BARTA1.COM — Deru mesin buldoser menderu, disusul bunyi tiang pancang yang menggedor bumi. Suara itu, seolah mencabik ketenangan pagi, membuat bulu-bulu burung Rinceng di sawah terakhir di kaki Gunung Lokon, Minahasa, berdiri tegak. Setiap dentuman terasa semakin mendekat, mengancam.
Di atas hamparan sawah basah, tempat padi-padi kuning menunduk, dan di bawah bayangan patung Pateir Raksasa yang berdiri kaku, sekelompok Rinceng tampak putus asa.
Kabar buruk telah lama berembus: sawah tempat mereka mencari makan akan ditimbun untuk lokasi pembangunan hotel megah milik pengusaha dari Jakarta.
“Cepat! Menyingkir! Menyingkir!” seru Rinceng Tua, suaranya parau menahan panik.
Semua Rinceng saling pandang, bingung, tidak tahu ke mana lagi harus mengepakkan sayap.
Seekor Rinceng yang dikenal Rinceng Nakal, bertengger di dahan kering, tiba-tiba memecah keheningan dengan nyanyian bernada sinis: Bencana dicipta. Bencana dipuja. Itu jahatnya manusia.
Rinceng-rinceng lain ikut bernyanyi, paduan suara keputusasaan terdengar memilukan, bergema di antara pohon Nantu: Kamilah burung-burung rinceng… Rinceng… Rinceng… Gelisah dan meratap, kemana sayap mau dikepak, sawah-sawah akan lenyap.
Rinceng Nakal kembali bersuara, mengayunkan kakinya dengan geram. “Mengapa kita semua seperti terlahir hina? Dipermainkan kuasa? Merdeka itu apa?”
“Rinceng-rinceng kita kaum jelata. Politik dan hukum tak melihat kita. Didobrak penguasa, ditindas pengusaha. Rinceng kita, rinceng yang jelata!”
Rinceng Tua, yang pilu dan ketakutan, mendekati kelompoknya. “Sudah semakin dekat! Buldoser-buldoser itu akan tiba di sini. Sawah ini akan ditimbun. Bangunan tinggi akan berdiri di tempat ini. Bergegaslah menyingkir!”
Mendengar ucapan Rinceng Tua, kegelisahan makin memuncak. Mereka bergegas mengemas barang-barang seadanya, sambil terus meratapi nasib.
Rinceng Nakal tiba-tiba bernyanyi lagi: “Di sini, di sana. Di mana-mana. Tak ada lagi rasa cinta. Bencana dicipta. Bencana dipuja. Itu jahatnya manusia.”
Di tengah kesibukan panik, Bang Rinceng membentak istrinya, Bing Rinceng, yang tampak lamban.
“Woi, wangala, capat jo! Ngana pe palang skali bagara, e! Keburu mampos tatutu deng tanah torang. Bawa jo barang-barang yang masih torang perlu saja,” bentaknya dalam dialek Manado yang kental.
Bing Rinceng membalas tidak kalah sengit. “Ngana cuma banya mulu. Maskena! Iko kwa manipang, jang cuma tiki pinggang di situ ngana!”
Tiba-tiba, Anak Bing Rinceng berteriak sambil menangis, “Mama, kita so tabera calana.”
Rinceng Nakal terbahak-bahak.
Bing Rinceng bergegas mendekati anaknya. “Pustemaleh deng ngana! Dunia somo ancor masihleh pake acara bera calana. Pigi baganti sana!”
Saat Anak Bing Rinceng baru saja keluar, bunyi buldoser dan tiang pancang makin menggetarkan. Ia kembali masuk, menjerit ketakutan.
“Mama… Kita tako! Ada hoga di luar sana,” isaknya.
“Wangala jo ngana! Nyanda ada hoga kwa! Paling-paling itu cuma tikus-tikus. Datang ba reno-reno di sini,” kata Bing Rinceng mencoba menenangkan.
“Mar depe muka kwa rupa setang, Ma,” balas si Anak.
