Talaud, Barta1.com – Kunjungan Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kepulauan Talaud di Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk berkonsultasi tentang persoalan listrik di kabupaten paling utara, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) akhirnya membawa kabar menarik bagi masyarakat.
Di tengah sorotan masyarakat atas mangkraknya pembangunan PLTU yang berlokasikan di Desa Tarun, Kecamatan Melonguane, akhirnya pembangunan yang sudah mencapai 91,25% ini akan dilanjutkan.
Hal ini disampaikan Anggota Komisi II, Velma Reikee Malaa STh. “Pembangunan PLTU di Desa Tarun akan dilanjutkan. Sebelumnya pembangunan yang dikelola oleh PT BM akan di take over oleh PJB (Pembangkit Jawa Bali) pada tahun 2020 ini. Ditargetkan akan beroperasi tahun 2021 ini,” ujar Malaa.
Tak hanya itu, kabar gembira bagi petani kelapa berhembus setelah Komisi II menyambangi Kementerian ESDM. Pasalnya, pemerintah pusat akan melakukan pengkajian tentang potensi kombinasi bahan bakar PLTU batubara dan biomassa. Mengapa hal ini membawa angin segar bagi petani?
Hal ini dikarenakan, bahan baku biomassa yang akan digunakan khususnya untuk Kabupaten Kepulauan Talaud yaitu komponen yang ada pada tanaman kelapa berupa, tandan kosong, pelepah, sabut kelapa dan tempurung kelapa (coconut shell).
“Tandan kosong, Pelepah, Sabut kelapa dan Tempurung kelapa akan memiliki nilai ekonomi yang tinggi ketika akan dibeli untuk dijadikan bahan baku Biomassa,” ungkap Malaa.
“Kenapa harus komponen pada tanaman kelapa? Karena dari sekian bahan baku pembuatan Biomassa, hanya pohon kelapa yang ada dan potensial di daerah kita,” terangnya.
Ia menerangkan, energi biomassa yaitu jenis bahan bakar yang dibuat dengan mengkonversi bahan biologis seperti tanaman dan bahan organik juga dapat diperoleh dari hewan dan mikroorganisme seperti kayu, biogas, tanaman energi dan limbah pertanian.
Lanjutnya, kombinasi antara batu bara dan biomassa ini dilakukan untuk menghemat bahan bakar yang berjumlah 5100 ton batu bara dalam satu trip untuk pasokan selama 2 bulan. Hal ini dikarenakan, kondisi laut di Kabupaten Kepulauan Talaud terkadang sulit untuk di arungi karena musim kencang (gelombang laut tinggi). Apalagi untuk peraitan di Kabupaten Kepulauan Talaud, dalam 1 tahun hanya 4 bulan cuaca bersahabat dan selebihnya cuaca buruk.
Senada disampaikan Ketua Komisi II, Capt Gunawan Talenggoran. “Berdasarkan informasi dari GM PLN di Provinsi bahwa pada tahun ini akan di rampungkan pembanguan PLTU yang di lakukan oleh PJB (Pembangkit Jawa Bali) dan ditargetkan akan beroperasi pada tahun 2021,” kata Talenggoran.
“Jika sudah siap beroperasi maka bahan bakarnya harus dipersiapkan, termasuk batu bara. Jika menggunakan Barge (tongkan) 270 feet kurang lebih 5100 Ton dan dalam setahun membuhtuhkan 30.000 Ton atau 6 trip,” tambah Talenggoran.
Akan tetapi, di tengah agenda pemerintah untuk mengkaji penggunaan biomassa, Malaa mengatakan, pihaknya akan terus mengawasi dan berkoordinasi dengan pihak PLTU terkait pembangunan yang ditargetkan pada 2021 mendatang.
“Saat pemerintah sedang mengkaji penggunaan biomassa, pembangunan PLTU harus harus jalan terus,” tutup legislator vokal ini.
Peliput : Evan Taarae


Discussion about this post