BARTA1.COM– Jauh sebelum catatan sejarah modern tertulis, sebuah mite purba telah menuturkan kisah tentang Alamina, sebuah daratan mahabesar yang membentang luas dari Bacan hingga mencapai Mindanao di utara.
Kisah ini, yang diperkirakan berasal dari masa sebelum 1500 SM, bukan sekadar legenda, melainkan sebuah narasi kosmik yang membentuk identitas kepulauan di utara Sulawesi.
Dalam historiografi para tetua di kepulauan Sangihe Talaud, jantung dari peradaban Alamina adalah pemimpin spiritualnya, seorang kulano tua bernama Ampuang Tatetu, yang dihormati sebagai representasi langsung dari dewa moyang tertinggi, Aditinggi, yang bersemayam abadi di puncak Gunung Karangetang, Siau.
Inilah titik awal dari sebuah kisah bencana dan kelahiran kembali yang luar biasa.
Kejayaan Alamina mendadak terhenti oleh murka kosmik. Menurut mite tersebut, daratan megah ini dihancurkan dan ditenggelamkan karena penduduknya telah melanggar hukum dewa moyang tertinggi, yang dikenal sebagai narang.
Konsep narang ini mewakili tatanan moral dan keseimbangan alam semesta yang harus dipatuhi. Kehancuran dahsyat ini, sebuah bencana air bah yang masif, meninggalkan jejak yang abadi.
Alamina lenyap, tetapi warisan spiritualnya tetap hidup dalam wujud geografis kepulauan yang tersisa.
Setelah bencana besar, yang tersisa dari Alamina adalah puncak-puncak gunungnya yang menjulang, yang kemudian menjadi pulau-pulau yang kita kenal hari ini.
Tak hanya itu, hamparan karang di dasar laut utara juga terangkat, membentuk gugusan pulau karang baru yang letaknya jauh di tengah lautan—yang kemudian dikenal sebagai Malaude atau Talaude.
Datuk Ampuang Tatetu sendiri yang menamai sisa-sisa reruntuhan ini sebagai Nusalawo, yang secara harfiah berarti “Pulau Banyak”.
Menariknya, saat ini kawasan kepulauan tersebut sering disebut sebagai Kepulauan Sangihe dan Talaud atau Nusa Utara. Namun, rekonstruksi mitologis ini menegaskan bahwa sebutan “Nusa Utara” tidak tercatat dalam artefak sejarah maupun mitologi Nusalawo yang otentik.
Nama asli dan sarat makna yang diberikan oleh datuk leluhur mereka, Ampuang Tatetu, adalah Nusalawo. Penekanan pada nama Nusalawo adalah upaya untuk mengembalikan akar historis dan spiritual yang tersemat dalam penamaan leluhur mereka, bukan sekadar deskripsi arah mata angin.
Ribuan tahun setelah kejatuhan Alamina, sejarah mencatat bencana lain yang tak kalah dahsyat. Pada abad ke-XI, terjadi letusan besar Gunung Awu di Pulau Sangihe. Peristiwa tragis ini menelan banyak korban jiwa dan menghancurkan 7.777 rumah, serta menenggelamkan sebagian daratan Pulau Sangihe.
Akibatnya, terbentuklah pulau-pulau kecil baru seperti Nusa, Lipang, dan beberapa pulau lainnya hingga mencapai Marore. Bencana ini bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga dipahami melalui lensa spiritualitas lokal.
Dalam pandangan masyarakat saat itu, bencana alam seringkali dihubungkan dengan pelanggaran moral atau spiritual. Letusan Gunung Awu pada abad ke-XI secara spesifik dikaitkan dengan adanya dosa sumbang (nedosa) yang dilakukan oleh dua tokoh: Mekondangi dan Tampilangbahe.
Mite ini berfungsi sebagai pengingat keras tentang konsekuensi dari pelanggaran etika sosial dan spiritual yang diyakini dapat memicu malapetaka alam.
Kisah Alamina, Ampuang Tatetu, narang, dan nedosa bukanlah sekadar cerita rakyat, melainkan sebuah filosofi kehidupan. Mite ini mengajarkan bahwa tatanan spiritual dan moral (narang) memiliki dampak langsung terhadap kondisi fisik daratan dan keselamatan hidup manusia.
Pemimpin spiritual (kulano) menjadi jembatan antara manusia dan dewa. Dengan memahami Nusalawo sebagai reruntuhan peradaban yang hilang, masyarakat memiliki pemahaman mendalam tentang siklus alam, pertobatan, dan kelahiran kembali.
Rekonstruksi mite ini, dari Kulano Ampuang Tatetu hingga tragedi Gunung Awu, menawarkan wawasan unik tentang bagaimana masyarakat Nusantara purba menjelaskan geografi, moralitas, dan takdir mereka.
Studi tentang Alamina dan Nusalawo memberikan konteks historis yang lebih kaya daripada sebutan geografis modern. Hal ini menjadi penting bagi upaya pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal di tengah arus modernisasi.
Kisah ini adalah pengingat bahwa di balik setiap pulau, tersembunyi sebuah legenda tentang keagungan, kejatuhan, dan kelahiran kembali, sebagaimana yang tersirat dalam puisi karya Iverdixon Tinungki berikut ini:
ALAMINA
dari mindanao hingga bacan
berkisah mondelingen alamina
ampuang mengajar kita syair dewa
o, aditinggi moyang tertinggi
pelindung alamina, pelindung kita
pusaka kara, seperti pedang terhunus
di tangan sejarah menjernihkan nasib
dimana doadoa berdaun
dimana maarifat berakar
dirapal hulubalanghulubalang
agar laut tak letih, langit tiada mengantuk
membuka luasnya jalan bagi pendayung
karena mendayung, dayunglah perahu
bersama seirama
searah setujuan
seperti tangan pasir yang banyak
membelai lautan serupa anak bocah
menjadi tak membahayakan
lalu terbetik cerita sukma selalu lusuh
seakan bumi tak berhenti menjadi tua
dan sejarah harus dibarukan
dalam gemerincing pedang beradu
anaksuku menggetarkan perang
membagi pulau atas nafsu, atas kuasa
menebas narang hingga menitikkan darah
dalam ketuban ajaran bertuah
kemudian melahirkan beberapa anak jadah
lihatlah moyangmoyang
di atas siong Kara, o
seperti guru letih mengajar anakanak durhaka
ketika jadi pemimpin hanya berpikir anak,
istri dan sanak saudara
rakyat di biar merana
penjahat dijadikan pahlawan
pahlawan dipenjarakan
ini keganjilan namanya!
maka berbijaklah ia
moyang ampuang Tatetu
sembilan kali menghadap dewa
membawa tangisan orangorang lembah
mereka yang hak kesejahteraannya dikorupsi para datuk
mereka yang hak kemanusiaannya diambil para datuk
o, moyang tertinggi, moyang aditinggi
empung upung amang, o
meminta ia alamina dibenamkan ke samudera
nedosa balagheng mau punya laut, punya pulau
punya semua, semaunya
beri air mata duka moyangmoyang
buat menempah, mengasah pedang perang generasibergenerasi
di atas laut yang dibawahnya terkubur sebuah negeri
dimana moyangmoyang dan peri
pergi menepi
membiar kita hidup sendiri
dan pulaupulau itu dinamai nusalawo
sebuah syair tua alamina
yang letih hidup bersama
2009
(*)
Penulis/ Editor:
Iverdixon Tiinungki


Discussion about this post