Kotamobagu, Barta1 — Masalah tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sejatinya bermula dari area yang paling dekat dengan keseharian kita: dapur keluarga. Menyadari besarnya dampak akumulasi limbah rumah tangga tersebut, Persatuan Istri Karyawan dan Karyawati (PIKK) PLN UP3 Kotamobagu mengambil langkah taktis lewat Gerakan Peduli Lingkungan yang dihelat pada Senin (06/07/2026).
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah organik—terutama sisa makanan dan dapur—masih mendominasi lebih dari 40 persen total sampah di Indonesia.
Jika dibiarkan menumpuk di TPA tanpa pengolahan, limbah ini akan menghasilkan gas metana yang memperparah efek rumah kaca. Fakta inilah yang mendorong pentingnya intervensi langsung dari skala rumah tangga.
Menjawab tantangan ekologis tersebut, PIKK PLN UP3 Kotamobagu menggelar Workshop Pembuatan Eco Enzyme dan Lomba Daur Ulang di Aula Bogani PLN UP3 Kotamobagu.
Mengusung tema tajam “Mengubah Sampah Organik Menjadi Solusi Ramah Lingkungan”, kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan budaya hidup hijau (green lifestyle) yang mengakar kuat dari rutinitas keluarga sehari-hari.
Inisiatif kaum ibu ini rupanya mendapat sorotan positif dari jajaran manajemen puncak. Dari tempat terpisah, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun, memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, gerakan ini sangat selaras dengan komitmen makro PLN dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di setiap lini korporasi.
“PLN tidak hanya fokus pada penyediaan energi listrik yang andal, tetapi juga menaruh perhatian besar pada keberlanjutan lingkungan. Langkah kecil yang dimulai oleh ibu-ibu PIKK dari dapur rumah tangga ini, jika dilakukan secara konsisten, akan memberikan dampak besar bagi kelestarian lingkungan sekitar. Kami berharap program seperti ini terus menginspirasi dan dapat direplikasi di unit-unit kerja lainnya,” ungkap Usman.
Untuk memastikan substansi edukasi tersampaikan dengan tepat, panitia menghadirkan Martika Sandra Raupu, S.K.M., seorang Pegiat Eco-Enzyme sekaligus Wellnesspreneur, sebagai narasumber utama.
Diikuti dengan antusiasme tinggi, puluhan anggota PIKK duduk mencatat teori kemudian langsung mempraktikkan cara meracik limbah organik seperti kulit buah dan potongan sayur sisa menjadi produk bernilai guna.
Dalam paparannya, Martika mengurai ragam keajaiban dari sebotol eco enzyme. Lewat proses fermentasi sederhana yang terukur, sampah organik yang kerap dianggap tidak berguna bertransformasi menjadi cairan serbaguna.
Cairan ini terbukti ampuh dan ramah lingkungan saat diaplikasikan sebagai pupuk organik cair, cairan pembersih lantai alami, hingga penetral bau tak sedap.
“Eco enzyme bukan sekadar hasil fermentasi limbah organik, tetapi sebuah gerakan lingkungan yang bisa dilakukan siapa saja. Dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, kita turut berkontribusi mengurangi sampah dan menciptakan gaya hidup yang lebih berkelanjutan,” urai Martika.
Tak berhenti pada edukasi pengolahan sampah basah, ajang peduli bumi ini juga dirangkaikan dengan lomba video pembuatan barang daur ulang. Lomba visual ini sukses memotret ragam kreativitas istri karyawan dalam menyulap barang bekas yang kehilangan fungsi menjadi produk estetis bernilai ekonomi tinggi, sebagai wujud nyata penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).
Ketua PIKK PLN UP3 Kotamobagu, Arlin Rau Reki Wowiling, menekankan bahwa edukasi dan lomba ini adalah manifestasi kontribusi nyata para istri insan PLN.
“Kami ingin mengajak seluruh anggota PIKK untuk memulai gerakan peduli lingkungan dari rumah masing-masing. Melalui pemanfaatan limbah organik menjadi eco enzyme dan kreativitas mendaur ulang barang bekas, kita dapat memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi sampah. Semoga ini menjadi awal dari gaya hidup yang lebih ramah lingkungan secara berkelanjutan,” tuturnya. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post