Oleh: Claudya P. Watulingas, SP., MSi
Dosen Program Studi Ilmu Pertanian, Institut Sains dan Teknologi (ISTEK) Trinita, Manado, Sulawesi Utara
Sektor pertanian tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian pedesaan di Indonesia, tetapi juga katalisator utama untuk pertumbuhan inklusif di wilayah seperti Sulawesi Utara, di mana aktivitas agraris mendominasi mata pencaharian masyarakat. Desa Sea, yang terletak di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, mewakili potret pedesaan peri-urban yang kaya akan kesuburan tanah vulkanik dan iklim tropis, namun terus menghadapi tekanan urbanisasi dari kedekatannya dengan Kota Manado. Dengan populasi sekitar 2.500 jiwa dan luas wilayah 1.200 hektare—di mana 60% merupakan lahan pertanian—desa ini bergantung pada komoditas seperti padi ladang, kacang panjang, terong, serta ternak sapi dan ayam melalui pola tumpang sari yang efisien untuk lahan terbatas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Minahasa menunjukkan bahwa luas sawah irigasi di Desa Sea mencapai 150 hektare dengan produksi padi rata-rata 5,5 ton per hektare per tahun, sementara lahan kering untuk hortikultura seluas 300 hektare menghasilkan sekitar 200 ton kacang panjang per tahun. Sebanyak 70% tenaga kerja usia produktif, atau sekitar 1.750 orang, terlibat langsung di sektor ini, menghasilkan pendapatan rumah tangga rata-rata Rp 2-3 juta per bulan dari usahatani, yang secara keseluruhan berkontribusi hingga 45% terhadap Pendapatan Bruto Desa (PBD).
Analisis ini, yang didasarkan pada pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif menggunakan data sekunder dari BPS serta studi empiris terkini, mengungkap bahwa pertanian Desa Sea bukan sekadar penyedia pangan, melainkan pendorong utama pertumbuhan ekonomi melalui efek multiplayer yang kuat. Berdasarkan model Lewis (1954), sektor agraris ini memfasilitasi transfer tenaga kerja ke non-agraris sambil mempertahankan daya saing komparatif, sebagaimana diukur dengan Location Quotient (LQ) sebesar 1,2—menandakan bahwa produksi pertanian melebihi kebutuhan lokal dan diekspor ke pasar Manado serta wilayah tetangga. Di tingkat provinsi, sektor pertanian menyumbang 20-25% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Utara pada 2022, dengan subsektor hortikultura dan peternakan diprediksi semakin dominan melalui analisis Dynamic LQ (DLQ). Secara spesifik di Kabupaten Minahasa, kontribusi ini mencapai 40% PBD pedesaan, didukung oleh inisiatif seperti kelompok tani “Terong” yang meningkatkan produktivitas hingga 30% melalui penerapan pupuk hijau dan pola tumpang sari. Pendapatan langsung dari pertanian di Desa Sea diperkirakan mencapai Rp 15 miliar per tahun, atau 50% PBD, sementara efek tidak langsung—seperti rantai pasok perdagangan dan pengolahan—menambah 20% melalui penyerapan tenaga kerja tambahan dan peningkatan PDRB kabupaten sebesar 4,36% pada 2020.
Untuk memperdalam pemahaman, pertimbangkan dampak program Dana Desa sejak 2015, yang telah mengalokasikan dana signifikan ke Kecamatan Pineleng, termasuk Desa Sea. Pada 2015, alokasi per desa berkisar Rp 254-315 juta, meningkat menjadi Rp 583-645 juta pada 2016, dengan total dana untuk tujuh desa sampel mencapai Rp 8,42 miliar. Dana ini dimanfaatkan untuk infrastruktur pertanian seperti jalan usaha tani, distribusi benih unggul kepada petani, serta pemberdayaan BUMDesa melalui modal usaha simpan pinjam dan layanan penyewaan alat. Survei terhadap 70 responden di Desa Sea dan desa tetangga menunjukkan peningkatan pendapatan rumah tangga rata-rata dari Rp 2,55 juta (pra-program 2014) menjadi Rp 3,07 juta (pasca-2016), dengan nilai t-hitung 16,092 (Sig. 0,000) yang signifikan secara statistik. Sebanyak 87,14% responden merasakan dampak nyata, terutama melalui akses pasar yang lebih baik berkat infrastruktur, yang pada gilirannya mendorong produktivitas pertanian dan menciptakan lapangan kerja di sektor konstruksi serta pemberdayaan non-fisik seperti kader Posyandu. Integrasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Minahasa 2018-2023 semakin memperkuat ini, di mana alokasi dana untuk irigasi baru (90 meter, Rp 50 juta pada 2023) berpotensi meningkatkan output pertanian hingga 15%, sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 2 (Zero Hunger) dan Nomor 8 (Decent Work and Economic Growth).
