• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Jumat, Juni 12, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Seni

Seni Menggugah Kesadaran Ekologis, Catatan dari Eco Vibe Fest 2025

by Meikel Eki Pontolondo
15 Juli 2025
in Seni
0
Seni Menggugah Kesadaran Ekologis. (Foto: istimewa0

Seni Menggugah Kesadaran Ekologis. (Foto: istimewa0

0
SHARES
55
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Iverdixon Tinungki

Bagi saya, membayangkan Eco Vibe Festival, adalah menelusuri kembali perbincangan panjang Daisaku Ikeda dan Arnold Toynbee, dua pemikir Timur-Barat saat mendialogkan kemanunggalan manusia dan alam dalam buku Choose Life.

Hari itu Rabu, 4 Juni 2025, Eco Vibe Festival digelar di kawasan Megamas Manado oleh Tamang Bae Lingkungan dan SP PLN. Sebuah hajatan seni yang terbilang spektakuler menampilkan beragam karya cipta seni jelang peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Seakan-akan dari sebuah ruang meditatif paling sublime itu, mereka ingin menyerukan upaya penyelamatan dunia dari dominasi manusia terhadap lingkungan.

Bagi mereka, ada semacam kegagalan sistem rasio makhluk manusia sepanjang ini yang lebih mengutamakan insting keserakahan yang berdampak pada kerusakan ekologis.

Sebuah kegagalan rasionalisme serta modernism yang lebih banyak menyokong datangnya malapetaka yang paling mencemaskan atas nasib planet bumi sebagai rumah biotik dan abiotik itu. Sebuah ancaman serius atas keberlangsungan hidup yang hanya bisa diselamatkan lewat jalan seni.

Mengapa hanya dengan jalan seni?

Menjawab pertanyaan ini, budayawan dan filsuf Benni M Matindas, mengutip teori estetika “Art as Experience” (1934), Dewey menyimpulkan seni sebagai alat prediksi yang mampu memberikan apa yang tak mampu ditemukan oleh pemetaan ataupun statistik, mampu menyinggung pelbagai kemungkinan hubungan antar-manusia yang tak mampu dicapai oleh hukum, aturan, tatanan, maupun segala wejangan.

Seni dipandang dan diandalkan bagi keberlangsungan peradaban umat manusia dan lingkungannya.

Sampai di sini, untuk membawa kita lebih dekat ke dalam pemahaman tentang dampak teknologi ilmiah dalam dunia industry yang digunakan untuk menaklukan alam dan makhluk hidup lainnya, berikut ini saya sajikan persoalan tersebut lewat sebuah puisi naratif:

sambil menyantap sebelas ribu mikroplastik
di piring seafood yang kita telan pertahunnya
mari menafsir jumlah ikan
dan jumlah plastik yang mengisi lautan

karena lebih dari 99 persen mikroplastik diekskresikan
dan terperangkap dalam jaringan tubuh udang kerang dan ketam

bila engkau mengkonsumsi atau mencintai penyu
lebih dari setengah penyu dunia merayakan pesta
plastik dalam tubuhnya

sebab di lautan sana
jumlah plastik kini lebih banyak
dari jumlah ikan

mari menafsir perjalanan plastik
dari seafood ke tubuh manusia
bukankah yang terbaca adalah catatan kebodohan kita
yang membiarkan senyawa kimia
menyebar racun mematikan semua

seekor kerang yang lucu
yang makan dengan menyaring 20 liter air laut perhari
dapat menelan sejumlah mikroplastik tanpa sengaja
dan dengan tolol kita menyantap sampah kita
di dalam piring seakanakan itu kelezatan yang berguna

mengapa hewan memakan plastik di lautan?
karena plastik beraroma seperti makanan

itu sebabnya ikan lebih suka makan plastik
daripada plankton yang disajikan Tuhan untuknya

kini dari kota ke kota
manusia selalu menyumbang sampah ke laut dunia
sampah sebuah kota diatas 175.000 ton perhari
sampah sebuah negara seperti Indonesia
mencapai 64 juta ton perhari

maka jangan heran
bila kini engkau melihat laut
lihatlah di sana ada lima triliun partikel plastik
mengambang bagai maut yang mengintai kita
bila engkau bertanya sejahat apa kita pada lautan dunia
jawabnya setara dengan satu truk penuh sampah pastik
yang dibuang ke laut tiap menitnya

——–(Dari puisi: Seafood Dan Mikroplastik, Iverdixon Tinungki)

Puisi di atas dapat dibayangkan sebagai bagian dari fragmentasi kegagalan umat manusia dalam menjaga keseimbangan ekologis. Dibutuhkan sebuah gerakan penyadaran secara global untuk menyelamatkannya.

Begitulah Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni, sejatinya adalah upaya meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet bumi.

