tindakan yang dialami mengelola cap tikus, dan yang menjual cap tikus. Seolah-olah yang menjual prodak atau mengelola cap tikus mengalami benturan dimana tindakan-tindakan yang dilakukan supaya produksi tidak dilakukan lagi. Ini segera harus dicarikan solusinya sehingga petani kita sebagai pengelola cap tikus mampu dan bisa secara leluasa menghasilkan prodak-prodak tersebut dan bagaimana cara pemasarannya,” jelasnya.
Dan yang ketiga tentang budaya, yang sudah disinggung oleh Gubernur Sulut. “Kami sangat berterimakasih masyarakat Sulut memiliki gubernur yang perduli dengan budaya, dan bolehkan kemudian saya mengusulkan supaya dilakukan pertautan daerah bahwa bahasa yang ada di Sulut baik dari Minahasa, Sangihe dan Bolaang Mongondow dijadikan muatan lokal di SD dan SMP. Harus adanya kurikulum bahasa daerah di SD dan SMP, karena harus diakui bahasa daerah sudah makin punah,” ucapnya.
“Saya mau memberikan contoh dibeberapa daerah sudah tidak tahu sama sekali tentang budaya mereka sendiri, padahal bahasa itu adalah ciri khas dan jati diri kita sebagai masyarakat yang ada di Sulut. Saya kira 3 usulan ini mendapatkan perhatian dari Pemerintah Provinsi Sulut dan kita sebagai DPRD Sulut,” pungkasnya.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post