Namun, di balik potensi ini, tantangan struktural tetap menghambat optimalisasi. Konversi lahan pertanian menjadi permukiman meningkat 100% sejak 2006 akibat urbanisasi, sementara akses kredit terbatas dan keterlambatan transfer dana desa (sering hingga akhir Desember) menekan efisiensi usaha tani. Selama pandemi COVID-19, kondisi sosial-ekonomi di Desa Sea semakin tertekan, dengan penurunan produksi hortikultura hingga 20% karena gangguan rantai pasok, meskipun ketahanan petani terlihat dari diversifikasi ke ternak rumahan. Hasil Sensus Pertanian 2023 BPS Kabupaten Minahasa menyoroti adanya 15.000 usaha tani perorangan (UTP) di kabupaten, dengan fokus pada perikanan dan hortikultura, tetapi data ini juga mengindikasikan penurunan kontribusi sektor pertanian secara keseluruhan dari 6,17% menjadi 6,00% pada 2022 akibat faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas. Analisis shift-share (2019-2023) menunjukkan bahwa meskipun sektor pertanian Minahasa memiliki komponen regional growth positif, efek kompetitifnya lemah dibandingkan sektor jasa, menekankan perlunya intervensi seperti pelatihan digital untuk pemasaran online.
Pemikiran ini, yang dikembangkan oleh Claudya P. Watulingas, SP., MSi, sebagai dosen Ilmu Pertanian, menegaskan bahwa sektor pertanian Desa Sea berpotensi mencapai kontribusi 60% PBD jika dioptimalkan melalui strategi terintegrasi. Rekomendasi utama mencakup pembentukan koperasi tani digital untuk akses pasar luas, kolaborasi dengan universitas seperti Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) untuk pelatihan teknologi pertanian berkelanjutan, serta monitoring LQ tahunan untuk kebijakan adaptif. Selain itu, peningkatan kapasitas aparatur desa dalam pengelolaan dana—seperti melalui sosialisasi yang lebih inklusif (hanya 71,43% responden menerima informasi lengkap)—akan memastikan akuntabilitas dan dampak jangka panjang. Bagi pembuat kebijakan, petani, dan masyarakat, wawasan ini mendorong aksi kolektif: diversifikasi ke agribisnis berbasis organik untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta pemanfaatan dana desa untuk infrastruktur hijau yang mendukung ketahanan iklim. Dengan demikian, pertanian Desa Sea tidak hanya memperkuat fondasi ekonomi lokal, tetapi juga menjadi model pembangunan berkelanjutan yang inklusif, siap untuk dieksplorasi lebih lanjut melalui penelitian empiris kolaboratif dan publikasi di jurnal seperti COCOS atau Jurnal Agribisnis dan Pengembangan Pedesaan.
Untuk memperjelas gambaran kuantitatif, Tabel 1 di bawah ini merangkum indikator utama ekonomi pertanian di Desa Sea berdasarkan data BPS dan estimasi terkini (2021–2024). Tabel ini menunjukkan skala kontribusi sektor pertanian terhadap PBD desa serta peranannya dalam penyerapan tenaga kerja.

Seperti terlihat pada Tabel 1, kontribusi sektor pertanian terhadap PBD Desa Sea mencapai 45-50%, dengan tenaga kerja yang terlibat mencakup mayoritas penduduk usia produktif. Angka ini semakin diperkuat oleh dampak program Dana Desa sejak 2015, yang telah mengalokasikan dana signifikan ke Kecamatan Pineleng, termasuk Desa Sea, untuk infrastruktur pertanian seperti jalan usaha tani, distribusi benih unggul, serta pemberdayaan BUMDesa. Survei menunjukkan peningkatan pendapatan rumah tangga rata-rata pasca-program, yang tercermin juga dalam Tabel 1 pada baris pendapatan rumah tangga. Integrasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Minahasa semakin memperkuat ini, di mana alokasi dana untuk irigasi baru berpotensi meningkatkan output pertanian hingga 15%, sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 2 dan Nomor 8.
