• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, Januari 13, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Gallery
Lengenda Kuno Orang-orang Sangihe Talaud.(Foto: Ilustrasi AI)

Lengenda Kuno Orang-orang Sangihe Talaud.(Foto: Ilustrasi AI)

Menguak Legenda Kuno Ibu Mitologis Orang-orang Sangihe Talaud

by Iverdixon Tinungki
11 Desember 2025
in Gallery, Sejarah
0
0
SHARES
36
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BARTA1.COM– Jauh di utara Nusantara, di gugusan kepulauan Sangihe dan Talaud yang dibentengi ombak dan karang, kisah tentang asal-usul manusia tidak dimulai dari tanah, melainkan dari air.

Ia berakar pada mitos-mitos kuno, di mana ibu pertiwi adalah seorang putri dari samudra, sosok menawan yang kehadirannya tiba-tiba, seolah diutus oleh badai atau bisikan lautan.

Putri Lohoraung, sang pendiri Kerajaan Tagulandang (1570-1609), adalah salah satu manifestasi paling nyata dari keyakinan ini. Di mata masyarakat Nusa Utara, ia bukan sekadar ratu sejarah; ia adalah seorang Nimfa, manusia dongeng yang muncul dari kedalaman biru, menginjakkan kaki di dunia nyata dalam sehelai ketelanjangan setelah diterpa badai besar, membawa serta kecantikan dan kekuatan gaib dari dunianya.

Di Minanga hingga ujung Kampung Buha, keyakinan bahwa Lohoraung adalah peri air yang diangkat menjadi pemimpin setelah terdampar di Tagulandang masih hidup dan mengakar.
Namun, kisah ibu mitologis dari dunia air ini ternyata bukan monopoli Tagulandang.

Para tetua di Pulau Siau pun menyimpan melodi yang sama tentang “Ingang,” peri-peri jelita yang pandai berkidung. Mereka menyanyikan lagu-lagu memikat yang mampu menarik para pelaut, mengawini mereka, atau bahkan menyesatkan mereka hingga kapal menabrak karang.

Melodi ini, alih-alih asing, justru terasa akrab dengan mitologi klasik Yunani; sebuah kesamaan yang membentang jauh melintasi samudra, dari Laut Sulawesi hingga Laut Aegea, tempat di mana para Siren—perempuan ajaib kaum Naiad—menggunakan nyanyian memabukkan untuk menenggelamkan pelayar di tebing-tebing karang.

Kesamaan narasi tentang dewi air ini mencapai puncaknya di Siau. Di Kampung Beong, Kecamatan Siau Tengah, ada sebuah tempat bernama “Akesio” atau Air Sembilan.

Diriwayatkan, inilah tempat mandi sembilan bidadari dalam dongeng “Sense Madunde.” Dari sembilan bidadari itu, salah satunya berhasil dinikahi oleh seorang manusia, melahirkan “Pahawo Suluge,” yang kemudian menjadi moyang orang-orang Siau.

Bukankah Akesio adalah cermin yang memantulkan mitologi Siren dari Yunani, di mana para putri Akhelous, yang konon berjumlah sembilan saat mandi, juga menikah dengan manusia dan melahirkan keturunan? Sejak pandangan dunia esoteris purba hingga legenda tentang makhluk pohon Apapuhang di Sangihe, benang merah kisah para leluhur Nusa Utara selalu bergelimang makhluk mitologis.

Maka, kisah Lohoraung si Nimfa air dan Sense Madune yang menikahi bidadari menemukan paralelnya pula dalam cerita rakyat orang-orang Bannada di Talaud, khususnya legenda “Lamaru dan Bidadari Nahangging.”

Di Wantane—desa yang bentuknya cekung seperti lunas kapal di Pulau Karakelang—hidup seorang lelaki bernama Lamaru yang berhasil mempersunting Woi Nahangging. Ia adalah jelmaan dari Dryad atau Peri Hutan, makhluk berwujud wanita yang dalam mitologi Yunani dikenal sebagai roh alam yang tinggal di pepohonan.

Dryad, Nimfa, dan Siren: semua adalah wujud feminin dari roh alam yang menolak penuaan dan penyakit, yang dapat melahirkan dewa, dan yang kematiannya terikat pada lokasi alaminya—entah air, hutan, atau batu karang. Intinya sama: nenek moyang mereka adalah sosok non-manusia yang datang dari dimensi lain untuk memulai garis keturunan baru.

