Manado, Barta1.com – Kebanyakan perempuan meluangkan waktu liburan dengan berbelanja di mal, pergi ke tempat wisata, atau nongkrong. Ketika pandemi Covid-19 mendera mereka tiba-tiba bingung entah mau ke mana. Akhirnya lebih banyak waktu mengisi kesibukan di rumah.
Namun berbeda dengan perempuan bernama lengkap Lestari Oktavianita Petronela Kaurow (16). Anak kedua dari 5 bersaudara, pasangan Noldy Kaurow dan Meity Rumambi ini menggunakan waktu liburannya dengan mendaki gunung.
Hebatnya, perempuan cantik kelahiran Klabat, 20 Oktober 1997 sudah mengunjungi empat gunung di Sulut seperti Klabat, Soputan, Lokon dan Ambang. “Mendaki Gunung membawa ketenangan dan bisa menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan. Tidak semua orang bisa menikmati hal tersebut,” kata Lestari kepada Barta1.com, Sabtu (4/7/2020).
Ia menjelaskan, kesukaan mendaki awal ketika duduk di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dan sebenarnya takut dengan pegunungan akan tetapi saat sekolah di Pelayaran Bitung, mau tidak mau harus ikut Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib.
“Di sekolah dibentuk dewan ambalan. Terus syarat untuk menjadi dewan ambalan minimal sudah bantara. Dan sudah melakukan perjalanan di salah satu Gunung yang ada di Sulut. Perdana naik Gunung Klabat yang digelar Pramuka. Di situlah ketagihan naik gunung dan terus menerus melakukan pendakian di hari libur,” ujarnya.
Sampai saat ini, setiap hari libur atau akhir pekan, Jumat hingga Minggu naik gunung seperti Klabat, Soputan, Lokon dan Ambang. Rindu juga bisa berpergian ke pegunungan di luar Sulut.
Bagaimana dukungan orang tua dengan hobinya? Lestari menjawab, puji Tuhan orang tua selalu dukung. Bukan hanya Tari, sapaan akrabnya, tapi ortu juga izin kepada adik-adiknya kalau ingin mendaki.
“Justru ortu khawatir dengan persediaan bawaan saat mendaki. Pada intinya senang punya orang tua yang selalu mendukung hobi anak-anaknya,” ujarnya.
Sebutan Lestari indentik dengan sapaan seorang pendaki ketika bertemu dalam perjalanan pendakian. Teriakan lestari saat bertemu sesama pendaki menandakan bahwa tempat yang kita tuju tidak dirusaki sampai kita kembali melainkan harus dijaga dan dilestarikan.
“Pernah tanya kepada mama saya, apa dasar pemberian nama Lestari. Mama jawab Lestari itu menggambarkan lingkungan. Dimana lingkungan yang bersih dan aman. supaya kita bisa menjadi orang yang bersih dan rajin soal kebersihan,” tambahnya.
Tidak lupa juga Lestari menceritakan suka dan duka selama pendakian. Ada banyak suka dan duka. “Duka itu ketika dalam perjalanan bertepatan hujan atau kehabisan air. Sedangkan suka mendapatkan banyak teman, mendapatkan arti kebersamaan, mendapatkan pengetahuan tentang alam dengan tidak membuang sampah sembarangan atau pun merusak pepohonan. Dan intinya jangan membunuh mahkluk hidup yang kita temui. Yang terindah adalah menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Dari hal ini kita lebih memilih untuk mendaki dari pada ke mal,” katanya.
Saat pandemi Covid-19, tidak menggangu hobi melakukan pendakian. “Selama pandemi untuk menghilangkan stres saya ke puncak Makawembeng. Karena bertepatan stres dengan isu Covid-19 apalagi bersamaan dengan studi akhir atau tahapan penyusunan proposal hingga skripsi. Saya menenangkan pikiran di puncak Makawembeng,” ujarnya.
Lestari sendiri saat ini sedang menyelesaikan studi akhir di Politeknik Negeri Manado, Jurusan Administrasi Bisnis, Program Manajemen Bisnis.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post