Manado, Barta1.com – Suasana haru mewarnai acara wisuda gelombang ketiga Politeknik Negeri Manado (Polimdo) yang digelar di Auditorium Prof. Ruddy Tenda, Kamis (30/12/2025). Dalam momen sakral tersebut, Direktur Polimdo, Dra. Mareyke Alelo, MBA, memberikan pesan mendalam kepada para wisudawan Diploma Tiga dan Sarjana Terapan tentang pentingnya menghormati orang tua.

“Belum lama ini saya bertemu dengan seseorang yang sudah tua di lapas (Lembaga Permasyarakatan). Saya bertanya kepadanya, ‘Apa penyesalan terbesar dalam hidupmu?’ Ia menjawab, penyesalannya adalah tidak mendengarkan nasihat orang tua. Ketika saya tanya apa nasihat itu, ia berkata, ‘Saya tidak tahu, karena saya tidak pernah mendengarnya,’” tutur Mareyke di hadapan 418 wisudawan, yang telah diwisuda.

Ia kemudian mengingatkan bahwa tidak peduli setinggi apa pendidikan seseorang, jangan pernah melawan atau meremehkan orang tua.
“Mungkin orang tua kita tidak tamat SD, tapi jangan pernah coba-coba melawan mereka. Dari pengamatan saya, anak-anak yang taat kepada orang tua hidupnya selalu diberkati,” ujar Mareyke.
Dalam suasana penuh emosi, Mareyke meminta seluruh wisudawan untuk berdiri dan menghadap ke arah orang tua mereka.
“Silakan berdiri, temui orang tua kalian, peluk mereka, dan ucapkan terima kasih,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan pesan khusus bagi orang tuanya yang sudah tiada agar tetap menghormati dan mengenang mereka dengan doa.
“Jarang sekali ada anak yang benar-benar berhasil ketika bersikap jahat kepada orang tuanya. Sebaliknya, mereka yang taat dan menghormati orang tua biasanya hidupnya penuh berkat,” lanjut Mareyke.
Tak hanya untuk para wisudawan, pesan menyentuh juga ditujukan kepada para orang tua.
“Anak-anak akan sukses jika orang tua memilih untuk memberkati dan mendoakan, bukan mengutuk mereka. Kata-kata negatif bisa menjadi kutukan dalam hidup anak. Jadi, ambillah keputusan untuk memberkati dan mendoakan anak-anak agar mereka berhasil,” pesan Mareyke menutup sambutannya.
Suasana semakin haru ketika salah satu lulusan, Alfa Androsi, tak mampu menahan air mata saat memeluk papa-nya.
“Sejujurnya saya malu karena selama ini tidak terlalu dekat dengan papa. Saat hari-hari besar seperti Natal pun jarang saling memberi ucapan. Tapi hari ini saya memberanikan diri untuk memeluk dan mengucapkan terima kasih,” ujarnya dengan suara bergetar.
Alfa mengaku momen itu menjadi kenangan tak terlupakan dalam hidupnya.
“Saat memeluk papa, saya sampaikan, ‘Terima kasih, Pa, atas berkat dan didikan yang membuat saya bisa sarjana, meskipun papa tidak.’ Saya tidak bisa menahan tangis,” tutupnya dengan mata berkaca-kaca. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post