• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Sabtu, Juli 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sejarah

Melacak Jejak Kerajaan-Kerajaan Kecil di Tanah Talaud

by Iverdixon Tinungki
16 Desember 2025
in Sejarah
0
Jejak sejarah kerajaan di Talaud. (Gambar: Ilustrasi AI)

Jejak sejarah kerajaan di Talaud. (Gambar: Ilustrasi AI)

0
SHARES
126
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BARTA1.COM– Di Kepulauan Talaud, jauh sebelum Indonesia merdeka, sebuah tatanan sosial politik yang kaya dan kompleks telah berurat berakar. Bukan hanya satu, melainkan puluhan kerajaan kecil—landschap atau afdeeling dalam catatan kolonial—pernah berjaya di sana, meninggalkan warisan yang masih terasa denyutnya hingga kini.

“Masyarakat kami dahulu memiliki sistem yang sangat jelas. Ada kelompok Papung, yaitu keturunan raja-raja dan bangsawan lama. Mereka adalah pemegang otoritas adat,” ujar seorang tokoh adat di Beo, menceritakan kembali sejarah lisan yang terawat.

Pelapisan sosial adalah cerminan kekuasaan masa lampau. Di bawah Papung, ada golongan rakyat biasa, dan yang paling bawah adalah Alangnga, kelompok budak di masa lalu.

Meskipun pengaruh pelapisan sosial yang tajam ini kini telah menipis seiring perkembangan zaman, sistem ini menjadi bukti keberadaan entitas kerajaan yang nyata.

Puncak dari sistem monarki modern Talaud tercatat pada abad ke-20, yaitu pendirian Kerajaan Talaud pada tahun 1922 di bawah Raja Johanis Tamawiwy, dengan pusat pemerintahan di Beo.

Jejak formal kerajaan-kerajaan Talaud terekam jelas dalam arsip kolonial, terutama pada masa Residen Jansen—yang kemudian menjadi Gubernur Celebes en Onderhoorigheden pada Agustus 1859.

Jansen adalah arsitek pembagian administratif yang memisahkan Kepulauan Talaud menjadi banyak afdeeling atau landschap independen, masing-masing terdiri dari beberapa negeri bawahan. Pembagian ini mencerminkan pengakuan de facto terhadap kerajaan-kerajaan kecil yang sudah ada.

Pulau Kabaruan terbagi atas tiga afdeeling: Kaburuang-Benteneh, Mangaran (dengan bawahan seperti Tadune dan Rarange), dan Toade-Waleh (Taduwale).

Pulau Lirung memiliki tiga landschap, termasuk Lirung yang terkemuka dengan raja-raja berpengaruh seperti Tukunang.

Pulau Karakelang adalah yang terluas, dibagi menjadi delapan landschap, seperti Makatara, Essang, dan Arangkaa.

Data yang paling mencengangkan datang dari Residen Jansen sendiri, yang mencatat pada tahun 1857 bahwa terdapat 47 kepala di seluruh Kepulauan Talaud yang menyandang gelar Raja. Ini menunjukkan fragmentasi kekuasaan yang luar biasa.

Di satu pulau kecil seperti Lirung/Salibabu, ada Landschap Lirung yang dipimpin oleh dua raja: Tukunang dan Tatengan. Sementara itu, di Karakelang, negeri Tarun memiliki raja bernama Makalunsenge.

“Banyaknya raja di Talaud menunjukkan bahwa setiap komunitas, setiap wilayah, memiliki otonomi dan pemimpinnya sendiri. Mereka bukan sekadar kepala desa biasa, tapi pemimpin politik yang dihormati,” kata Pitres Sombowadile, sang penulis buku: “Dari Perbatasan Berlayar ke Masa Depan, Sejarah Kristen di Talaud Hingga Terbentuknya Gereja Masehi Injili Talaud, 1859-1997”.

Bahkan pulau terpencil di perbatasan, seperti Miangas (Melangis) di Kepulauan Nanusa, telah dipimpin oleh seorang raja bernama Sasuh. Keberadaan puluhan raja ini, dengan nama-nama unik seperti Wondang Pangaleh di Kabaruan dan Pendeh di Nanusa, mempertegas betapa kayanya sejarah politik Talaud.

Selain raja bergelar Raja, struktur kekuasaan ini juga diperkuat oleh para kepala negeri yang memiliki gelar lebih rendah, menunjukkan sebuah hierarki pemerintahan yang terperinci dan berlapis.

Di Pulau Lirung, misalnya, negeri Sereh dipimpin oleh seorang Jogugu, sementara di Karakelang ada pemimpin bergelar Kapitein Laut, Kassielieratu, dan bahkan President Raja.

Pembagian gelar ini, yang dicatat Jansen dengan detail—mulai dari Jogugu di Tuleh, Kassielieratu di Kalumu, hingga Kapitein Raja di Bambu—mengindikasikan bahwa sistem pemerintahan mereka sangat terorganisir dan diakui secara luas di antara negeri-negeri.

Ini adalah bukti adanya tatanan adat dan politik yang solid jauh sebelum campur tangan Belanda menguat sepenuhnya.

Meskipun sistem landschap dan gelar-gelar raja telah lama hilang digantikan oleh struktur administrasi modern, kisah 47 raja di Talaud adalah narasi yang tak boleh pupus. Ia adalah fondasi sejarah yang membentuk identitas, adat, dan ikatan sosial masyarakat Talaud hingga hari ini.

Pelajaran dari fragmen-fragmen kerajaan ini adalah bahwa kedaulatan, sekecil apa pun wilayahnya, selalu menjadi ruh dari sebuah komunitas. (*)

Penulis/Editor:

Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Pejabat Kantor Pertanahan Manado ikut Forum Penataan Ruang

Pejabat Kantor Pertanahan Manado ikut Forum Penataan Ruang

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Resmi Lantik Pengurus Pilar Harmonis Nusantara, Yulianti Saridin: Momentum Perkuat Pengabdian Kepada Bangsa dan Negara 24 Juli 2026
  • Dukung Kemandirian Petani Bunga Krisan, PLN UID Suluttenggo Resmikan Program Electrifying Agriculture di Tomohon 24 Juli 2026
  • PLN Pasang Sambungan Listrik Gratis untuk Enam Keluarga di Boltim 24 Juli 2026
  • PLN Pulihkan 94 Persen Pasokan Listrik Pascabanjir dan Longsor di Tamako 24 Juli 2026
  • PLN Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor di Tamako 24 Juli 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In