BARTA1.COM– Mencium bau garam di Lamanggo adalah mencium pesan samudera. Sebuah epilog tentang betapa luas bentang tantangan di mana hidup tak lain adalah upaya mengasah keasinan. Di sini, kota dan kampung selalu terpisah jarak nasib yang kontras.
Saat malam menjemput, para nelayan berburu ikan terbang dengan jaring yang ditebar di kegelapan, sementara dendang mereka terjepit di sela karang, tertampar ombak yang pecah bagai butiran kristal garam.
Kenangan itu membawa saya kembali ke tahun 2013, saat kapal yang saya tumpangi melabuh perlahan di Sawangino. Tak ada frasa yang sanggup melukiskan keindahan Pulau Biaro selain kekaguman yang diam.
Saya ditemani Opa Hersen Anise, seorang pelaut tua yang sisa-sisa kegagahannya masih terlihat dari caranya menatap ufuk.
Ia bukan sekadar pelaut; ia adalah saksi hidup yang pernah mengemudikan kapal-kapal raksasa membelah rute internasional, melewati setiap tanjung dan terusan di berbagai benua.
“Perairan di depan Lamanggo ini punya titik yang sangat dalam,” bisik Opa Hersen sambil menunjuk ke laut lepas.
Suaranya berat, membawa wibawa laut yang telah lama ia akrabi. “Itu adalah tempat kawin ikan-ikan paus yang melintas setiap musimnya.”
Hersen hanyalah satu dari ribuan anak bahari Nusa Utara yang telah memahatkan sejarah mereka di atas gelombang planet ini.
Mendengar ceritanya, saya teringat catatan misionaris Daniel Brilman pada tahun 1927. Saat menumpang kapal milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij (K.P.M), ia menarasikan Biaro sebagai keindahan di bawah kaki langit yang mendatangkan kenikmatan batin.
Dalam tradisi tua Sasahara, negeri yang menjadi asal legenda raksasa Linsaha ini disebut “Kolokolo“—sebuah titik eksotis yang menjadi pintu gerbang selatan menuju wilayah kekuasaan Ratu Lohoraung.
Meskipun luasnya hanya 20,85 kilometer persegi, Biaro adalah simfoni dialek Sangihe, Tagulandang, dan Siau yang berkelindan. Lanskapnya adalah definisi kemegahan yang sunyi.
Dari titik penyelaman di Tumora, pantai sekitar Teluk Buang, hingga perairan jernih di Teluk Tope, setiap jengkalnya menawarkan pesona.
Tak jauh dari sana, Pulau Salangka dan Lamanggo berdiri tegak, menjaga rahasia laut yang belum sepenuhnya terungkap.
Lepas dari pelukan Biaro, mata akan segera tertuju pada Pulau Ruang—atau Duang. Sebuah gunung berapi yang puncaknya pipih dilapisi abu, menjulang setinggi 725 meter dari permukaan laut.
Sejak abad ke-17, ia telah berkali-kali memuntahkan amarahnya. Di seberangnya, Pulau Pasige yang rendah tampak tenang, sebelum akhirnya pandangan mendarat di pesisir Balehumara, jantung Pulau Tagulandang.
Dulu, kapal K.P.M yang melepas sauh dari Manado saat senja baru akan tiba di Tagulandang pada dini hari. Kini, deru mesin kapal cepat memangkas waktu itu menjadi hanya tiga jam.
Di pulau seluas 5.000 hektare inilah, sejarah besar dimulai pada tahun 1570, ketika seorang perempuan bernama Lohoraung ditahbiskan menjadi Ratu, menandai dimulainya era kerajaan.
Menelusuri empat abad Kerajaan Tagulandang adalah upaya menyusun serpihan kaca yang pecah. Beruntung, bibliografi karya Alex J. Ulaen dan diskusi panjang dengan Adrianus Kojongian menjadi lentera penuntun.
Kojongian, lelaki yang memilih bermukim di kesejukan Tomohon, menghabiskan bertahun-tahun untuk memilah data dari literatur Eropa yang berdebu demi menghidupkan kembali kisah raja-raja Tagulandang.
“Butuh waktu lama untuk menggali data yang valid,” ungkap Kojongian dalam sebuah korespondensi. Melalui ketekunannya, nama-nama penjelajah besar seperti Fernao Vaz Dourado muncul kembali.
Pada tahun 1580, Dourado mencantumkan kerajaan ini dalam peta pelayaran niaganya dengan nama ‘Pagincar‘. Sepuluh tahun kemudian, eskader Bertholamev Laso menyebutnya ‘Pancare‘, sebuah negeri yang saat ini dikenal sebagai penghasil salak yang makmur.
Sejarah mencatat, 1 November 1677, Gubernur VOC Robertus Padtbrugge bersama Sultan Ternate menggempur Siau dan menekan kerajaan-kerajaan di Nusa Utara. Saat itu, Kerajaan Tagulandang sudah berdiri kokoh selama 93 tahun.
Wilayah ini bukan sekadar gugusan pulau, melainkan benteng pertahanan terakhir untuk mengusir pengaruh Spanyol dan Portugis dari tanah utara Sulawesi.
Lalu, saat mengunjungi Minanga di tahun yang lain, kita mungkin lebih sering mendengar legenda Putri Sinandiri yang berubah menjadi duyung atau kisah bajak laut dari Sulu Mindanao yang singgah mengambil air jernih.
Namun, jejak 19 raja yang pernah memimpin Tagulandang tetap terpatri. Sejarah itu berakhir tragis di tangan fasisme Jepang pada 1945, saat Raja Willem Philips Jacobz Simbat dipancung di Tahuna.
Tagulandang dan Biaro kini berdiri dalam sunyinya, memegang teguh kontrak lama yang pernah melarang adanya keyakinan selain Protestan Reformasi di masa Padtbrugge.
Namun lebih dari itu, mereka memegang janji samudera. Seperti kata para nelayan di sana, hidup adalah tentang bertahan di tengah ombak, menjaga tradisi agar tidak pecah dan hilang seperti butiran garam yang tertiup angin laut. (*)
Penulis/ Editor
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post