Menelusuri jejak Teater modern di Manado, sejatinya, membincangkan kisah hidup dan kehidupan para pekerja panggung itu sendiri, dan mereka pribadi yang unik dan esentrik.
Suatu pagi di awal 1980-an, saya benar-benar dibuat kaget oleh pamflet hitam. Stasiun angkutan kota (angkot) jalur Tuminting yang terletak di samping Shopping Center masih lengang saat saya tiba di sana.
Orang-orang yang sama-sama turun dari angkot ST20 tiba-tiba terhisap oleh pemandangan pamflet hitam yang terpasang berjejer di deretan tembok bangunan hingga ke berbagai sudut.
Pamflet-pamflet itu benar-benar terpasang atraktif dan provokatif. Semacam serbuan sebuah pasukan pamflet hitam yang menghatam stasiun. Dan, itu bukan pemandangan yang lumrah. Tapi itulah aksi Karel Takumansang, sang punggawa Teater Minim saat peluncuran buku puisinya berjudul “Kisruh”.
Buku kumpulan puisi Kisruh, sejatinya hanya sebuah buku tipis dengan isi 20-an puisi kontemplatif dan cinta, namun pengumuman penerbitannya dalam bentuk pamflet ukuran jumbo dan mewah, benar-benar menyerbu segala penjuru kota Manado. Bila dikalkulasikan jumlah cetakan pamflet jauh berkali-kali lipat dari jumlah cetakan buku.
Kehadiran buku kumpulan puisi Kisruh akhirnya menjadi buah bibir di mana-mana, dari Jalan Roda hingga 2 Kampus di Kleak, IKIP dan UNSRAT, dari Pasar Ikan Tua dan Jengki hingga Kantor Gubernur, Kodam dan Polda Sulawesi Utara Tengah.
Ketika itu, pemerintah Orde Baru cukup awas dengan aksi para seniman Indonesia. Andaikata buku kumpulan puisi Karel ini seprovokatif judulnya “Kisruh”, barangkali penyair dan dramawan esentrik itu sudah diinterogasi pihak keamanan. Beruntung isi bukunya adem-adem saja bahkan melangkoli.
Karel Takumansang adalah salah satu figur penting yang memberi detakan keras pada nadi kehidupan teater kala itu disamping Husen Mulahele dan Baginda M Tahar. Sarjana Seni Rupa lulusan IKIP Manado ini pendiri Teater Minim bersama dramawan Wempy Lontoh dan Wenny Pantaow.
Harus disebutkan, di Manado sejak pertengahan 1970 hingga akhir 1980, dapat disimpulkan ada 5 grup teater terkemuka: Teater Minim di Selatan Kota Manado. Teater Alit Muara yang digawangi Kamajaya Alkatuuk dan Teater Previdentia asuhan Roindra Kairupan di Utara Kota Manado.
Poros tengah kota Manado menjadi ladang pembinaan Husen Mulahele dengan Teater Manandow-nya dan Teater Lentera Baginda M Tahar. Selebihnya adalah Teater di lingkungan organisasi Pemuda Remaja Gereja, Pemuda Remaja Masjid, dan organisasi Karang Taruna Kelurahan dan Kecamatan.
Saya seperti juga dramawan Ventje Mait, sangat mengenal Karel. Ia senior yang selalu tampil flamboyan dan kalem. Sebuah syal berwarna gelap selalu tampak mengantung di leher dramawan kondang generasi awal ini. Stile berpakaiannya dikategorikan “gaul’ untuk era dia. Celana blue jins, kaos hitam dan sebuah jaket abu-abu panjang mencapai betis dan syal berwarna gelap dilengkapi sebuah topi pipih ala aktor-aktor Jerman, benar-benar menjadi ingatan akan keesentrikan Karel. Bicaranya pun sedikit, tapi aksi-aksi berkesiaannya selalu menggemparkan dan memukau.
Ventje Mait, dramawan kelahiran 26 Mei 1958 itu merupakan generasi pertama Teater Minim yang berdiri di pertengahan 1970-an, berpusat di aula gereja GMIM Bethesda Manado. Ia masih berusia sangat muda ketika mulai berperan dalam lakon-lakon besar kelas dunia seperti ‘Kapai-Kapai’ karya Arifin C. Noer, bahkan naskah-naskah dramawan asing seperti Anton Pavlovich Chekhov dari Rusia, atau karya-karya Moliere dramawan Prancis yang bernama lengkap Jean Baptiste Poquelin yang diproduksi Teater Minim.
Teater Minim, kendati cukup banyak memproduksi karya-karya besar, grup yang sangat berpengaruh di selatan Kota Manado ini hanya berumur kurang dari 10 tahun pasca-peralihan profesi para pendirinya. Satu-satunya generasi awal Teater Minim masih terus eksis di dunia panggung hingga kini tinggal Ventje Mait, dan generasi kedua Teater Minim yang terus aktif di jalan teater hingga akhir hayatnya yaitu Johny Sangeroki. Selebihnya, puluhan anggota Teater Minim telah berkarier di profesi lain, di antaranya, Wempy Lontoh menggeluti usaha peternakan, Karel Takumansang menjadi kotraktor, Wenny Pantaow menjadi dosen dan Pembina Paduan Suara.