“Memang bagitu muka tikus-tikus. Tukang ba reno. Mulu tai minya. Kapista biru, tukang alih isu, supaya orang tako hoga, Tai blao. Jang tako pa dorang!” balas Bing Rinceng. Ia lalu melampiaskan kemarahan ke suaminya.
“Woi kapista! Jang cuma jadi tiang garang ngana situ! Urus ni anak! Pigi deng ngana pe pai!”
Bang Rinceng balas memaki, “Ngana memang parampuang pang marah! Dasar mulu pece!”
“Kalo kita mulu pece, kiapa ngana babini deng kita dang?” Bing Rinceng melawan.
“Ngana bantar kita…” ancam Bang Rinceng.
“Bantar apa? ngana mo pukul pa kita?” tantang Bing Rinceng.
Rinceng Nakal bersorak senang, “Woi! Baku cigi, baku garo, baku banting, baku salempang jo ngoni! Hahahaha!”
Para Rinceng lain tertegun, siap menyaksikan perkelahian pecah. Namun, Rinceng Tua cepat meredam. “Sudah! Jangan bertengkar! Keadaan sudah gawat kalian masih menambah masalah.”
Perkelahian urung terjadi. Mereka kembali berkemas, nyanyian suara ratapan menyayat hati kembali mengalun, mengiringi deru buldoser yang semakin jelas.
Tiba-tiba, Rinceng Tua berteriak, suaranya dipenuhi amarah bercampur putus asa, “Berhenti bernyanyi! Buldoser-buldoser itu sudah dekat! Truk-truk tanah akan datang menimbun tempat ini! Batu-batu akan berjatuhan! Sawah ini akan lenyap sekejap! Apa kalian mau mati?!”
“Aku mau mati,” jawab Rinceng Nakal, nadanya menantang maut. “Mana pistol… aku mau menembak kepalaku. Biar kepalaku bocor oleh pelor, daripada mati disosor buldoser dan otak-otak manusia kotor yang cuma berisi celana color dan tolor!”
“Diam kamu!” gertak Rinceng Tua.
“Pak Tua, mulutku bisa diam, tapi bagaimana dengan hati nuraniku? Aku ingin gantung diri. Biar leherku tercekik tak bisa memekik, daripada mati digigit buldoser dan otak-otak manusia genit yang cuma berisi bau sengit dan dedemit,” balas Rinceng Nakal.
Rinceng Tua membentak lagi, “Diam kamu! Aku tidak main-main.”
Rinceng Nakal bergumam, “Wangala jo. Cuma bagituleh napsu. Kalo ndak inga ngana orang tua, so pica ngana pe mulu Pak Tua.”
“Apa kamu bilang? Coba bilang lagi!” Rinceng Tua mendidih.
Keadaan senyap sesaat.
“Mengapa kalian diam? Ayo berkemas! Kita harus segera pergi dari sini!” Rinceng Tua memecah keheningan.
Rinceng Kecil bertanya dengan polos, “Kita akan pergi ke mana Pak Tua?”
Pertanyaan itu menampar kesadaran semua Rinceng. Rinceng Nakal membenarkan, “Nah, betul itu Nak! Nah, saudaraku, kalau kita memang akan pergi, kita mau pergi ke mana? Di negeri ini, semua tanah telah dikuasai pemilik dana dan Jakarta. Rakyatnya ditendang kian ke sana. Kita mau pergi ke mana?”
Mereka sadar. Tidak ada sawah lain di dekat situ. Hutan di belakang sawah pun sudah dibabat. Mereka ribut, berdebat tanpa kepastian.
“Sudahlah! Berhentilah membuat keributan! Yang kita perlukan saat ini akal sehat!” teriak Rinceng Tua.
“Tidak ada lagi sawah tersisa di dekat sini. Kita hanya burung sawah yang berharap hidup dari remah gabah yang jatuh dari tangan petani. Kita akan pergi ke mana?” isak seekor Rinceng.
