Manado, Barta1.com — Eco Vibe Festival 2025 yang digelar di kawasan Megamas Manado pada awal Juni 2025 menjadi momentum perlawanan kultural melawan krisis ekologi. Acara ini diselenggarakan oleh Tamang Bae Lingkungan bekerja sama dengan Serikat Pekerja PLN Sulut, sekaligus menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni.
Sejak pagi hingga malam, panggung festival dipenuhi musik pop, tari kontemporer, teater, mural, seni ukir, bonsai, hingga deklamasi puisi. Semua elemen itu dirangkai dalam satu pesan: mencintai bumi sebagai rumah bersama.
Di momen puncak, aktris Mongga membawakan lagu “Banuangku” dalam bahasa Sangihe dengan teater kolaboratif Sanggar Kreatif. Penampilan ini menjadi simbol perlawanan kultural yang lembut namun mendalam terhadap eksploitasi alam.
Menurut catatan United Nations Environment Programme (UNEP), dunia kehilangan sekitar 10 juta hektar hutan setiap tahun dan menanggung beban 400 juta ton sampah plastik. Festival ini ingin mengingatkan, penyelamatan planet tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan politik, tetapi perlu gerakan budaya.
Para penyair seperti Jamal Rahman Iroth hingga Inggrit Pangkey tampil dengan karya-karya yang menyuarakan “nubuat pertobatan ekologis.” Mereka memandang puisi sebagai peluru kesadaran, bukan sekadar ekspresi sastra.
Filosof Theodor Adorno dan Richard Rorty turut dikutip dalam panggung dialog lingkungan festival ini, menegaskan bahwa seni adalah jalan alternatif bertemu kebenaran ketika logika rasional buntu menghadapi krisis ekologis global.
PLN hadir dengan kampanye elektrifikasi hijau, memamerkan kendaraan listrik dan teknologi energi ramah lingkungan. Bagi PLN, transisi energi bersih harus diiringi dengan kesadaran ekologis yang dibangun melalui ruang-ruang seni dan kebudayaan.
“Puisi dan seni pada Eco Vibe Fest ini lebih mulia daripada pidato politik,” ujar salah satu pengunjung. Kehadiran PLN dalam festival seni dianggap menegaskan bahwa penyelamatan bumi adalah kerja bersama, lintas sektor.
Eco Vibe Festival 2025 akhirnya menjadi ajang penuh hikmah, menyatukan seni, energi, dan gerakan lingkungan. Dengan daya gugahnya, festival ini menandai bahwa melawan krisis ekologi bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal cinta, puisi, dan kesadaran kolektif. (*)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post