Jakarta, Barta1.com – PT PLN (Persero) menegaskan komitmen penuhnya untuk menjadi offtaker atau pembeli listrik utama dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Indonesia, memastikan integrasi energi bersih ini ke dalam sistem kelistrikan nasional.
Dukungan ini menjadi pilar utama dalam menyukseskan target ambisius pemerintah, yakni pembangunan 33 PLTSa yang tersebar di berbagai provinsi hingga tahun 2029.
Komitmen tersebut disampaikan dalam acara Bloomberg Technoz Ecoverse di Jakarta, Kamis (20/11/2025), sejalan dengan percepatan proyek waste-to-energy nasional. Pemerintah telah menetapkan peta jalan yang ambisius, dimulai dengan perencanaan tujuh proyek PLTSa yang siap dibangun pada tahun 2026.
Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, memaparkan bahwa pembangunan ini merupakan prioritas.
“Presiden Prabowo Subianto menargetkan pada 2029, sebanyak 33 PLTSa sudah terbangun dan tersebar di berbagai provinsi Indonesia, khususnya untuk daerah-daerah yang memiliki permasalahan sampah,” kata Airlangga.
Menanggapi target tersebut, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan kesiapan infrastruktur dan komitmen perusahaan.
“PLN mendukung penuh kebijakan pemerintah dalam percepatan pembangunan PLTSa. Peran kami adalah memastikan kesiapan jaringan, memberikan kepastian offtake, serta membuka ruang kerja sama dengan para pengembang,” ujarnya.
Dukungan PLTSa ini secara formal telah masuk dalam perencanaan jangka panjang PLN. Executive Vice President Aneka Energi Baru Terbarukan PLN, Daniel KF Tampubolon, menegaskan bahwa waste-to-energy telah menjadi bagian penting dalam dokumen resmi perusahaan.
“Dalam RUPTL 2025–2034 yang kami luncurkan bersama pemerintah pada Mei 2025, waste-to-energy sudah kami masukkan sebagai salah satu pilar pengembangan energi baru terbarukan, khususnya dalam kategori bioenergi. Artinya, PLTSa sudah sepenuhnya align dengan peta jalan transisi energi nasional,” jelas Daniel.
Di sisi lain, proyek ini memerlukan kolaborasi multisektoral. Managing Director Investment Danantara Indonesia, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menyebut bahwa proyek waste-to-energy adalah peluang besar.
“Indonesia punya peluang menjaga kehidupan melalui waste-to-energy. Namun, tidak ada yang bisa melakukannya sendiri. Proyek ini hanya mungkin apabila ada kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat,” kata Stefanus.
Danantara sendiri telah menugaskan PLN sebagai offtaker sembari berperan sebagai orkestrator proyek.
Darmawan Prasodjo menambahkan bahwa PLN terus bekerja keras menyiapkan aspek teknis di lapangan.
“PLN juga terus melakukan penguatan sistem kelistrikan di wilayah prioritas pengembangan PLTSa. Termasuk, menyiapkan infrastruktur transmisi dan distribusi yang andal agar setiap PLTSa dapat segera terhubung dan masuk ke dalam sistem,” terangnya, menjamin stabilitas pasokan listrik.
Dengan jaminan offtake dari PLN dan target realisasi yang kuat dari pemerintah pusat, akselerasi proyek PLTSa diharapkan dapat menjadi solusi ganda, mengatasi permasalahan sampah kronis di berbagai daerah sekaligus memperkuat bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post