Rinceng Nakal menyimpulkan, “Itu persoalannya. Manusia masa kini, pencipta bencana, pemuja bencana. Mereka sangat buas, bahkan lebih buas dari hewan. Mereka sangat jahat, bahkan lebih jahat dari setan. Mereka telah mengambil semua apa-apa yang seharusnya menjadi habitat hidup kita. Mereka tak peduli alam semesta ini hancur. Kita akan pergi ke mana, Pak Tua?”
Rinceng Tua terdiam sejenak, wajahnya mengeras. “Kita butuh akal sehat. Saudara-saudara, burung-burung Rinceng yang malang. Kalau kita bertahan di sawah ini, kita akan mati. Jadi, tidak ada pilihan lain selain pergi meninggalkan tempat ini.”
“Tapi tidak ada tempat lagi untuk kita di luar sana. Tidak ada harapan hidup,” balas yang lain.
Setelah keributan dan ratapan yang pilu, Rinceng Tua mengambil keputusan terakhir.
“Sebagai tetua kalian, aku memutuskan: Kita pergi dari sawah ini. Di luar sana, memang belum tentu kita punya harapan. Tapi dengan pergi, setidaknya kita telah berupaya mencari jalan memperjuangkan kehidupan.”
Mereka semua diam tercekam. Bunyi Buldoser dan Tiang Pancang menggelegar dahsyat.
Anak Rinceng Kecil tiba-tiba menyanyikan sebuah lagu yang sangat sedih, “Aku seekor anak Rinceng sedih sekali. Ayah ibu akan pergi. Aku tinggal sendiri. Aku seekor anak Rinceng lahir di sawah ini.”
“Ini bukan tanah airmu lagi, Nak. Kita hanya burung. Kita harus pergi. Kalau tidak kita akan mati bersama sawah ini,” kata Ibu Rinceng.
Namun, Rinceng Kecil tiba-tiba berseru, “Kita harus melawan, Ma! Harus kita pertahankan sawah terakhir ini, Ma!”
Seruan itu menyentak kesadaran. Tiba-tiba, semangat baru muncul.
“Perlawanan… perlawanan… perlawanan Rinceng! Kita harus melawan!” teriak mereka dalam paduan suara yang membangkitkan.
Tiba-tiba, Rinceng Nakal memberi pengumuman, wajahnya pucat. “Woi… cilaka… cilaka! Pateir itu bergerak!”
Patung kayu raksasa penjaga sawah, Pateir Raksasa, bergerak perlahan. Semua Rinceng terpaku, lalu berkumpul ketakutan, berdesakan seolah menyembunyikan diri dari amukan Patung.
“Ehem… ehem… ehem. Wahai para Rinceng. Apakah kalian akan melawan?” suara Pateir Raksasa terdengar berat.
Tidak ada yang berani menjawab, kecuali Rinceng Kecil. Ia maju dengan gagah berani, meski Ayah dan Ibunya sangat khawatir.
“Aku akan melawan Pateir,” katanya lantang.
Pateir Raksasa tertawa berderai. “Bagus… bagus… Masih ada keberanian.”
“Sayapku terlalu kecil untuk terbang berlari. Satu-satunya yang kumiliki adalah, keberanian menyongsong mati,” balas Rinceng Kecil.
Pateir Raksasa terdiam, lalu berkata, “Rinceng Kecil, kau pemuda yang berani. Sudah lama aku tak melihat keberanian semacam ini ada di hati kalian.”
Ibu Rinceng menghambur, memohon ampunan, “Jangan melawan, Nak. Dia bukan tandinganmu. Dia besar. Dia kuat. Jangan lakukan itu, Nak! Dia akan menelanmu!” Ayahnya ikut memohon, “Wahai Pateir, maafkan anakku. Jangan kau apa-apakan anakku.”
Pateir Raksasa kembali tertawa, “Kalian pengecut! Di mana semangat perlawanan kalian. Pasrah dan menukar nyawa itu kepengecutan yang tak termaafkan! Rinceng Kecil, tunjukkan keberanianmu Nak. Mari bertarung denganku! Apakah kau masih berani?”