Semasa dengan Teater Minim, di Manado Tengah, Teater Lentera dibina Baginda M Tahar. Aktor-aktornya yang sangat dikenal hingga kini antaranya Frangky Supit dan almarhum Frangky Kalumata. Tak sedikit anak didik lepasan Lentera, namun saat grup ini tutup buku, tinggal menyisahkan dua nama tersebut yang masih nyambi sebagai peteater di luar profesi utamanya sebagai PNS.
Teater Lentera semasa eksisnya banyak mementaskan karya-karya dramawan dunia, di antaranya karya-karya Anton Chekhov dan karya-karya cemerlang Baginda M Tahar semisal ‘Sayang Kembali di Ambang Fajar’.
Di Kampung Arab, Husen Mulahele menggawangi Teater Manandow. Sebagaimana Baginda M Tahar, Husen sendiri ketika itu menjadikan grup teaternya lebih fokus pada diskusi seni dan filsafat, pelatihan dasar seni teater dan penyutradaraan yang melibatkan semua anggota grup-grup teater yang ada di Manado waktu itu. Peserta latih yang berkecimpung di Teater Manandow biasanya akan kembali sebagai para sutradara di grup yang mereka bina sendiri.
Sistem pembinaan teater yang dilakukan Husen Mulahele dan Baginda M Tahar inilah yang menjadi pemicu ledakan grup peserta dalam Festival Teater November 1979 yang berlangsung sepekan di Gedung Kesenian Pingkan Matindas yang diikuti lebih dari 70 grup teater.
Jauh sebelum saya bergabung dalam dunia teater, semasa SMP saya telah mengenal Roindra Kairupan. Lelaki ‘vasung dan imut’ yang selalu tampil dengan gaya ala dramawan Putu Wijaya ini dapat dikatakan sebagai penerus tradisi tonil dari pendeta-pendeta Belanda.
Menyebut Roindra saya jadi ingat Rendra. Dramawan yang akrabnya disapa Roi ini sejak dulu memang sering mengidentifikasi dirinya semacam WS Rendra-nya Manado. Dengan Previdentia yang digawanginya, Roy boleh dikata merajai panggung-panggung teater gereja dengan tema-tema lakon bernuansa Kristiani. Previdentia mencampai puncaknya ketika mementaskan lakon Opera “Jusus Sang Super Star” sebuah lakon adaptasi dari drama karya Remy Sylado.
Pemantik kiprah Previdentia pada masa itu juga mendapat topangan kuat dengan bergambungnya dramawan Richard Rhemrev yang baru kembali dari Jakarta. Duet Roi dan Richard Rhemrev yang akrab di sapa Bu Ica, menjadikan Previdentia sangat disegani.
Di titik paling Utara, tepatnya di Karangria, Kamajaya Alkatuuk, mahasiswa Bandung yang pindah kuliah di IKIP Manado mendirikan Sanggar Teater Alit Muara. Kamajaya masih tingkat III di IKIP saat dia mendirikan Alit Muara.
Beberapa teman kuliahnya di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) seperti Hamri Manoppo juga ikut memperkuat Alit Muara. Dari grup ini lahirlah para dramawan di antaranya, Jusuf Magulili yang saat ini dikenal sebagai bintang drama televisi dalam peran Om Kale, Syarief Hamzah, Andi Lobos, Dharmawati Dareho, Nontje Paputungan, termasuk tentunya saya.
Alit Muara sendiri merupakan pecahan dari Sanggar Teater Remaja yang dipimpin Hijrah Aliu yang bubar di tengah jalan. Setelah Sanggar Teater Remaja tutup buku, Alit Muara muncul sebagai penganti membina puluhan peteater dan pesastra berusia muda. Alit Muara lebih banyak mengikuti tradisi pembinaan Husen Mulahele, yang menekankan pada pendidikan dasar teater, penyutradaraan dan tata artistik diskusi sastra dan filsafat.
Saya dan kawan-kawan di Alit Muara, lebih banyak menimba ilmu menulis puisi, esai dan menulis lakon. Kami belajar menyutradarai. Ini sebabnya, pentas-pentas Alit Muara yang menyasar panggung pertunjukan dari kampung ke kampung lebih banyak diwarnai lakon-lakon eksperimental karya para sutradara muda.
Kendati demikian, drama-drama Yunani seperti Dewi Rosa Delima pernah digarap Kamajaya sebagai sutradara, dan juga beberapa nomor pertunjukan dari lakon-lakon terkemuka para dramawan Indonesia. Alit Muara juga tak berumur panjang. Grup ini berhenti beraktivitas di penghujung 1980-an oleh karena Kamajaya lebih fokus sebagai dosen di kampusnya IKIP Manado (saat ini UNIMA).
Sebagai catatan, di Manado, pada umumnya teater tak dipandang sebagai profesi yang menjanjikan sebagaimana dalam sejarah teater di kota-kota kantong kesenian dunia. Di sini. teater tak lebih rumah singgah atau sekolah peradaban bagi banyak anak muda dan bersifat sementara saja. Ini sebabnya, dari ribuan peteater generasi awal, yang tersisa setia di jalan teater hanya beberapa saja.
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post