Diperlukan adanya kesadaran tentang lingkungan serta mendorong perhatian dan tindakan politik di tingkat dunia sebagai aksi global dalam menyuarakan proteksi terhadap planet bumi, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Terkait dengan itulah saya memandang Eco Vibe Festival yang diselengarakan hari itu di Kawasan Megamas sebagai sebuah hajatan yang patut diapresiasi. Di sana ada tampilan seni rupa, bonsai, tari puisi, musik, teater dan beragam karya cipta dan pertunjukan lainnya termasuk dialog lingkungan, mengingatkan saya pada pandangan kritis Theodor Adorno, seorang filsuf yang memandang seni sebagai jalan lain (ganz andere) dalam bertemu kebenaran.

Sebuah jalan yang digambarkan secara eksplisit olerh filsuf Richard Rorty dalam meletakkan seni bahkan puisi sebagai juru selamat lingkungan dan peradaban.

Melawan Dengan Puisi

Di panggung Eco Vibe Fest ketika itu, puisi tak saja dibacakan tapi juga diteaterisasi. Puisi pada kesempatan ini tak sekadar karya sastra yang dipandang mengedepankan estetika dan filsafat. Puisi adalah juga sebuah perlawanan.

Begitulah sejatinya hakekat puisi pada setiap angkatan kepenyairan dunia, selalu melahirkan karya-karya penting dan gemilang yang bermakna perlawanan sebagai upaya membangun kesadaran umat manusia dalam menjaga keberlangsungan peradaban dan kehidupan dunia.

Sejak lama pula sebagai penulis puisi, saya memilih ikut berada di jalan perlawanan itu. Berusaha konsisten melawan aksi perusakan lingkungan laut dunia oleh sampah plastik yang tak terkendali saat ini.

Ada 8 juta ton limbah plastik berakhir di lautan dunia setiap tahunnya saat ini adalah sebuah malapetaka peradaban dan nasib bumi.

Dengan puisi saya ingin berbagi suara untuk gerakan kesadaran umat manusia di mana betapa pentingnya kelestarian alam laut kita. Betapa pentingan kehidupan biota laut. Betapa pentingnya kehidupan plankton sebagai organisme yang menyumbang 80% kebutuhan oksigen yang ada di bumi.

Inilah beberapa puisi yang saya tulis sebagai upaya ikut menyemarakan Eco Vibe Festival 2025:

PERJALANAN KEMATIAN SEBUAH KANTONG PLASTIK

sebuah kantong plastik yang kita buang di pinggir jalan
suatu ketika akan sampai di laut
mengambang, menipu ikanikan
seakan uburubur, seakan plankton,
seakan ikanikan kecil yang mengkilap
sebuah kantong plastik yang kita buang di pinggir jalan
suatu ketika akan dilahap ikanikan
dan kita melahap ikanikan yang melahap kantong plastik
yang kita buang di pinggir jalan
sejak itu perjalanan kematian sebuah kantong plastik
merambah tubuh kita,
mematikan selsel dan merusak pencernaan
lewat kotoran kita, lewat mayatmayat kita
yang dikonsumsi mahkluk lainnya
perjalanan kematian itu terus berulang
mengedari rantai makanan
dalam lima ratus tahun menuju titik urainya

CATATAN KEMATIAN ALBATROS

seekor albatros terbang ke surga
mencari Nuh, Junus, dan Musa
wahai nabinabi laut yang perkasa, katanya,
kini aku mau tinggal di laut surga saja,
laut di bumi telah menjadi tempat berbahaya
di sana anakku mati siasia
tenggorokannya tercekat plastik buatan manusia
ia menyangka plastik itu cumi,
atau ikan yang baik untuk dicerna
Nuh, Junus, dan Musa tersenyum
menimang linang airmata albatros yang duka
dulu aku bertengkar dengan Tuhan, kisah Junus,
Tuhan memaksaku membawa kembali manusia
kembali dari khilaf dan salahnya
dulu aku sampai membelah laut, ujar Musa,
Tuhan memilihku membawa kembali manusia
kembali dari perbudakan hidupnya
dulu aku membawamu ke dalam bahteraku
kau tahu karena apa? kata Nuh
karena kau pelajaran terakhir dipilih Tuhan
untuk memperingatkan manusia
dari bencana ketololannya
pulanglah ke bumi albatros, lanjut Nuh
kebumikan anakmu di sana,
karena Tuhan pun pernah mati dibunuh manusia
kini tahulah kau, tambah Junus
betapa tinggi cinta Tuhan pada manusia
lebih setinggi dan lebih jauh dari tatapmu yang tajam
pulanglah albatros, bujuk Musa
terbanglah lagi setinggi
dan sejauh tatapan mata manusia
hingga keanggunanmu mengajari mereka
makna cinta
setelah kembali dari surga
albatross menganyam sarangnya
menyongsong kembali hidupnya yang kedua
dan di Midway
di suatu hari yang saga
kembali kudengar kabar duka
seekor albatros mati tercekat sampah
dan ketololan kita

