Kendati tak punya gedung teater yang representatif, dalam 40 tahun terakhir, Manado boleh disebut sebagai ‘Kota Teater’. Setiap tahunnya ratusan bahkan ribuan pertunjukan dipentaskan diberbagai tempat di kota ini.
Pertengahan 1986, sebagai anggota Komisi Musik dan Seni Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), saya dan dramawan Johny Sangeroki cukup beruntung mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan Teater yang dipusatkan di Bengkel Teater Rendra Depok, Jawa Barat.
Pendidikan dan pelatihan teater yang diselenggarakan oleh Yayasan Komunikasi Massa (Yakoma) Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) untuk seluruh perutusan gereja di Indonesia dimaksudkan untuk mendukung program strategis PGI menjadikan teater sebagai media penyampaian Firman.
Baca juga: Jejak Teater Modern di Manado (5): Beberapa Pertunjukan Yang Berkilau
Selama pendidikan yang melibatkan sejumlah guru dan mentor dari kalangan dramawan terkemuka Indonesia, Puskat Jogya dan Yakoma Jakarta, saya lebih memilih mendalami penulisan naskah dan penyutradaraan, sedangkan Johny Sangeroki mengambil keaktoran dan pemeranan.
Target yang ingin dicapai dari pendidikan dan pelatihan ini yaitu para peserta didik sekembalinya ke daerah masing-masing diharapkan menjadi penggerak pada pertumbuhan grup-grup teater gerejani.
Ini sebabnya, saya dan Johny Sangeroki sejak 1987 memberikan banyak waktu dalam membina berbagai grup teater di lingkungan gereja, serta membuat standarisasi sistem penjurian dalam festival teater gereja –terutama di lingkup GMIM—yang sudah marak berlangsung sejak awal 1980-an hingga saat ini.
Perkembangan teater di lingkup GMIM bisa disebut sebagai nadi utama dalam kehidupan teater di daerah ini yang digerakan ratusan sutradara dan pembina teater diberbagai aras Jemaat bahkan aras Kolom. Sebagai salah satu lembaga gereja terbesar di Indonesia, GMIM terbagi dalam 127 wilayah dan 1.003 Jemaat, dengan jumlah Kolom yang bila dirata-ratakan 10 kolom per-jemaat maka ada 10.000 kolom lebih di seluruh aras Sinodal.
Dengan jumlah aras pelayan GMIM sebanyak itu, kita bisa membayangkan berapa jumlah peristiwa pertunjukan teater di lingkup GMIM setiap tahunnya. Di GMIM, selain festival teater tahunan yang dilakukan Komisi Pemuda dan Komisi Remaja GMIM yang selalu diikuti sejumlah grup utusan gereja dari berbagai aras wilayah pelayanan, juga ada tradisi pertunjukan teater dalam perayaan Paskah dan Natal.
Baca juga: Jejak Teater Modern di Manado (4): Dari Minim Hingga Alit Muara
Bila estimasi jumlah pementasan dihitung dari pertunjukan perayaan Natal dan Paskah di aras Jemaat dan aras Kolom maka dapat ditarik kesimpulan sederhana yaitu ada ribuan peristiwa pentas teater di lingkup GMIM setiap tahunnya.
Pertunjukan-pertunjukan non festival juga berlangsung di lingkup denominasi gereja lainnya selain GMIM. Juga di lingkup organisasi keagamaan seperti pertunjukan teater di lingkungan Pemuda dan Remaja Masjid. Pertunjukan teater di lingkungan organisasi sosial kemasyarakatan, sanggar-sanggar seni, dan grup-grup teater serta kegiatan pertunjukan di lembaga pemerintahan dan swasta.
Sementara sejumlah festival juga menyemaraki kehidupan teater di Manado sejak penghujung 1979. Festival teater yang paling marak di era itu yaitu Festival Teater November yang dimotori para dramawan dari angkatan awal teater modern di daerah ini, seperti antaranya Baginda M Tahar, Husen Mulahele, Roydra Kairupan, Benni M Matindas, Karel Takumansang.
Festival November kemudian berhenti di era 1980-an diganti dengan Festival PATSU yang dilaksanakan oleh organisasi Persatuan Artis Teater Sulawesi Utara yang dimotori pendiri PATSU dramawan Masri Paturusi, Richard Remrev dan para seniman teater era awal. Festival PATSU terakhir berlangsung pada tahun 2011, dan selama 9 tahun terakhir organisasi para peteater ini nampak mandek.
Baca juga: Jejak Teater Modern di Manado (3): Para Pesohor yang Rendah Hati
Festival terbuka untuk umum juga dilaksanakan oleh kalangan pemuda remaja Masjid. Pada pertengahan 1980-an ada Festival Tahunan Istiglal yang berlangsung di Kampung Arab Manado yang dimotori Husen Mulahele. Juga ada festival teater tahunan Remaja dan Pemuda Masjid Wawonasa yang dimotori dramawan Uche Ismail.
Sejak 1980, Manado juga disemaraki sejumlah festival tahunan yang dilaksanakan oleh Yayasan Persekolahan di antaranya, Festival Teater SMA Kristen YPKM yang dimotori dramawan Inyo Cawan yang bertahan hingga pertengahan 1990-an.
Di lingkungan Kampus, ada festival tahunan yang dilaksanakan Organisasi Teater Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) yang dimotori dramawan Lefrand Takumansang, dan di Fakultas Sastra dimotori dramawan Reiner Emyot Ointoe.
Di lingkungan lembaga pemerintahan dikenal juga festival teater tahunan yaitu Festival Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan (Deppen). Festival Deppen berakhir seiring bubarnya lembaga pemerintahan ini di era Presiden Gus Dur. Ada juga Festival Teater Taman Budaya Sulut yang masih berlangsung hingga era 2000-an.
Festival teater tahunan untuk pelajar awalnya dilaksanakan oleh Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Sulut lewat Bidang Kesenian. Pada era akhir 1990-an festival untuk para pelajar ini berhenti dan digantikan oleh Festival Teater pelajar tingkat SLTA dan SLTP yang dilaksanakan Kantor Bahasa Sulut yang masih terus berlangsung hingga saat ini.
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post