BARTA1.COM– Angin laut berhembus pelan di pesisir Manado, namun ia tak lagi membawa aroma payou yang khas—bau laut yang bercampur dengan keringat harapan para nelayan.
Jauh sebelum beton-beton pertokoan mencengkeram bibir pantai, Teluk Manado adalah panggung bagi kehidupan yang riuh dan puitis.
Antara tahun 1970 hingga 1980-an, laut bukan sekadar bentang air, melainkan urat nadi bagi warga Borgo.
Di bawah remang cahaya bulan, puluhan usaha pukat dampar milik juragan pribumi berdiri tegak sebagai simbol kedaulatan ekonomi lokal.
Nama-nama seperti Keluarga Heydemans, Podung, hingga Manuahe, menjadi legenda di sepanjang pesisir. Mereka adalah penjaga tradisi di kampung-kampung tua: Bitung Karangria, Bitung Kecil (Sindulang), Singkil, hingga Pondol yang bersejarah.
“Dulu, kalau malam hari, Teluk Manado itu seperti taburan bintang yang jatuh ke air,” kenang seorang mantan nelayan sambil menatap jauh ke arah gedung-gedung tinggi.
Deretan lampu dari perahu nelayan mengapung indah, menciptakan harmoni cahaya yang menenangkan siapa saja yang memandangnya dari kejauhan.
Di tengah kesunyian malam, para nelayan penjaga lampu Kana atau lentera penanda duduk dengan sabar. Mereka menanti saat yang tepat ketika gerombolan ikan mendekat ke darat.
“Kami hanya menunggu satu aba-aba untuk memulai keriuhan itu,” bisik sang nelayan tua, mengingat masa-masa keemasan yang kini terkubur urukan pasir.
Keheningan malam biasanya pecah oleh teriakan yang menggelegar: “Hela haluang kamudi!” Itulah komando sakral sebagai pertanda pukat dampar sedang didaratkan.
Seluruh tenaga dikerahkan, otot-otot menegang di bawah siraman keringat, menarik jaring-jaring yang penuh dengan perak yang menggelepar—ikan-ikan segar dari perut teluk.
Kekayaan laut Manado kala itu seolah tak ada habisnya. Saat matahari meninggi, burung-burung laut akan berkicau riang, memberi tanda alam bahwa gerombolan ikan pelagis tengah memasuki teluk.
“Burung-burung itu adalah kawan kami, mereka pemberi petunjuk jalan rezeki,” ujar warga pesisir lainnya yang kini hanya bisa melihat laut dari balik pagar pembatas jalan.
Kehidupan nelayan bukan hanya soal kerja keras, tapi juga perayaan syukur. Saat purnama tiba dan pukat diistirahatkan, pesisir akan berubah menjadi arena pesta.
Budaya Borgo yang kental dengan pengaruh Spanyol-Portugis tumpah ruah dalam gerakan Tari Katrili dan Volka yang elegan, menghidupkan kembali jejak sejarah kolonial dalam balutan kegembiraan.
Tak jarang, dentuman musik berganti menjadi irama yang lebih maskulin melalui Tari Cakalele. Para lelaki menari dengan pedang terhunus dan mata melotot yang menakjubkan, menunjukkan jati diri sebagai pemberani pelaut ulung.
Pesisir Manado adalah sebuah teater besar, di mana tradisi, seni, dan alam menyatu dalam satu tarikan napas.
Namun, semua keajaiban itu mulai runtuh sejak tahun 1995. Pembangunan jalan Boulevard dan proyek reklamasi raksasa mulai merayap, menimbun memori kolektif warga.
Satu demi satu tradisi pukat dampar punah. Pesisir yang dulu menjadi ruang publik terbuka, perlahan berubah menjadi kawasan bisnis yang eksklusif dan tak tersentuh oleh rakyat kecil.
Sarkasme bahwa “Ibukota lebih kejam dari ibu tiri” menemukan kebenarannya di sini.
Meski Manado menyandang julukan kota religius, nasib nelayan justru terabaikan.
Mereka kalah berebut akses pantai dengan gurita bisnis yang menggila.
Sekitar 29.500 KK warga pesisir terdepak, dipaksa beralih profesi menjadi buruh bangunan atau tukang parkir di tanah yang dulu mereka miliki.
Reklamasi tak hanya menghapus jejak eksotisme pantai, tapi juga membunuh ekosistem seni.
Di tepi pantai inilah dulu teater modern Manado menemukan rumahnya untuk latihan dasar akting. Banyak seniman hebat lahir dari rahim pesisir ini, mereka yang gigih memberi warna pada perkembangan dunia teater daerah, namun kini panggung mereka telah hilang tertimbun beton mal.
Kini, Teluk Manado berdiri megah dengan gemerlap lampu pusat perbelanjaan, namun terasa sunyi dari jiwa-jiwa lautnya.
Tradisi pukat dampar telah menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu yang tak pernah lagi mendengar teriakan “Hela haluang kamudi”.
Sejarah itu telah tenggelam, menyisakan kerinduan mendalam akan kejayaan teluk di era yang telah lampau. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post