Manado, Barta1.com – Eugene Mantiri, Anggota Komisi I DPRD Sulawesi Utara (Sulut), terus mendesak penjelasan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Sulut terkait pelaksanaan program Teknologi Tepat Guna (TTG). Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di Ruang Komisi I DPRD Sulut, Senin (19/01/2026).
Dalam forum tersebut, Eugene mempertanyakan secara langsung bentuk kegiatan yang dilaksanakan serta manfaat nyata dari program teknologi tepat guna bagi masyarakat.
“Dalam pemanfaatan teknologi tepat guna, kegiatan apa saja yang sebenarnya dilaksanakan? Dan apakah ada manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat?” tanya Eugene.
Ia menegaskan, apabila program tersebut sudah berjalan, maka harus jelas kegiatan apa saja yang telah dilakukan sejak tahun 2025 dan sejauh mana dampaknya bagi masyarakat.
“Kalau kita hanya mengeluarkan uang tapi tidak ada aliran manfaat ke masyarakat, itu lain ceritanya. Yang ingin saya tanyakan, apakah teknologi tepat guna ini benar-benar mengalir ke masyarakat, atau hanya berhenti di dinas PMD saja?” tegas Kader Fraksi PDI Perjuangan itu.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pembangunan PMD Provinsi Sulut, Henrik Tendean, menjelaskan bahwa kegiatan teknologi tepat guna merupakan agenda dari Kementerian Desa yang berskala nasional.
“Pada tahun 2025 tidak ada pelaksanaan kegiatan teknologi tepat guna nasional, karena anggarannya terdampak efisiensi,” jelas Henrik.
Ia menambahkan, pada akhir tahun lalu pihaknya telah berkoordinasi dengan kementerian terkait rencana pelaksanaan Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional tahun 2026. Namun hingga kini belum ada kepastian.
“Pemerintah pusat masih melakukan efisiensi anggaran, sehingga pelaksanaannya belum dapat dipastikan. Itu kondisi terakhir yang kami koordinasikan,” tuturnya.
Pernyataan tersebut kembali ditanggapi Eugene. Ia mempertanyakan mengapa program teknologi tepat guna tetap dianggarkan di daerah, sementara di tingkat kementerian justru terkena efisiensi.
Menjawab hal itu, Henrik menyampaikan bahwa anggaran memang tersedia, namun jumlahnya sangat minim. “Itu sudah melalui konsultasi dengan Pak Kadis. Jika pada 2026 petunjuk dari Kemendes tetap tidak ada pelaksanaan seperti tahun lalu, maka anggaran tersebut kemungkinan akan digeser,” katanya.
Eugene kembali meminta penjelasan lebih konkret mengenai bentuk kegiatan teknologi tepat guna yang dimaksud. Henrik menjelaskan bahwa pihaknya berkoordinasi dengan dinas PMD kabupaten/kota untuk menghimbau desa-desa yang memiliki anggaran agar dapat mengikuti kegiatan teknologi tepat guna di tingkat nasional.
“Dalam event tersebut biasanya ada pameran selama tiga sampai empat hari. Di sana kita bisa mengadopsi teknologi dari desa atau provinsi lain yang memiliki potensi bahan dasar serupa dengan daerah kita,” jelasnya.
Mendengar hal itu, Eugene menanggapi bahwa sejauh ini peran Dinas PMD Provinsi hanya sebatas koordinasi.
“Jadi di tingkat nasional hanya pameran saja? Tidak ada satu alat teknologi yang benar-benar dibuat?” tanyanya lagi.
Henrik pun menegaskan bahwa konsepnya bukan seperti itu. Menurutnya, desa-desa yang memiliki inovasi alat atau produk berbasis teknologi dapat membawanya ke event nasional untuk dipelajari dan diadopsi oleh desa lain.
“Harapannya, desa-desa lain yang memiliki potensi bahan dasar yang sama dapat mentransfer ilmu dan menerapkannya kembali di daerah masing-masing,” ujarnya.
Namun Eugene kembali mendesak contoh konkret. “Antara lain seperti apa, Pak?” tanyanya.
Henrik menyebutkan contoh produk seperti keripik pisang dari Kabupaten Minahasa Selatan, Kepulauan Siau, dan Talaud. Ia mengakui bahwa inovasi teknologi di Sulut masih terbatas dan belum sebanding dengan daerah lain seperti Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatera yang penerapan teknologinya sudah lebih maju.
Menanggapi hal tersebut, Eugene menyampaikan keprihatinannya.
“Kalau hanya keripik pisang yang dilakukan di kabupaten/kota lalu disebut sebagai teknologi tepat guna, betapa mirisnya kita. Mari kita berbenah, Pak, sebagai kepala dinas. Mindset-nya harus benar-benar diarahkan pada teknologi tepat guna,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post