Namun, di tengah-tengah rentetan mitos air dan hutan, kisah di Lirung, Pulau Salibabu, Talaud, membawa perspektif yang unik. Legenda ini menggantikan figur mitologis dengan sosok putri dari benua yang jauh: Eropa. Jauh dari pantulan Nimfa dan Siren, di pesisir tanjung Taduwowong, seorang pemuda rajin bernama Pinamangun menemukan sebuah rakit besar bersusun empat. Di dalamnya, terbaring seorang gadis cantik jelita yang kelelahan, berbahasa asing yang tak ia mengerti. Setelah diselamatkan dan diberi minum air kelapa muda, Pinamangun mengetahui namanya: Putri Arusa.

Inilah pergeseran narasi yang menawan: dari kisah peri yang datang secara gaib, beralih ke kisah putri yang datang karena nasib buruk. Putri Arusa, bangsawan dari Kerajaan Spanyol, dihukum oleh ayahnya dan dihanyutkan ke lautan karena menghilangkan cincin pertunangannya.

Ia bukanlah makhluk mitologis, melainkan korban dari hukum istana, yang membawa serta realitas dan budaya Barat ke pulau terpencil itu. Pinamangun menyembunyikannya di pegunungan yang kelak dinamakan Wowong Marruala (Gunung Nona), dan di sana, dalam kesunyian, Putri Arusa belajar bahasa Talaud, sementara Pinamangun belajar tentang kisah kerajaan jauh.

Persahabatan yang diselimuti kerahasiaan itu berujung pada pernikahan, melahirkan seorang putri bernama Ponisan, yang mewarisi kecantikan ibunya. Namun, kisah ini belum selesai. Diikuti oleh Airung—tunangannya yang dulu, yang kini menjadi tokoh pendukung—pasangan ini memilih Sara Banua sebagai rumah mereka, alih-alih kembali ke Spanyol. Airung, dengan segala pengetahuannya tentang arsitektur, pertanian, dan pelayaran modern, mengajarkan penduduk setempat cara membangun rumah yang lebih layak dan membuat perahu layar yang lebih besar.
P
ada akhirnya, kisah Sara Banua mencapai klimaksnya dengan kemakmuran dan kemajuan. Berkat kerja keras Airung yang tiada lelah, negeri yang sunyi itu berubah menjadi kota kecil yang ramai dan makmur.

Untuk menghormati jasa Airung, para tetua kampung memutuskan untuk mengabadikan namanya menjadi nama kota. Karena kesulitan pelafalan oleh penduduk lokal, nama Airung bergeser menjadi Lirunga, dan kini dikenal sebagai Lirung. Dengan demikian, Lirung tidak hanya mengenang seorang bangsawan yang terdampar, tetapi juga seorang tokoh yang menjembatani mitos dengan peradaban.

Ia adalah penanda bahwa asal-usul manusia Nusa Utara—baik yang berakar pada legenda Nimfa yang bersemayam di air, maupun Putri Spanyol yang dihempaskan oleh ombak—sama-sama berawal dari kedatangan sosok asing yang mengubah takdir dan membentuk identitas kepulauan itu.

Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Cerita rakyat dari pulau Makalehi, Kabupaten Sitaro tentang Raksasa Linsaha dan Onding. (Gambar: Ilustrasi AI)

Raksasa Linsaha dan Onding, Cerita Rakyat Dari Makalehi

Discussion about this post

Berita Terkini

  • AMSI dan PWI Desak Penghapusan Pajak Pengetahuan Untuk Keberlanjutan Media Nasional 12 Januari 2026
  • KMPA Tansa dan KPA Tulap Bagikan Bibit Rica Gratis di Girian Bitung 11 Januari 2026
  • MUSCAB IBI Bolsel ke-IV Jadi Ruang Peningkatan Kapasitas Bidan melalui Sosialisasi PMB UM Manado 10 Januari 2026
  • UM Manado Sosialisasikan PMB di DINKES Boltim – Puskesmas Tutuyan 10 Januari 2026
  • Bupati Michael Thungari Hadiri Peresmian dan Pentahbisan GMAHK Jemaat Aha Patung 10 Januari 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In