BARTA1.COM– Angin laut di pesisir Salurang tidak hanya membaunkan aroma garam, tetapi juga bisikan-bisikan kuno yang berkelindan dengan aroma tanah merah. Di sini, di ujung utara Nusantara, sejarah bukan sekadar deretan angka tahun, melainkan sebuah dunia susastra atavisme.
Para lelaki menggenggam Bara, pedang perang yang ditempa dengan doa, menggerakkannya dengan energi tubuh yang membuat logam dingin itu menari seakan daun yang gemulai di bawah sinar matahari.
“Bahkan kamu bisa melihat dunia halus bila membasuh mata di sini,” ungkap Opa Manatar, seorang budayawan Sangihe yang suaranya berat tertelan waktu.
Ucapan itu bukan sekadar bualan orang tua bagi masyarakat setempat; di Salurang, magisme adalah napas.
Di tahun 2000-an, saya menyaksikan sendiri bagaimana batas antara yang nyata dan yang gaib menipis, sehalus kabut yang menyelimuti puncak Sahandarumang.
Semua bermula dari Gumansaļangi, sang putra mahkota dari Sultan Kotabato, Mindanao Selatan. Pada abad ke-12, ia membelah ombak menuju timur membawa titah ayahanda. Ia tidak datang dengan kapal kayu biasa, melainkan dengan perahu Ular Sakti bernama Dumalombang.
Konon, ular raksasa itu tercipta secara ajaib dari sehelai saputangan berkat kesaktian sang pangeran yang tak tertandingi.
“Ular Sakti Dumalombang hingga kini dipercaya masih hidup di gua Tanah Runtuh, di sebuah tanjung di Sangihe bagian Selatan,” ujar Syahrul Ponto dengan nada penuh keyakinan saat kami bertemu di Tahuna.
Legenda ini menjadi fondasi bagi berdirinya Kerajaan Salurang-Tampunganglawo pada tahun 1300. Gumansaļangi dan permaisurinya, Ondoasa, mendarat di Pantai Saluhe yang kemudian berubah nama menjadi Salurang, tempat yang “dielu-elukan“.
Kehidupan pasangan ini diselimuti selubung mistis yang kental. Mereka memilih menetap di puncak Gunung Sahandarumang, jauh dari hiruk-pikuk pesisir.
Setiap kali mereka berdiam di sana, puncak gunung akan meletupkan bunyi guntur dan kilatan cahaya yang membelah langit.
Rakyat pun memberi mereka gelar abadi: Medellu – Mekila, pasangan Guntur dan Kilat yang menjaga kedaulatan tanah Sangihe dari ketinggian.
Kerajaan ini tumbuh menjadi pusat peradaban yang disegani, bahkan wilayahnya membentang hingga ke Pulau Balut di Mindanao Selatan.
Namun, kemegahan ini tak selamanya utuh. Pada tahun 1400, setelah kepemimpinan sang putra, Melintang Nusa, kerajaan terbagi dua: Sahabe di utara dan Manuwo di selatan.
Pembagian ini bukan hanya soal wilayah, tapi awal dari dinamika politik kepulauan yang tercatat dalam tinta sejarah dunia.
Seorang juru tulis Magellan bernama Antonio Pigafetta sempat menggoreskan catatannya pada tahun 1421. Ia merekam keberadaan kerajaan-kerajaan kecil di belahan bumi tropis ini, tempat anak-anak pesisir memandang ombak sebagai bunga sastra.
Di mata Pigafetta, Sangihe bukan sekadar titik di peta, melainkan entitas politik yang hidup dengan sistem pemerintahan yang sudah mapan jauh sebelum bangsa Barat merasa menemukan “dunia baru“.
Kini, ketika berdiri di puncak Lenganeng dan menatap hamparan laut yang biru pekat, sejarah itu seolah bangkit dari dasar samudera. Sangihe adalah bukti bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak diukur dari luas hektarnya, melainkan dari kedalaman akar budayanya.
Legenda Gumansaļangi tetap hidup, seiring dengan detak jantung masyarakatnya yang masih percaya bahwa di balik setiap deburan ombak, ada mantra yang menjaga mereka.
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post