DI TAFERIL BASQUIAT
aku selalu ingin menulis Cabana
entah apa sebabnya
kendati itu tempat yang juga fana
di sebuah pojok, ada meja segi empat dari kayu
keheningan yang mewah
dan senyuman berpesta
mendekati malam
di sana,
aku melihat arsitektur liar percintaan
—apakah aku terlalu ingin mengenang matanya
mata bertaburan kunangkunang
mata tak pernah menatapku dengan sungguh
malam itu
ilalang tengah mendengkur
laut berdebur
dan
bulan seperti wajah penghibur
ia berbalutkan kain halus
seperti Januari pucukpucuk pinus
warna hijau
berlilit daun
seolaholah ia wajah suci dari goresan Sanzio
dan aku berleleran liar di teferil Basquiat
—apakah aku harus menulis bahwa aku percaya dadanya berdegup?
aku berpurapura!
aku tak ingin mengatakan,aku lebih klimis dari hujan
bahkan darahku
sebuah klimaks paduan suara barok dan rakoko
tapi ketika itu aku memilih mendesis saja
mempertunjukan purapura yang konyol
lalu apa sebabnya aku selalu ingin menulis Cabana?
usiaku sudah lima puluh empat tahun
tak ada lagi warna lain dari matahari selain oranye
di jalan pantai ada bendera
tempat itu dulu dibumihanguskan perang dunia ke dua
aku mencium bau vodka
malam lagi berpesta
dan
senyumannya
membuka pintu penjara
mencipta cerita seribu satu malam
bahwa Sanzio yang melukis wajahnya
maka,
seluruh dirinya seutuhnya puisi
dan aku seseorang yang harus menulis
menulis dengan perasaan amat dalam
meskipun entah apa sebabnya aku merasa ia bagai rumah
ORANG GILA DARI EDGAR
—berapa kali engkau bertemu orang gila sepanjang hidupmu?
ketika aku jatuh cinta pada perempuan monet
perempuan berpayung di pinggir sebuah bukit
perempuan yang menatap jauh ke laut lepas
tibatiba aku merasa diriku sebuah kapal
kapal tangguh dipenuhi lagulagu balini
dan aku berusaha mendekati bukit itu
sedekatdekatnya berlabuh
apakah raut wajahnya pucat?
sumpah! hanya satu kubayangkan, yakni:
—kegembiraan berkeliaran di sana
seperti tanah timur
gembur oleh cinta yang subur
dan aku menunggu:
—menunggu saatsaat paling menggetarkan:
akankah tangannya merangkulku?
merangkul semua yang kupercaya
lupa kuceritakan,
hari itu pulaupulau bermandikan pendaran ultraviolet
dan mataku berkatarak,
dan dada kiriku sesak!
dan sekali lagi aku bersumpah:
—itu perempuan monet!
pasti dia!
perempuan seperti itu kurindukan!
namun saat usiaku lima puluh empat tahun
aku menjadi yakin:
—perempuan itu sama sakali tak merindukanku!
tak merindukan segala yang kupercaya:
tanah air dan sejarahnya!
hidup dan maknamaknanya!
—tapi mengapa aku masih merasa bahwa aku ini sebuah kapal?
apakah kalian dengar yang dilakukan Edgar padaku?
aku ditangkapnya di suatu malam penuh permenungan
puisipuisiku dibakarnya
tanah airku dikoyaknya!
dan aku dijebloskan ke sel terpencil rumah sakit jiwa Maison de Sante
bersama seorang lelaki yang percaya bahwa dirinya sebuah gasing
THE DREAM PABLO PICASSO
barangkali ia hanya seekor kelelawar
ya kelelawar di udara malam mendesis
kali pertama ia menyusup
aku tersihir nokturnal hamparan laut
kapalkapal
sudutsudut pulau
petapeta
dan impianku yang merantau
ternyata ia gaduh yang memiliki tubuh!
gaduh yang memiliki sumbu!
maka,
kurobek leher perempuan itu
kurobek dengan susah payah
tetapi,
ia terus saja menyebut namaku
aku terpenjara oleh suaranya
oleh desisnya yang jelita
kami bercinta dengan amat jelita
saling menyentuhkan tubuh katakata
aku kembali percaya
ia hanya kelelawar di udara malam yang mendesis
dan cakarcakar moleknya
menggenitiku dengan solek
ada cermin segi empat di sebuah kamar hotel
ia bugil di depannya sekitar satu jam
kalian tahu apa yang terjadi?
cermin itu meleleh!
dan bulan tak berkedip
pukul empat sore
ia melangkah anggun di sebuah mall
busananya sederhana
bibirnya segores lipstik merah muda
dan waktu berhenti mendetak
semua mata mengikuti perlahan satu demi satu langkahnya
kalian tahu karena apa?
tak ada apaapa sesungguhnya
tapi semua percaya ia jelmaan madona
maka,
kurobek leher perempuan itu
kurobek dengan susah payah
mengapa malam ini ia terus saja menyebut namaku
kepalaku terkulai penuh ulat
penuh kutu
kutu dari suara jelmaan Madona itu
setiap pukul sembilan malam aku berdoa
tapi mengapa aku ikut mendoakan dia
mendoakan sayapsayapnya yang anggun
mendoakan jangan sampai sayap bertiang rapuh itu patah
mendoakan perantauannya mengarungi gelap malam
mendoakan hatiku yang tak bisa lepas dari panggilannya
di sebuah sofa mendekati pagi
di jam yang sama saat Salvador Dali melukis The Persistence of Memory
aku seakan Gustav Klimt dari Vienna mencium pipi seorang gadis
dikelilingi selimut emas
—aku kembali jatuh cinta!
cinta yang luka!


Discussion about this post