Pateir Raksasa mulai mengayunkan lengannya. Rinceng Kecil, mengambil sebatang kayu kecil dan maju, memukul kaki Pateir Raksasa.
Ayah dan Ibu Rinceng menarik anak mereka. “Berhentilah, Nak. Kau tak akan mampu melawan dia.”
“Bukan persoalan kalah menang, Ayah. Aku hanya mau menunjukkan bahwa aku tak takut padanya. Aku tak takut pada kematian,” balas Rinceng Kecil.
Pateir Raksasa terbahak, “Aku puas… aku puas. Hari ini aku melihat keberanian. Keberanian yang masih tersisa, meski itu hanya ada dalam diri makhluk kecil seperti ini.”
Ibu Rinceng kembali memohon ampunan Pateir. Pateir Raksasa diam terpaku, lalu berkata, “Jangan berterima kasih kepadaku. Berterimakasihlah pada anakmu. Kalian semua harusnya belajar keberanian padanya. Karena tanpa keberanian kalian tak bisa hidup di dunia ini.”
Ia melanjutkan, “Aku hanya Pateir, penjaga sawah yang diciptakan manusia untuk menakut-nakuti kalian. Padahal, untuk mencabut selembar bulu kalian saja aku tak mampu. Aku heran kalian begitu takut padaku. Kalian telah dijajah oleh ketakutan. Di dunia ini musuh paling berbahaya adalah ketakutan itu sendiri. Manusia memang makhluk paling berbahaya. Mereka adalah mesin. Manusia yang termesinkan. Kekuasaan yang termesinkan.”
Pateir Raksasa kemudian bernyanyi sendiri, disusul oleh paduan suara Rinceng yang pilu:
“Penjagalan telah menjadi gaya. Kematian telah menjadi biasa. Tangisan tak lagi mulia. Suara manusia telah menjadi sumbang. Bumi adalah makam raksasa. Bumi adalah makam raksasa.”
Bunyi buldoser dan tiang pancang menggelegar memekakkan telinga.
“Sudah semakin dekat! Kita harus menentukan sikap,” kata Rinceng Tua.
“Wahai para Rinceng. Tinggalkan sawah ini. Carilah keselamatan. Pergilah! Pergilah!” seru Pateir Raksasa.
Para Rinceng berhamburan pergi. Suara tembakan dan unjuk rasa terdengar di kejauhan.
Tak lama kemudian, para Rinceng kembali ke sawah itu dengan lesu. Kabut asap telah meliputi kawasan sawah. Rinceng Nakal berdiri di atas batu, Anak Rinceng memeluk tiang kayu. Pateir Raksasa terdorong ke tengah.
“Mengapa kalian kembali. Bukankah kalian telah pergi menyelamatkan diri?” tanya Pateir Raksasa.
“Kau benar, Pateir. Tak ada gunanya berlari bila di luar sana pada akhirnya kami akan mati. Bila harus mati, bukankah lebih baik mati dengan gagah berani di atas tanah air sendiri,” jawab Rinceng Tua.
Rinceng Nakal menyahut, “Apa ta bilang. Pake acara lari leh kwa. Kumpul jo sini, mari torang baku ambor. Mampos kalo mampos!”
Semua bernyanyi lagi: “Bumi adalah makam raksasa. Bumi adalah makam raksasa.”
Terdengar serentetan tembakan. Rinceng Nakal menunjuk ke depan. “Korban berjatuhan di sana.”
“Begitulah manusia. Untuk bisa makan, mereka tak segan saling bunuh satu dan lainnya,” ujar Pateir Raksasa.
Dalam kabut asap dan gemuruh mesin, para Rinceng berdiri tegak di sawah terakhir mereka, menyanyikan ratapan sedih yang telah berubah menjadi perlawanan sunyi di kaki Gunung Lokon itu. (*)


Discussion about this post