Manado, Barta1.com – Siapa yang tidak mengenal Iing Imadji? Aktivis lingkungan dari KMPA Tunas Hijau ini dikenal luas lewat keterlibatannya dalam berbagai advokasi lingkungan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Lewat karya-karya yang memanfaatkan sampah daur ulang, Iing tak hanya mengedepankan kreativitas, tetapi juga menyuarakan berbagai persoalan sosial dan ekologis yang dihadapi masyarakat.
Dalam Panggung Aspirasi yang diselenggarakan oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) Sulawesi Utara (Sulut), Iing kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap isu-isu krusial yang dihadapi masyarakat pesisir Manado Utara hingga Kalasey Dua.
Pada kesempatan itu, ia membawakan beberapa lagu yang dikhususkan untuk mendukung perjuangan masyarakat, khususnya perempuan, dalam melawan perampasan lahan dan kerusakan lingkungan akibat proyek reklamasi.
“Aksi hari ini saya lihat diikuti oleh banyak perempuan yang terus berjuang menjaga agar API tetap menyala. Beberapa lagu saya persembahkan khusus untuk para petani di Kalasey, terutama para ibu dan oma-oma yang tanpa lelah memperjuangkan tanah pertanian mereka,” ujar Iing.
Ia juga menegaskan sikap penolakannya terhadap reklamasi yang mengancam wilayah pesisir.
“Ada juga lagu yang saya bawakan untuk perempuan-perempuan yang menjaga pesisir agar tidak direklamasi. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap mereka yang terus berdiri di garis depan. Lagu-lagu ini untuk mereka, dan untuk teman-teman di sini, sebagai pengingat bahwa perempuan-perempuan pejuang masih ada dan terus melawan di Sulut,” lanjutnya.
Iing berharap aksi solidaritas ini bisa memperkuat ikatan antarperempuan dalam perjuangan kolektif demi keadilan sosial dan lingkungan.
“Harapan saya, perempuan bisa terus bersatu dan menjaga kekuatan ini agar tidak padam. Perjuangan ini bukan hanya tentang tanah dan lingkungan, tetapi juga tentang keadilan. Kita sangat bergantung pada lingkungan yang sehat untuk mempertahankan kehidupan. Karena itu, izin reklamasi harus dicabut dan Kalasey harus bebas dari perampasan lahan pertanian,” tegasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post