Oleh: Iverdixon Tinungki
“Salam Seni dan Jayalah Peradaban” adalah sebuah quotes yang telah membumi di kota Bitung, Sulawesi Utara. Petikan itu pertama kali diucapkan sastrawan dan dramawan Leonardo Axsel Galatang pada 37 tahun silam, dan menjelma menjadi “mantra” dalam alur sejarah sastra dan teater di atas lanskap berjuluk kota Cakalang.
Sore kemarin, Kamis 16 Juli 2020. Hesty Nur, gadis berparas cantik mengenakan kerudung itu mengontak saya via messenger. Dengan teramat santun, ia meminta saya memberikan ucapan selamat HUT ke 37 tahun Sanggar Seni Tangkasi dalam format video pendek, sebagai bagian dari mata acara perayaan puncaknya pada 23 Juli nanti, yang sudah pasti dilakukan dengan mengikuti protap Covid-19.
37 tahun bukanlah usia pendek untuk sebuah sanggar seni di Indonesia. Dalam carut-marut kultur pembinaan seni di negeri ini, banyak sanggar seni punah dalam waktu hidup yang sangat singkat. Tapi di Bitung, Tangkasi bisa bertahan sejauh itu.
Seperti juga Axsel, –sapaan akrab Leonardo Axsel Galatang—Tangkasi adalah sebuah magnitude dan sebuah fenomena. Menarik diperbincangkan, menarik ditelusuri. Mengapa? Kesempatan pertama, saya harus menyebutkan, sanggar ini tak saja dibangun di atas semangat, namun juga lewat tetesan darah dan pesan perih yang luar biasa dan panjang.
Tahun 2011, kepada saya, Axsel menuturkan falsafah hidupnya: “Kemiskinan adalah satu-satunya hartaku, dan tidak akan (pernah) aku jual, sampai kapan pun. Aku bukan malaikat, tapi aku selalu berusaha untuk tidak jadi iblis. Aku selalu melawan arus, sebab yang ikut arus hanyalah sampah, dan aku tidak ingin jadi sampah”.
Senin, 6 April 2011, pukul 14.30 wita. Hari itu bau ikan kaleng menyeruak dari pabrik pengalangen yang berjejer di gerbang Kota industri Bitung. Kota yang dibangun di atas dataran pasir di lembah gunung Dua Saudara yang langsung menghadap lautan Fasifik.
Udara di sini begitu panas dipantul pasir tanah dan uap hangat yang dihembus lautan khatulistiwa. Selalu di atas 30 derajat celcius. Panas yang menggurat karakter manusia; dimana senyum dan amarah pias dalam waktu yang sama.
Masih tentang Bitung! Kapal-kapal niaga berbobot muat ribuan ton berbaris seperti antrian ikan palagis yang tiba di pusat pengalengan dan pengemasan ikan ekspor, yang sejak bayi menyusuri laut benua dingin dan menikmati kedewasaanya di laut hangat khatulistiwa.
Seperti itulah kapal-kapal ini, datang dari berbagai benua dan jazirah, dan tiba menunggu giliran membongkar muatan di pelabuhan samudera internasional yang terletak di selat yang terapit sebuah pulau bernama Lembeh.
Ini sebuah kota laut yang indah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi terdinamis di jazirah provinsi Sulawesi Utara. Dan, Tangkasi, seperti sebuah Negara Kesenian. Sang presiden dibantu para menteri yang membawahi departemen. Sebuah system pembinaan yang terorganisir dan unik. Ribuan anak binaan sanggar ini setiap 2 bulan akan menggelar pekan Seni dan Teater. Dan setiap 1 tahun, pada Bulan November di gelar puncak festival seni dan teater .
Di Bitung, teater seperti wabah. Seperti Covid-19, selalu ada di mana-mana, dan terorganisir apik. Teater menjadi semacam kekuatan politik yang punya bargaining terhadap kekuasaan dan kebijakan publik. Di tahun-tahun itu, suara Sang Presiden di dengar Walikota bahkan mempengaruhi kebijakan DPRD.
Ketika Tangkasi lewat presidennya menyeruhkan pemerintah agar membangun sebuah gedung kesenian, Pemerintah Bitung dan Dewan langsung bergegas mengetuk palu APBD, dan kini sebuah gedung kesenian dibangun dengan anggaran Rp 23 miliar untuk tahap satu berdiri megah di sana. Dan sudah dipugar dalam tahap II sejak tahun 2019. Gedung ini merupakan pusat kesenian termegah di Indonesia Timur.
Mengapa Tangkasi bisa mempengaruhi political will penguasa? Kisahnya sederhana. Dalam kurun 37 tahun, anak-anak didik Sanggar Tangkasi kini sudah menguasai lebih dari separoh kursi parlemen di kota itu. Yang lainnya menjadi kepala-kepala Dinas Instansi Pemerintah. Bahkan ada yang pernah jadi Wakil Walikota. Pimpinan partai politik, pimpinan organisasi keagamaan seperti pendeta di gereja. Guru. Pimpinan LSM dan perusahaan swasta serta BUMN.
Uniknya, Kota Bitung terdiri dari 8 wilayah kecamatan, dan pernah semua Camatnya adalah anggota Sanggar Tangkasi. Dapat dibayangkan bagaimana suasana Musrembang dalam memberi masukan bagi penetapan dan implementasi program pembangunan dalam APBD tahunan, bila suara Sang Presiden tidak terakomodir? Yang pasti kacau balaulah kejadiannya.
Tapi Axsel bukanlah seorang politisi meski latar belakang pendidikan tingginya dari fakultas sosial politik. Ia seniman sejati. Ia berjuang untuk kebenaran. Ia berpihak pada kepentingan rakyat. Ia patuh pada aturan baku pemerintah. Tapi juga ia hidup dengan kemerdekaan penuh, dan menolak pembatasan yang membunuh eksistensi dan martabat seorang manusia. Karena ia menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Ia hidup di rumahnya yang sederhana, karena menolak bantuan siapa pun yang menurutnya itu membuat ia lemah. Ia makan dari buat keringatnya sebagai seorang jurnalis sebuah harian. Ketika para jurnalis menjadi kaya karena bargaining kepentingan dengan penguasa, Axsel memilih miskin, kerena kemiskinan adalah kekayaannya.
Ia mengidap penyakit persendian dan maag akut. Kini, jantungnya terpasang 3 ring. Namun ia tak meminta belas kasihan, meski ia telah membina puluhan ribu anak binaan Tangkasi yang kini telah menjadi orang sukses. Siuran senyum anak-anak didiknya cukup membuat ia puas dan bahagia. Ia memilih tak menikah. Karena pernikahan baginya adalah sebuah pemborgolan kemerdekaan individu. Tapi ia punya beberapa anak angkat dan anak pelihara.
Ketika saya menemuinya waktu itu, ia mengajak saya menggunjungi 3 grup teater binaannya yang lagi latihan menjelang pekan teater 2 bulanan yang akan digelar. “Inilah aku!” serunya kepada penulis dengan suara gagapnya yang kental, saat kami akan berpisah. Dalam perjalanan pulang ke Manado, membersit tafsiran: Ia memang seorang nabi kesenian, “Sang Penyulam Peradaban”. Ia dilahirkan dalam berbagai tragika yang sejatinya miris namun menakjubkan. Waduh! –Rokokku habis, jadi sampai di sini dulu tulisan ini, nanti saya sambung lagi pada kesempatan berikut—(Bersambung…)



Discussion about this post