Namun, di balik potensi ini, tantangan struktural tetap menghambat optimalisasi, seperti konversi lahan akibat urbanisasi, akses kredit terbatas, dan fluktuasi harga komoditas pasca-pandemi. Analisis shift-share menunjukkan bahwa meskipun sektor pertanian memiliki komponen pertumbuhan regional positif, efek kompetitifnya masih lemah dibandingkan sektor jasa. Pemikiran ini menegaskan bahwa sektor pertanian Desa Sea berpotensi mencapai kontribusi hingga 60% PBD jika dioptimalkan melalui strategi terintegrasi, seperti pembentukan koperasi tani digital, kolaborasi dengan universitas untuk pelatihan teknologi berkelanjutan, serta monitoring LQ tahunan. Bagi pembuat kebijakan, petani, dan masyarakat, wawasan ini—didukung data dalam Tabel 1—mendorong aksi kolektif untuk diversifikasi agribisnis berbasis organik dan pemanfaatan dana desa bagi infrastruktur hijau, sehingga pertanian Desa Sea menjadi model pembangunan berkelanjutan yang inklusif.
Daftar Pustaka
1.Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa. (2023). Hasil pencacahan lengkap sensus pertanian 2023 – Tahap 1 https://minahasakab.bps.go.id/id/publication/2023/12/15/e2b7fa2e471c11a73676e124/hasil-pencacahan-lengkap-sensus-pertanian-2023—-tahap-1-kabupaten-minahasa.html
2. Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa. (2024a). Hasil pencacahan lengkap sensus pertanian 2023 – Tahap II: Usaha pertanian perorangan (UTP) perikanan Kabupaten Minahasa. https://minahasakab.bps.go.id/publication/2024/08/23/53e830d35137c6ee2d8ab99a/hasil-pencacahan-lengkap-sensus-pertanian-2023-tahap-ii-usaha-pertanian-perorangan-utp-perikanan-kabupaten-minahasa.html
3. Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa. (2024b). Kecamatan Pineleng dalam angka 2024. https://minahasakab.bps.go.id/id/publication/2024/09/26/7d05f68aed883c8430191abb/kecamatan-pineleng-dalam-angka-2024.html
4. Badan Pusat Statistik Kabupaten Minahasa. (2024c). Kabupaten Minahasa dalam angka 2024. https://minahasakab.bps.go.id/id/publication/2024/02/28/b07b74f98015855edbafb79e/kabupaten-minahasa-dalam-angka-2024.html
5. Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara. (2024). Distribusi persentase produk domestik regional bruto atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha (persen) di Provinsi Sulawesi Utara, 2024. https://sulut.bps.go.id/id/statistics-table/3/T0UxS09GQlBTbk5QWTBNdlVWUmxSMjV3Y3l0VWR6MDkjMw==/distribusi-persentase-produk-domestik-regional-bruto-atas-dasar-harga-berlaku-menurut-lapangan-usaha–persen–di-provinsi-sulawesi-utara–2024.html?year=2024
6.Dompasa, S., Ngangi, C. R., Taroreh, M. L. G., & Lolowang, T. F. (2014). Profil usahatani pola penanaman tumpang sari di Desa Sea Kecamatan Pineleng. COCOS, 4(5), 1-10. https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/cocos/article/view/4767Lewis, W. A. (1954). Economic development with unlimited supplies of labour. The Manchester School, 22(3), 139-191. https://doi.org/10.1111/j.1467-9957.1954.tb00021.x
7. Manda, E. S., & Watulingas, C. P. (2022). Kondisi sosial ekonomi masyarakat pada masa pandemi COVID-19 di Desa Sea Mitra Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa. Journal of Agribusiness and Rural Development, 6(1), 1-12. https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/agrirud/article/view/41251
8. Porajouw, O., Rante, K. N., & Moniaga, V. R. B. (2019). Peran sektor pertanian terhadap perekonomian di Provinsi Sulawesi Utara. Journal of Agribusiness and Rural Development, 3(2), 1-15. https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/agrirud/article/view/23620
9.Rante, K. N., Porajouw, O., & Moniaga, V. R. B. (2023). Analisis shift-share sektor ekonomi di Kabupaten Minahasa (2019-2023): Fokus pada pertanian dan kehutanan. Jurnal Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Daerah, 5(1), 45-62. https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/jurnaljateng/article/view/1260
10. Tangkumahat, F. V., Panelewen, J. D. L., & Lontaan, S. J. (2017). Dampak program dana desa terhadap peningkatan pembangunan dan ekonomi di Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Ekonomi Pembangunan (JISEP), 1(2), 150-165. https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/jisep/article/view/17130


Discussion about this post