Siau, Barta1.com – Sektor pariwisata Kabupaten Kepulauan Sitaro kini bertransformasi menjadi primadona baru penggerak ekonomi daerah. Terlihat ada tren lonjakan signifikan angka kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun, sehingga diproyeksikan sektor ini menjadi sumber potensial untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Berdasarkan data fluktuasi pergerakan pelancong dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sitaro, angka kunjungan mencatatkan lompatan yang sangat impresif dalam empat tahun terakhir. Melihat 3 tahun terakhir; 2023, angka kunjungan berada di level 2.459 orang, kemudian melonjak tajam menyentuh 4.012 pengunjung pada 2024 dan berhasil dipertahankan stabil dengan akumulasi 4.026 orang di sepanjang 2025.
Momentum kebangkitan industri pariwisata daerah ini terus berlanjut dengan solid hingga pertengahan tahun 2026. Tercatat, sejak bulan Januari hingga Agustus 2026, akumulasi kedatangan wisatawan telah menembus angka 3.018 orang, di mana rekor tertinggi terjadi pada bulan Maret yang berhasil menyedot hingga 659 pengunjung.
Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sitaro, Buyung Mangangue, membenarkan tren positif pergerakan pelancong yang terus menanjak tersebut.
“Lonjakan angka kunjungan dari tahun ke tahun ini adalah bukti nyata bahwa Sitaro semakin dilirik. Jika tren ini konsisten, pariwisata jelas akan menjadi ceruk utama penyumbang PAD yang sangat menjanjikan bagi daerah kita,” tegas Buyung.
Lebih lanjut, Buyung menjelaskan peningkatan ini tidak terlepas dari kekayaan pesona alam yang otentik serta dorongan promosi yang dikelola secara partisipatif oleh pelaku industri pariwisata.
“Kami melihat ada pergeseran perilaku wisatawan, di mana Sitaro bukan lagi sekadar destinasi musiman, melainkan sudah perlahan masuk dalam daftar wajib liburan berkelanjutan berkat variasi destinasinya,” tambahnya.
Jika ditarik benang merah dari perbandingan data kunjungan tahun 2023 hingga pertengahan 2026, terlihat adanya pola kedatangan wisatawan yang sering kali berpusat pada momen-momen tertentu seperti bulan Maret, Agustus, September, dan Oktober.
Lonjakan angka kunjungan pada periode-periode spesifik ini sangat mungkin berkorelasi erat dengan siklus musim liburan, cuaca perairan laut yang kondusif untuk pelayaran antarpulau, serta penyelenggaraan agenda budaya dan turnamen olahraga di daerah.
Data ini mempertegas ketertarikan wisatawan baik Nusantara maupun mancanegara terhadap Sitaro semakin terbangun secara organik berkat variasi penawaran sarana prasarana dan destinasi wisata yang terintegrasi dengan baik.
Tingginya minat pelancong ini sejalan dengan meroketnya popularitas sejumlah destinasi unggulan bahari yang sukses menarik perhatian publik di berbagai platform digital. Keindahan hamparan pasir putih eksotis di Pulau Mahoro serta sensasi langka pemandian air laut panas geotermal di Pantai Temboko Lehi adalah 2 dari banyak magnet yang menarik pelancong.
Reputasi Pulau Mahoro bahkan telah merambah dunia internasional setelah lokasinya sempat dijadikan tempat pengambilan gambar untuk program realitas televisi ternama asal Korea Selatan bertajuk Law of the Jungle
Selain mengandalkan lanskap bahari, daya pikat pariwisata Sitaro juga ditopang oleh keberhasilan daerah dalam merawat potensi ekowisata. Keberadaan satwa primata mungil endemik berstatus langka, Tarsius tumpara, di kawasan Danau Kapeta telah membuka ruang wisata observasi konservasi yang bernilai edukasi tinggi bagi kalangan penjelajah.
“Model interaksi berbasis konservasi dengan habitat primata mungil ini menawarkan nilai literasi lingkungan yang sangat berharga,” cetus Buyung.
Eksistensi Gunung Api Karangetang sebagai ikon utama Pulau Siau juga terus menyedot antusiasme wisata alam dan geologi. Kawasan ini semakin diperkaya dengan hadirnya lanskap pesisir Balirangeng, di mana monumen religius Patung Yesus berdiri megah menghadap bentangan laut, menawarkan perpaduan antara wisata spiritual dan panorama alam.
Bahkan Gunung Ruang di depan Pulau Tagulandang yang meletus beberapa waktu lalu juga mulai ramai dikunjungi pelancong, menjadikannya ikon pariwasata baru alih-alih mengingatkan dampak letusannya terdahulu.
Tidak hanya kemasan alam secara fisik, Sitaro juga cerdas mengintegrasikan kepariwisataannya dengan pelestarian nilai luhur warisan budaya masyarakat setempat. Terkait ini lanjut Buyung, Pemkab Sitaro secara konsisten menggelar event lokal Tulude dan Maliku Wanua dan terbukti memberikan pengalaman interaksi kultural yang mendalam bagi setiap wisatawan yang berlibur.
“Melalui tata kelola kepariwisataan yang integratif tersebut, target Sitaro untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai pilar utama penyumbang PAD optimis dapat segera terwujud,” lanjut Buyung optimis.
Peliput: Agustinus Hari

Discussion about this post