Manado, Barta1.com – Kendaraan tradisional seperti bendi sudah langka ditemukan dipusat kota. Padahal, bendi merupakan kendaraan yang banyak digunakan pada masa lampau. Di zaman kolonial Belanda, bendi adalah transportasi para saudagar kaya pun para petinggi.
Pesatnya perkembangan teknologi, berbagai kemajuan pun muncul pada kendaraan roda dua dan empat yang tidak terbendung lagi. Apalagi marak munculnya ojek online sebagai geliat peradaban kemajuan kota. Akibatnya kendaraan tradisional seperti bendi, kurang peminat.
Sulawesi Utara, khususnya di Manado kian sulit ditemukan. Jika dijumpai itu pun bisa hitung dengan jari. Bendi kini hanya ditemui di Pasar Bersehati Manado. Itu pun jika bertepatan bersua.
Muhamad Djakara (48), warga Ketang, mengaku bermata pencaharian sebagai kusir bendi bukan mencari keuntungan, melainkan meneruskan tradisi keluarga dan sudah menjadi hobi.
“Ini usaha keluarga sejak tahun 80-an,” ujarnya saat diwawancarai Barta1 com, Rabu (22/7/2020).
Ia sendiri sebagai kusir bendi sejak tahun 1986. “Dan usaha bendi keluarga kami sudah tidak ada lagi, melainkan semuanya sudah dijual. Dan untuk menjalankan hobi saya terus mempertahankan kendaraan bendi itu harus tetap ada dan saat ini lagi menggunakan kendaraan bendi milik orang lain,” katanya.
Bertahan hidup dengan bendi sehari hanya dapat Rp 50 ribu. “Kadang Rp 20 ribu. Dan sering tidak ada pendapatan. Tapi saya, tetap bersyukur bisa membawa bendi agar bisa dilihat oleh anak-anak yang tidak tahu bahwa dulunya ada kendaraan tradisional seperti bendi,” ujarnya lagi.
Untuk hasil pembagian biaya keuntungan dari bendi. “Saya membayar uang dari pembagian pendapatan kepada pemilik bendi 100 ribu setiap minggunya,” tuturnya. Ia berharap bendi bisa dilestarikan kembali, mengingat sudah mulai dilupakan.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post