BARTA1.COM– Di Kepulauan Talaud, jauh sebelum Indonesia merdeka, sebuah tatanan sosial politik yang kaya dan kompleks telah berurat berakar. Bukan hanya satu, melainkan puluhan kerajaan kecil—landschap atau afdeeling dalam catatan kolonial—pernah berjaya di sana, meninggalkan warisan yang masih terasa denyutnya hingga kini.
“Masyarakat kami dahulu memiliki sistem yang sangat jelas. Ada kelompok Papung, yaitu keturunan raja-raja dan bangsawan lama. Mereka adalah pemegang otoritas adat,” ujar seorang tokoh adat di Beo, menceritakan kembali sejarah lisan yang terawat.
Pelapisan sosial adalah cerminan kekuasaan masa lampau. Di bawah Papung, ada golongan rakyat biasa, dan yang paling bawah adalah Alangnga, kelompok budak di masa lalu.
Meskipun pengaruh pelapisan sosial yang tajam ini kini telah menipis seiring perkembangan zaman, sistem ini menjadi bukti keberadaan entitas kerajaan yang nyata.
Puncak dari sistem monarki modern Talaud tercatat pada abad ke-20, yaitu pendirian Kerajaan Talaud pada tahun 1922 di bawah Raja Johanis Tamawiwy, dengan pusat pemerintahan di Beo.
Jejak formal kerajaan-kerajaan Talaud terekam jelas dalam arsip kolonial, terutama pada masa Residen Jansen—yang kemudian menjadi Gubernur Celebes en Onderhoorigheden pada Agustus 1859.
Jansen adalah arsitek pembagian administratif yang memisahkan Kepulauan Talaud menjadi banyak afdeeling atau landschap independen, masing-masing terdiri dari beberapa negeri bawahan. Pembagian ini mencerminkan pengakuan de facto terhadap kerajaan-kerajaan kecil yang sudah ada.
Pulau Kabaruan terbagi atas tiga afdeeling: Kaburuang-Benteneh, Mangaran (dengan bawahan seperti Tadune dan Rarange), dan Toade-Waleh (Taduwale).
Pulau Lirung memiliki tiga landschap, termasuk Lirung yang terkemuka dengan raja-raja berpengaruh seperti Tukunang.
Pulau Karakelang adalah yang terluas, dibagi menjadi delapan landschap, seperti Makatara, Essang, dan Arangkaa.
Data yang paling mencengangkan datang dari Residen Jansen sendiri, yang mencatat pada tahun 1857 bahwa terdapat 47 kepala di seluruh Kepulauan Talaud yang menyandang gelar Raja. Ini menunjukkan fragmentasi kekuasaan yang luar biasa.
Di satu pulau kecil seperti Lirung/Salibabu, ada Landschap Lirung yang dipimpin oleh dua raja: Tukunang dan Tatengan. Sementara itu, di Karakelang, negeri Tarun memiliki raja bernama Makalunsenge.
“Banyaknya raja di Talaud menunjukkan bahwa setiap komunitas, setiap wilayah, memiliki otonomi dan pemimpinnya sendiri. Mereka bukan sekadar kepala desa biasa, tapi pemimpin politik yang dihormati,” kata Pitres Sombowadile, sang penulis buku: “Dari Perbatasan Berlayar ke Masa Depan, Sejarah Kristen di Talaud Hingga Terbentuknya Gereja Masehi Injili Talaud, 1859-1997”.
Bahkan pulau terpencil di perbatasan, seperti Miangas (Melangis) di Kepulauan Nanusa, telah dipimpin oleh seorang raja bernama Sasuh. Keberadaan puluhan raja ini, dengan nama-nama unik seperti Wondang Pangaleh di Kabaruan dan Pendeh di Nanusa, mempertegas betapa kayanya sejarah politik Talaud.
Selain raja bergelar Raja, struktur kekuasaan ini juga diperkuat oleh para kepala negeri yang memiliki gelar lebih rendah, menunjukkan sebuah hierarki pemerintahan yang terperinci dan berlapis.
Di Pulau Lirung, misalnya, negeri Sereh dipimpin oleh seorang Jogugu, sementara di Karakelang ada pemimpin bergelar Kapitein Laut, Kassielieratu, dan bahkan President Raja.
Pembagian gelar ini, yang dicatat Jansen dengan detail—mulai dari Jogugu di Tuleh, Kassielieratu di Kalumu, hingga Kapitein Raja di Bambu—mengindikasikan bahwa sistem pemerintahan mereka sangat terorganisir dan diakui secara luas di antara negeri-negeri.
Ini adalah bukti adanya tatanan adat dan politik yang solid jauh sebelum campur tangan Belanda menguat sepenuhnya.
Meskipun sistem landschap dan gelar-gelar raja telah lama hilang digantikan oleh struktur administrasi modern, kisah 47 raja di Talaud adalah narasi yang tak boleh pupus. Ia adalah fondasi sejarah yang membentuk identitas, adat, dan ikatan sosial masyarakat Talaud hingga hari ini.
Pelajaran dari fragmen-fragmen kerajaan ini adalah bahwa kedaulatan, sekecil apa pun wilayahnya, selalu menjadi ruh dari sebuah komunitas. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post