Manado, Barta1.com — Alumni Gajah Mada, Taufik Tumbelaka, menyoroti berbagai aksi yang dilakukan setiap SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) berupa agenda bersih-bersih lingkungan.

Menurutnya, perhatian terhadap persoalan lingkungan seharusnya tidak menunggu instruksi dari pusat. Kepedulian itu, kata dia, mestinya dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni kantor sendiri, bukan baru bergerak setelah ada arahan dari Presiden.

“Hal sederhana untuk melihat apakah seseorang benar-benar peduli terhadap lingkungan adalah kebiasaannya membawa tumbler ke mana pun ia pergi, guna mengurangi penggunaan sampah plastik. Pertanyaannya, apakah kantor-kantor pemerintahan sudah benar-benar ramah terhadap lingkungan?” ujar pengamat politik Sulut tersebut.
Seruan agar kebersihan dimulai dari lingkungan kantor rupanya telah dilakukan oleh pimpinan dan jajaran Sekretariat DPRD Provinsi Sulut. Pada Selasa (10/03/2026), mereka menggelar kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan Kantor DPRD Sulut.
Kegiatan itu dipimpin langsung oleh Plt. Sekretaris DPRD Provinsi Sulut, Weliam Niklas Silangen, S.Sos., M.Si. Seluruh jajaran ASN bersama tenaga pendukung Sekretariat DPRD Sulut turun bersama membersihkan halaman kantor, taman, hingga berbagai fasilitas di sekitar lingkungan kantor.
“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan kantor, tetapi juga menjadi wujud nyata dukungan terhadap Gerakan Indonesia Asri. Sekaligus memperkuat budaya kerja yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, kepedulian, serta tanggung jawab terhadap lingkungan,” ungkap Niklas.
Melalui kerja bakti tersebut, ia berharap tercipta lingkungan kerja yang bersih, sehat, dan nyaman, baik bagi para pegawai maupun masyarakat yang datang berkunjung ke Kantor DPRD Provinsi Sulut.
Sebelumnya, jajaran Sekretariat DPRD Provinsi Sulut juga telah menggelar aksi serupa di pesisir Pantai Manado. Bahkan, pembersihan dilakukan hingga ke laut dengan menggunakan perahu, sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan kawasan pesisir.
“Menjaga kebersihan laut adalah tanggung jawab kita bersama. Lingkungan yang bersih akan memberikan dampak positif bagi masyarakat serta menjaga kelestarian ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir,” ujar Setwan Niklas.
Persoalan sampah yang ada di Kota Manado sesuai data NTTI dan Seasoldier Sulut.
No-Trash Triangle Initiative (NTTI) memiliki data saat sampah diangkat dari sejumlah sungai besar di Kota Manado setiap harinya bervariasi. Bahkan, dalam satu hari, sampah plastik yang terkumpul bisa mencapai 500 kilogram. Hal itu disampaikan salah satu pegawai NTTI ke Barta1.com, belum lama ini.
Sedangkan Seasoldier Sulut, melalui Ketua Patrik Paendong, menyampaikan aksi Beach Clean Up dari bulan Januari hingga Februari 2026,
berdasarkan data pemilahan sampah, jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah sampah anorganik, terutama botol dan gelas plastik, dengan total mencapai 158 kilogram.
Sepanjang dua bulan pertama tahun 2026 tersebut, tim Seasoldier Sulut berhasil mengangkat sampah dari Pantai Karangria masing-masing sebanyak 77 kilogram dan 310 kilogram, dengan total keseluruhan mencapai 387 kilogram, kesemuanya dimasukan ke rekan – rekan NTTI. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post