Sahabat Peteater! Bagi saya, pandemi yang saat ini kita hadapi, tak lebih dari waktu jeda, setelah sekian lama kita bekerja terbuka di panggung-panggung seni pertunjukan.
Memang berdampak minor bagi kita, pekerja seni teater yang memerlukan panggung untuk mementaskan karya kita. Saya sendiri, batal manggung “Nyanyian Angsa” karya Anthon Chekov, walau sudah merancang sejak medio 2019. Begitu juga beberapa program dengan pekerja-pekerja pemula dan muda, tertunda. Yang kita lakukan sekarang, adalah “belajar di rumah” saja.
Buat saya Covid-19 ini, adalah waktu jeda. Waktu dimana kita boleh melakukan kritik-diri, mengenali berbagai persoalan me Bundasar dunia kita: dunia-dalam-diri dan dunia-luar-diri kita dengan objektif. Agar kelak kita bisa menawarkan visi peradaban yang baru dengan sudut pandang kemanusiaan yang memadai sesuai era kekinian.
Karena itu, dalam memaknai waktu jeda ini, diperlukan sebentuk sikap yang terbuka dan jujur untuk mau melakukan pembongkaran diri dengan lugas, jujur dan berani. Itu bila kita mau terus membangkitkan isu-isu yang lebih bernas sesuai jaman dan kebutuhannya.
Kita tidak lagi berada di era kita dulu, ketika kita masih muda. Justru saat ini, ketika masih berkiprah di dunia yang sudah kita pilih puluhan tahun ini, kita justru sudah berkiprah bersama anak-anak kita, adik-adik kita yang pola berpikirnya tentu sudah berubah. Inilah manfaatnya waktu jeda itu, menyesuaikan panggilan itu sendiri, agar tetap memadai dan selaras dengan era yang kita hidupi saat ini.
Saya pikir, dampak Covid-19 memang sangat menyulitkan kita, apalagi masa pandeminya tidak dapat dipastikan dengan tepat masa berakhirnya. Tentu ini akan menggangu ekonomi pribadi kita, tetapi toh yang digolongkan pekerja seni atau seniman, ia sudah terlatih dengan situasi yang memerih ini.
Bukankah sepanjang hidupnya, menjalani masa-masa panggilannya, sang pekerja seni itu terus dan terus saja dilanda “pandemi” karena kurangnya apresiasi yang memadai atas pilihannya itu?
Kita juga harus jujur, bahwa di masa normal saja, panggung-panggung pertunjukan toh jarang kita hidupkan karena keterbatasan kemampuan manajemen produksi kita sendiri, dalam meyakinkan pemilik modal mendukung karya-karya kita.
Kita tentu “kalah” dengan kemampuan seni-seni terapan lainnya yang mampu merayu pemilik uang mendukung event-event yang mereka bikin.
Seni teater atau seni pertunjukan yang memang rumit itu, memerlukan ekstra potensi diri agar bisa menyalakan lampu-lampu panggung dan menggemuruhkan pentas-pentas teater melalui sajian-sajiannya yang mumpuni.
Nah, di masa pandemi ini, kendati kita juga sesungguhnya terseok-seok, bukankah lebih baik kita manfaatkan waktu jeda ini untuk melakukan kritik-diri, sambil terus belajar dan bekerja dengan orang-orang muda dan para pemula yang tetap setia dan bersemangat berkarya.
Jangan menyerah dan putus asa, kita toh justru terbiasa berkarya sambil puasa senin-kemis, dan hasilnya acapkali membikin kita terkejut. Saya terus bekerja, belajar di rumah dan berkarya di panggung-panggung dari gedung-gedung bekas perkantoran yang ditinggal begitu saja, nyaris ambruk dan tak terawat, yang tata cahayanya remang-remang, tapi hati saya terang dan gembira selalu.
Syukurlah, dari upaya memaknai waktu jeda di masa pandemi ini, saya sempat menyelesaikan tanggung jawab saya sebagai pemeran dalam film layar lebar “Mariara”, dan juga bekerja sebagai dramaturg, dalam pementasan yang dilaksanakan oleh North Celebes Creative Lab (NCCL), setidaknya di dua pertunjukan, yakni “Drama Musikal Negeri Bitung” – pentas secara virtual pada 10 Oktober 2020 dari GOR Kota Bitung, dalam rangka penutupan Festival Pesona Selat Lembeh 2020, dan pentas lakon “Hikayat Dotu & Kekuasaan” di tiga kota: Manado, 3-4 Desember; Langowan, 6 Desember, dan Bitung, 7-8 Desember.
Sahabat Peteater, menjadi garam memang tidak mudah, kendati amanat Semesta itu ditujukan kepada setiap insan hidup, agar kita bertumbuh menjadi garam di antara sesama. Belajar dari garam, tak terlihat tapi terasa. Jangan mau seperti gincu, banyak warna tak jelas rasanya. (*)


Discussion about this post