Manado, Barta1.com – Belasan mahasiswa Program D4 Teknik Listrik, Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Manado (Polimdo) tampak antusias mengoperasikan berbagai perangkat pembangkit listrik ramah lingkungan, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), dalam kegiatan praktik pada Rabu (4/03/2026).

Di antara mereka, Amelia Ester Diana Rorong bersama rekan-rekan sekelasnya terlihat sigap menerapkan ilmu yang telah mereka peroleh di bangku perkuliahan.

“Hari ini kami mengerjakan jaringan energi terbarukan yang sudah kami rancang selama satu semester. Ini bagian dari Project Based Learning (PBL), di mana kami menghidupkan kembali lampu-lampu yang sebelumnya padam,” ungkap mahasiswi semester enam tersebut.
Ia menjelaskan, sistem yang mereka bangun memanfaatkan panel surya dengan sumber energi matahari, serta dukungan baterai untuk menambah kapasitas daya. Melalui pembelajaran ini, mahasiswa dilatih menghitung kapasitas daya solar panel sekaligus menganalisis beban listrik yang dibutuhkan untuk penerangan.
“Pembelajaran ini sangat baik karena kami belajar menghitung kebutuhan daya, menentukan kapasitas, hingga memastikan sistem berjalan optimal. Ini menjadi bekal penting sebelum kami terjun ke dunia industri,” jelasnya.
Kurikulum Berbasis Luaran dan Kebutuhan Industri
Ketua Jurusan Teknik Elektro Polimdo, Marson James Budiman, ST., MT., turut menjelaskan bahwa praktik tersebut merupakan bagian dari pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
“Kurikulum kami akan direvisi menjadi kurikulum OBE. Dalam waktu dekat, seluruh program studi di Polimdo akan membahas pengembangan ini,” ujar Marson.
Ia menerangkan bahwa dalam kurikulum OBE, pembelajaran dilakukan secara bertahap melalui tiga pendekatan utama: case method, problem-based learning, dan project-based learning (PBL).
Mahasiswa terlebih dahulu diberikan studi kasus (case method), kemudian dilatih memecahkan persoalan (problem-based learning). Setelah itu, mereka masuk ke tahap proyek nyata melalui PBL, seperti merancang pembangkit listrik tenaga surya skala kecil hingga menghasilkan karya yang dapat dipresentasikan sebagai tugas akhir.
Menerapkan Konsep CDIO
Penerapan tiga metode tersebut bertujuan membiasakan mahasiswa dengan kerangka kerja pendidikan teknik inovatif CDIO: Conceive (merancang konsep), Design (mendesain), Implement (mengimplementasikan), dan Operate (mengoperasikan).
Melalui tahapan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar mengidentifikasi persoalan nyata di industri, merancang solusi, hingga mengoperasikannya. Pendekatan ini menciptakan keterhubungan yang kuat antara kampus dan dunia industri sehingga lulusan benar-benar siap kerja.
“Kurikulum kami dirancang untuk menangkap persoalan di industri. Dengan begitu, pembelajaran menjadi relevan dan sesuai perkembangan teknologi. Pada akhirnya, lulusan kami memang dipersiapkan untuk bekerja di industri,” terangnya.
Dari Ruang Kelas ke Masyarakat
Praktik yang dilakukan mahasiswa meliputi observasi kebutuhan perangkat PLTS, pemilihan material, perancangan, perakitan, instalasi, hingga pengoperasian dan evaluasi sistem. Seluruh tahapan didukung mata kuliah pendukung, termasuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
PBL mahasiswa Teknik Elektro Polimdo bahkan telah diterapkan langsung di masyarakat. Di Desa Budo, misalnya, mahasiswa membangun PLTS, memasang running text, serta CCTV sesuai kebutuhan mitra. Instalasi PLTS juga dilakukan di Pulau Lembeh, Kayuwi, hingga pada komunitas nelayan dan sektor wisata melalui perahu rakit bertenaga surya.
Ke depan, program bina desa juga akan dikembangkan di Bolaang Mongondow (Bolmong). Di lingkungan kampus sendiri, tersedia berbagai prototipe pembangkit ramah lingkungan, seperti PLTS, PLTB, hingga pembangkit listrik mikrohidro—semuanya merupakan hasil karya PBL mahasiswa yang kini menjadi media pembelajaran berkelanjutan di Jurusan Teknik Elektro.
Mengenal kurikulum Outcome-Based Education (OBE)
Outcome-Based Education (OBE) adalah pendekatan kurikulum yang berfokus pada capaian akhir yang harus dikuasai mahasiswa saat lulus. Bukan sekadar menyampaikan materi, OBE menekankan kompetensi nyata yang dapat diterapkan di dunia kerja.
Karakteristik utama kurikulum OBE meliputi:
Fokus pada Kompetensi: Menekankan kemampuan, pengetahuan, dan sikap yang harus dimiliki lulusan.
Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL): Kurikulum disusun berdasarkan profil lulusan yang jelas.
Student-Centered Learning: Dosen berperan sebagai fasilitator, mahasiswa menjadi subjek aktif pembelajaran.
Evaluasi Berkelanjutan (Continuous Quality Improvement/CQI): Mutu pembelajaran terus ditingkatkan secara sistematis.
Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar menyalakan lampu, tetapi juga menyalakan harapan akan masa depan energi yang lebih bersih, inovatif, dan berkelanjutan. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post