Barta1.com– Membuka sebuah pertanyaan universal misteri tentang asal-usul manusia adalah kisah tertua yang tak pernah usai. Di mana benang merah silsilah kita bermula? Pertanyaan purba ini menemukan gaungnya, terutama di kepulauan Sangihe Talaud yang menyimpan legenda migrasi.
Di ujung utara Sulawesi, di antara deburan ombak Pasifik yang biru, suku Sangihe Talaud telah lama menyimpan keyakinan: nenek moyang mereka adalah pelaut ulung yang datang dari selatan Filipina, sebuah kisah yang berakar dari pangeran legendaris Gumansalangi dari Mindanao.
Keyakinan ini, yang selama ribuan tahun menjadi jangkar identitas mereka, kini bertemu dengan cahaya terang sains modern—menariknya, tanpa lantas terhapus.
Narasi lokal ini bukan sekadar bisikan angin; ia terpatri dalam studi akademik. Dalam buku berjudul SILSILAS/TARSILAS yang ditulis oleh Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen, ditegaskan adanya kaitan tarsila atau silsilah leluhur yang sama antara komunitas di Sangihe Talaud dan orang-orang di Filipina Selatan.
Ikatan persaudaraan ini bukan hanya emosional, tetapi terangkum dalam bingkai kebahasaan—bahasa lokal di Sulawesi Utara dominan masuk dalam rumpun bahasa Filipina—dan struktur politik kuno, seperti hubungan historis antara Kerajaan Tugis (Mindanao) dan Kendahe (Sangihe). Sebuah jembatan budaya yang terbuat dari kata, tahta, dan darah.
Namun, cakrawala pencarian asal-usul ternyata jauh lebih luas dari Filipina. John Rahasia, seorang saintis yang berakar dari Sangihe Talaud, membawa kita dalam sebuah penelusuran yang mengguncang. Dalam konsep Tagaroalogi-nya, ia mengklaim bahwa leluhur Sangihe Talaud—bahkan seluruh klan di kawasan yang ia sebut “The Indo-Pacific Archipelago”—sesungguhnya berasal dari lembah sungai Mengkong di daerah Yunnan atau Vietnam.
“Dunia keenam Tagaroa” ini membentang dari Madagaskar hingga Pulau Paskah, dari Jepang hingga Selandia Baru, sebuah samudera raya tempat putera-puteri Tagaroa (bukan Oseania) bermigrasi sekitar tahun 2000-1700 SM akibat tekanan militer dari Cina dan Mongolia.
Narasi tentang migrasi kuno ini kemudian diperkuat oleh temuan ilmiah tentang genetika. Publikasi Journal of Human Genetics tahun 2013, berdasarkan penelitian pada 2.740 orang dari 70 komunitas di Indonesia, menyimpulkan adanya ikatan erat antara penduduk Indonesia hari ini dengan orang-orang di Asia dan Pasifik, dengan kemungkinan besar leluhur yang berasal dari Cina dan Asia Timur.
Penelitian genetik sebelumnya pada tahun 2010 juga menunjukkan ikatan DNA masyarakat Asia Tenggara dengan Asia Timur. Swapan Mallick dari Harvard Medical School menekankan: setiap genom manusia adalah sebuah arsip sejarah leluhur, sebuah peta genetis yang kini disusun dengan lompatan besar.
Penjelasan ilmiah yang kian kokoh ini perlahan-lahan menggeser, namun tidak sepenuhnya menghapus, keyakinan asal-usul yang bersumber dari mite dan legenda di berbagai klan.
Orang Sangihe Talaud, sebagai indigenous, juga hidup dalam sistem nilai yang lahir dari legenda mereka sendiri selama ribuan tahun. Kajian antropologi budaya pada masa lalu sempat menjelaskan mereka sebagai rumpun berbahasa Melanesia yang bermigrasi pada 40.000 SM, diikuti gelombang Austronesia dari Formosa sekitar 3.000 SM.
Namun, sains tak pernah diam. Penemuan genetik terbaru menawarkan kejutan yang mematahkan teori linguistik di atas: adanya kemungkinan leluhur klan di Indonesia berasal dari Nias-Mentawai, ditandai dengan ciri gen dari masa yang jauh lebih tua sebelum migrasi Formosa.
Lebih mendalam lagi, hasil penelitian genetik manusia saat ini merangkai cerita pengembaraan panjang leluhur manusia di seluruh dunia yang disebut berasal dari Afrika sejak 50.000 tahun silam yang kemudian berekspansi ke Eurasia.
Hannah Devlin, koresponden sains dari Guardian, menulis tentang jejak DNA tertua di dunia, mengungkapkan petunjuk bahwa gen pada penduduk asli Papua Nugini dan Australia memiliki rantai jejak DNA yang berusia 50.000 tahun lalu. Jejak ini menjadikan mereka keturunan langsung dari manusia tertua yang masih hidup saat ini.
Perhitungan para ahli genetika menunjukkan bahwa Homo sapiens berasal dari 200.000 tahun silam, dengan fakta menakjubkan: 99,9 persen kode genetika atau genom manusia di seluruh dunia adalah sama. Hanya 0,1 persen yang menegaskan perbedaan individual.
Perjalanan panjang dari Afrika, menyeberangi benua dan samudra, telah menciptakan wajah dan ras baru, bahkan mutasi neurologis yang melahirkan bahasa lisan yang berbeda.
Pertanyaan besar tetap menggantung di ruang para ahli: Apakah setiap manusia berasal dari seorang ibu Hawa Mitokondrial dan ayah Adam Kromosom Y yang hidup 150.000 tahun silam di Afrika? Meskipun jawabannya belum memuaskan, artefak dan jejak genetis tak terbantahkan menunjukkan satu hal: umat manusia adalah pengembara abadi.
Setiap klan, dari Sangihe Talaud hingga Aborigin, telah hidup dalam milenia di sebuah tempat, tunduk pada dewa, melahirkan mite, dan bermutasi—namun pada intinya, kita semua terhubung oleh benang leluhur yang sama. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post