SANGIHE, BARTA1.COM – Pantai Pananualeng di Kampung Tariang Baru, Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, pernah jadi primadona wisata. Namun, kini nasibnya seperti judul lagu lama: hidup enggan, mati pun tak mau.
Kepala Kampung Tariang Baru, Yery Pulumbara, mengungkapkan hingga saat ini tidak ada kejelasan soal skema retribusi di kawasan pantai yang dikenal dengan hamparan pasir putih itu. Hal ini disampaikannya dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pemasaran Wisata di Aula Rumah Jabatan Bupati, Selasa, (15/7/2025).
“Pemerintah kampung hanya mengelola lahan milik daerah lewat hasil panen kelapa. Dalam dua tahun terakhir, kami sudah menyetor hampir Rp8 juta ke kas daerah,” ujar Yery. Ia menambahkan, setoran berikutnya direncanakan pada September mendatang.
Menurut Yery, jika dikelola dengan baik, Pantai Pananualeng bisa menjadi sumber pendapatan desa. “Kami berharap ada kejelasan soal pengelolaannya karena ini aset yang bisa menyejahterakan masyarakat,” ujarnya.
Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, menanggapi persoalan ini dengan menyebut kondisi Pantai Pananualeng sebagai warisan pemerintah daerah yang “hidup enggan mati pun tak mau”.
Menurut dia, penarikan retribusi sebelumnya dihentikan karena biaya operasional lebih tinggi dari pemasukan. “Ibarat orang mau buka usaha, tapi bayar gaji karyawan lebih besar dari penghasilan. Ya rugi terus,” katanya.
Meski begitu, Bupati Thungari mengapresiasi langkah pemerintah Kampung Tariang Baru yang masih bisa menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui hasil panen kelapa.
Soal nasib Pananualeng, pemerintah kini mempertimbangkan menyerahkan pengelolaan kepada pihak ketiga. “Kalau ada swasta atau pengusaha yang mau kelola, silakan. Supaya profesional. Karena kalau pemerintah yang urus, tiap tahun keluar dana APBN buat fasilitas, tetap saja lebih besar pasak daripada tiang,” ujar Thungari.
Ia juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah kampung. “Kalau kampung sanggup menyetor PAD, misalnya Rp100 juta per tahun, ya kita sewakan. Asal jelas, daripada terus-terusan rugi,” ujarnya.
Pemerintah daerah kini menunggu pihak yang berani dan punya visi menghidupkan kembali destinasi wisata yang pernah jadi ikon pariwisata Sangihe itu.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post