Talaud, Barta1.com – Patung Dotu Unsong Bahewa yang terletak di pantai Desa Kabaruan, Kecamatan Kabaruan, Talaud, kian ramai diperbincangkan masyarakat Talaud.
Dibangun di atas batu yang diyakini merupakan makam sang Dotu, patung ini berdiri tak kekar dengan anatomi yang tak simetris. Ukuran betis kaki lebih besar dari paha, lengan tangannya berukuran pendek, Kepalanya berukuran kecil, tulang rusuknya nampak hingga ke bagian belakang badan dan beberapa bagian tubuh lainnya yang tak menggambarkan keperkasaannya semasa ia masih hidup.
Kondisi patung inilah membuat berbagai kalangan angkat suara. Erens Gumansalangi, Ratumbanua Desa Kabaruan dan Kabaruan Timur sangat menyayangkan, pembangunan patung yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Talaud tahun 2018 ini, hasilnya tidak memuaskan.
Sekilas dari penuturan Ratum Banua Desa Kabaruan dan Kabaruan Timur, Dotu Unsong Bahewa merupakan tokoh sejarah asal Kabaruan yang dengan gigih mempertahankan wilayahnya dari gangguan Ansuang/Warangingi yang mencoba merampas wilayah Pulau Kabaruan. Gerombolan Ansuang tersebut akhirnya tewas di tangan Dotu Unsong Bahewa yang juga merupakan panglima perang di negeri Tamarongge.
“Sangat disayangkan. Hasilnya tidak menggambarkan keperkasaan sang Dotu. Seharusnya patung Dotu Unsong Bahewa merupakan potret kepahlawanan sang Dotu saat mempertahankan wilayahnya dari gangguan penjajah,” ungkap Gumansalangi, Rabu (29/7/2020).
Senada dengan itu, Romli Tawinseet, salah seorang warga Desa Kabaruan Timur sangat menyayangkan pembangunan patung yang terkesan asal-asalan tersebut.
“Pembangnan patung tersebut terkesan asal-asalan. Kami selaku generasi asal Kabaruan terkadang merasa malu karena foto patung Dotu kami sempat menjadi bahan bulian di facebook,” ujar Tawinseet.
Terpisah, Koldius J Maratade, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Laskar Porodisa Indonesia (LPI) mengungkapkan keprihatinannya atas persoalan ini. “Itu salah satu bukti pelecahan, penghinaan terhadap dotu serta keturunanya bahkan orang Talaud pada umumnya. Hal ini merupakan upaya mengkerdilkan serta menghilangkan nilai histori perjuangan para leluhur,” ungkap Maratade.
Sekretaris Jendral Persatuan Masyarakat Adat Talaud (PMAT) ini menyoroti tentang kepedulian serta pengawasan Pemda terhadap nilai-nilai budaya, pengakuan dan rasa hormat kepada leluhur orang Talaud, apalagi pembangunan patung ini bersumber dari anggaran daerah.
Ia juga menegaskan agar patung tersebut harus dibongkar dan dibangun kembali dengan bentuk yang kekar. “Patung yang telah dibangun itu harus dibongkar diganti dengan patung yang lebih megah. Sesuai dan menggambarkan seorang panglima yang gagah berani,” tutur Maratade.
“Jangan lupa, untuk membingkar dan membangun kembali patung tersebut, harus bekerja sama dengan lembaga dan masyarakat adat setempat serta pemerhati budaya talaud yang kompeten. Serta harus melakukan ritual adat,” katanya.
Maratade juga mendesak agar penanggung jawab pekerjaan pembangunan patung tersebut harus dipanggil dan dimintai pertanggujawaban atas hal tersebut. “Pihak terkait harus memanggil mereka yang telah membangun patung itu untuk dimintai keterangan sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka atas pelecehan yang mereka lakukan,” tegasnya.
Peliput : Evan Taarae


Discussion about this post