Manado, Barta1.com — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, tengah dihadapkan pada berbagai persoalan besar yang menuntut kepemimpinan visioner. Di tengah perubahan iklim bisnis global, disrupsi digital hingga kompetisi investasi antarnegara, muncul sosok Recky Langie yang dinilai layak menakhodai Kadin Sulut menuju arah baru yang lebih progresif.
Mantan akademisi Unsrat Manado, Iwan Aloisius Moniaga, menegaskan keyakinannya terhadap figur Recky. Menurutnya, visi dan misi yang ditawarkan Staf Khusus Gubernur Sulut bidang investasi ini bukan sekadar konsep, tetapi telah dirancang dalam bentuk roadmap yang jelas.
“Beberapa kali diskusi dengan beliau, saya dibuat takjub dengan strategi yang beliau paparkan. Saya kira dengan track record-nya pak Recky calon paling kredibel untuk mengetuai Kadin Sulawesi Utara,” kata Iwan, Selasa (02/09/2025).
Iwan menjelaskan, kapasitas Recky sudah berada pada level nasional, bahkan berjejaring luas secara internasional. Jejaring ini dinilai akan menjadi modal penting dalam memperkuat posisi Kadin Sulut sebagai pintu gerbang perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik.
Satu lagi, visi dan misinya ternyata selaras dan punya semangat yang sama dengan beragam program perekonomian, investasi dan pembangunan yang dicanangkan pemerintah provinsi di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus, bahkan pemerintah pusat.
“Ini bukan hanya wacana, tetapi peluang besar jika dimanfaatkan secara tepat,” tegasnya.
Recky sendiri mengakui bahwa dirinya terpanggil untuk mengabdi demi kemajuan daerah. Dalam sesi diskusi santai, ia menekankan pentingnya memperkuat sektor perdagangan, industri, pertambangan, agrobisnis dan investasi.
“Saya memenuhi panggilan hati untuk memberi diri secara konkret demi Sulut yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” ungkapnya dengan nada optimistis.
Tantangan Kadin di masa kini memang tidak ringan. Globalisasi menuntut dunia usaha daerah agar adaptif terhadap standar internasional. Sementara itu, digitalisasi telah mengubah cara transaksi, distribusi, hingga pola promosi. Di sisi lain, Sulut sebagai daerah perbatasan memiliki potensi besar, namun juga menghadapi keterbatasan infrastruktur dan daya saing SDM.
Menurut Iwan Moniaga, Recky menawarkan solusi melalui roadmap yang ia susun, dengan menitikberatkan pada peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal. Menurutnya, UMKM harus menjadi tulang punggung ekonomi Sulut yang terintegrasi dengan jejaring global. Program pendidikan kewirausahaan, digitalisasi usaha dan akses permodalan yang lebih mudah menjadi prioritas dalam rancangannya.
Selain itu, isu keberlanjutan juga menjadi perhatian serius. Recky menekankan pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan pelestarian lingkungan. Industri pertambangan dan agrobisnis, misalnya, tidak bisa lagi dikelola dengan pendekatan lama yang eksploitatif, melainkan harus berorientasi pada green economy yang memberi manfaat jangka panjang.
Kadin sebagai induk organisasi dunia usaha di Indonesia memiliki mandat besar berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987. Perannya tidak hanya sebatas forum komunikasi bisnis, tetapi juga menjadi motor advokasi kebijakan, fasilitasi perdagangan, hingga pendidikan dan pelatihan keterampilan.
“Nah di sinilah kepemimpinan visioner dibutuhkan agar Kadin Sulut bisa tampil lebih relevan di era baru,” tandas Iwan.
Dengan jaringan yang membentang dari pusat hingga ke kabupaten/kota, Kadin berperan sebagai simpul strategis bagi dunia usaha. Potensi ini harus dioptimalkan agar Sulut tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen yang berdaya saing di kancah internasional.
Recky Langie diyakini mampu memanfaatkan jejaring ini dengan menghubungkan pengusaha lokal ke pasar global.
Persoalan klasik dunia usaha di Sulut seperti birokrasi yang berbelit, kurangnya akses pembiayaan, dan minimnya promosi investasi harus segera dijawab. Recky menawarkan pendekatan kolaboratif, menggandeng pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas bisnis untuk membangun iklim usaha yang sehat dan transparan.
“Kadin harus menjadi mitra strategis, bukan hanya simbol organisasi,” cetus Iwan lagi.
Lebih jauh, Recky juga dinilai bisa memperkuat diplomasi ekonomi. Dengan posisi Sulut yang berbatasan langsung dengan negara-negara Pasifik, peluang perdagangan lintas batas sangat besar. Kadin Sulut harus mengambil peran aktif dalam membuka koridor baru perdagangan internasional, mulai dari ekspor produk lokal hingga menarik investasi asing berkualitas.
Di tengah beragam tantangan global dan regional, kehadiran figur seperti Recky Langie diyakini membawa harapan baru. Kepemimpinannya diharapkan tidak hanya fokus pada kepentingan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi jangka panjang bagi dunia usaha Sulut yang lebih tangguh, adaptif dan berkelanjutan.
“Dengan visi besar dan jejaring luas yang dimilikinya, Kadin Sulut berpeluang besar menjadi lokomotif ekonomi daerah menuju kesejahteraan masyarakat,” tegas Iwan. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post