Minsel, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) melalui tim penelitinya berhasil melaksanakan kegiatan diseminasi pemanfaatan alat pembuat gula semut yang terintegrasi dengan teknologi energi surya (Photovoltaic/PV System).

Ketua tim peneliti, Melky Kristna Elia Paendong, SE., MBA, yang didampingi oleh anggota timnya, seperti Adelaida Joroh, SE., MM, Arief Perdana Kumaat, SE., MM, Dominikus Andreo Maryadi, M.Ak, I Gede Para Atmaja, ST., MT, dan Stieven Rumokoy, ST., MT, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Program Katalisator Kemitraan Berdikari yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek).
“Acara diseminasi ini dilaksanakan pada hari ini, Senin, 1 September 2025, di Kelompok Tani Talaut Jaya, Desa Talaitad Utara, Kecamatan Suluun Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel),” ungkap Melky sambil tersenyum.
Ia melanjutkan, bahwa sinergi multi-pihak menjadi dorongan penting untuk produksi berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan puncak dari penelitian Katalisator Kemitraan Berdikari yang berjudul “Penerapan Teknologi Tepat Guna untuk Produksi Gula Semut Berkelanjutan dengan Integrasi Photovoltaic System sebagai Solusi Industri Pertanian Ramah Lingkungan.”
“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan hasil penelitian, memberikan pemahaman tentang pentingnya teknologi tepat guna dalam meningkatkan produktivitas pertanian, serta mendorong kolaborasi dalam pengembangan usaha gula semut berkelanjutan,” jelasnya.
Lebih lanjut ia memaparkan bahwa aktivitas dalam kegiatan ini mencakup sosialisasi teknologi, demonstrasi produk menggunakan alat pembuat gula semut berbasis energi terbarukan, serta sesi diskusi dan tanya jawab.
Acara ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan sebagai mitra dan audiens utama. Mitra utama dalam kegiatan ini adalah Kelompok Tani Talaut Jaya di Desa Talaitad Utara, yang menjadi pengguna langsung dari alat tersebut.
“Sedangkan mitra dari unsur pemerintah diwakili oleh Pemerintah Kecamatan Suluun Tareran sebagai pemangku kebijakan lokal. Untuk mitra dari sektor pendidikan, hadir SMK Negeri Pertanian Pembangunan Sulawesi Utara (Sulut) sebagai mitra pendidikan vokasi,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa teknologi PV mampu menjawab tantangan dalam membangun industri yang ramah lingkungan, terutama melalui demonstrasi alat pembuat gula semut bertenaga surya yang diperkenalkan dalam acara ini.
“Sebagai tim peneliti, kami berharap teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi produksi gula semut, sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertanian dan UMKM,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa penerapan energi surya diharapkan dapat mengurangi biaya produksi dan mendorong terbentuknya industri pertanian yang lebih ramah lingkungan.
“Hasil yang ingin dicapai dari program ini adalah adopsi teknologi oleh kelompok tani untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, memberdayakan masyarakat lokal, serta memperkuat ekosistem kemitraan multi-pihak. Selain itu, program harus juga diharapkan dapat menjadi model replikasi untuk mendorong penerapan teknologi serupa di desa-desa lainnya,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post