TEROR SIKAT GIGI

ini sikat gigi siapa
menancapi karang
meneror kita dengan pesan suram
aku mual membayangkan kumal mulutmu
mencemari indah terumbu yang kusajakkan
aku membayangkan gadis cantik
melemparkan sikat gigi tuanya ke selokan
aku membayangkan lendirnya yang tajam
menggertakiku dengan bau serigala yang edan
aku membayangkan miliaran sikat gigi
menyisihkan lendir dari enamel dan gusi
menyelusup ke liangliang rumah ikan di bumi
menyihir dengan batang dan bulunya yang duri
dalam impian bumi yang kukenduri
ini bumi siapa
tertusuk sikat gigi
tercekik aroma polimer dioksin
gas rumah kaca
dan bayangan hantu kotor rongga mulut kita
dari zaman Babilonia
orangorang membersihkan giginya dengan stik kunyah
tanaman Salvadora Persica
di zaman China kuno mereka menggunakan stik bambu
dengan bulu babi hutan Siberia
di zaman Yunani mereka memakai linen,minyak sulfur
dan larutan garam
tapi, di zaman ini
kita tergilagila dengan polimer termoplastik
yang sulit terurai
ini sikat gigi siapa
menciderai bumi dengan makna paling sampah

IKAN KERANG DAN BURUNG LAUT JUGA INGIN HIDUP

ikan kerang dan burung laut juga ingin hidup
mereka butuh keseimbangan oksigen
nutrisi dan air bersih
bukan 500 milyard kantong plastik
bukan 100 juta ton polusi plastik
wahai,
penyupenyu tersedak plastik
anjing laut dan ikan paus
mati dalam polusi plastik
bisphenol A dalam botol plastik
telah menyebabkan kanker gangguan hormon
diabetes dan kegemukan
jalinan plastik yang mengapung di laut
telah meningkatkan pemanasan global
wahai,
dimana kalian para pembuat undang-undang
bertindak sekarang!
bicara dengan suara keras
ciptakan masyarakat peduli
memulihkan bumi
agar kembali indah seperti semula

HANTU PLASTIK DARI EMPAT SAMUDERA

dari empat samudera
50 miliar botol plastik mengancam kita
dalam bayangan mati yang siasia
dalam seribu tahun yang tak berdaya
50 miliar botol plastik setiap tahunnya
menghujam bumi dengan polusi
dengan racun kimiawi
50 miliar botol plastik
mematikan jutaan mamalia
ikan, burung, dan reptil
50 miliar botol plastik
mengotori wajah bumi
dan planet ini seakan kuburan untuk mati
laut dan sungai teraniaya
dari San Francisco hingga Hawaii
plastik telah jadi bencana
bahkan plankton tak bisa hidup karenanya
50 miliar botol plastik
500 milyard kantong plastik
meneror bumi
lewat gaya hidup kita setiap hari

SAMPAH PLASTIK DAN ANAK SEKOLAH

pabila guruguru merasa
pendidikan kebersihan lingkungan
bukan pelajaran penting diajarkan di sekolah
ketika itu bumi kian terancam bencana sampah
anakanak sekolah akan merasa
membuang sampah plastik bekas tempat
makanan atau minuman ke jalanjalan, dan selokan
bukan tindakan berbahaya
lihatlah di manamana, anakanak sekolah
melemparkan kantong dan botol plastik seenaknya
mereka tak merasa bersalah, mereka tak mengira
hal itu tindakkan bodoh mengancam kehidupannya
barangkali di sekolahsekolah kita, guruguru merasa
pendidikan kebersihan lingkungan
pendidikan mencintai alam tempat hidup kita
tak lebih penting dari matematika, biologi, kimia,
ekonomi, bahasa, sejarah, dan olah raga
apalagi agama
barangkali guruguru mengira masa depan manusia
hanya bergantung pada ilmuilmu pelajaran sekolah
yang punya ujian nasionalnya
sedang, pengajaran mencintai alam dan lingkungan
bukan ilmu istimewa untuk mendidik anakanak kita
menjadi manusia
ketika selekon tersumbat, ketika sungaisungai meluap
dan banjir menggenang dan melumat lingkungan
kita justru mempersalahkan hujan dan cuaca
lalu mengeluh pada Tuhan untuk mengakhirinya
padahal setiap hari kita sendiri menanam bencana
lewat sampah plastik yang kita buang ke manamana
karena sejak dulu pula sekolah tak mengajari kita
cara sebenarnya mencintai dan menghargai alam semesta

KEBIJAKAN KAMPRET

pemerintah mengira
kebijakan kantong plastik berbayar
di toko, mall, dan supermarket
menjawab perkara sampah
justru ini kebijakan kampret
persoalan sampah plastik kian mampet
toko, mall, dan supermarket
mendapatkan peluang lebih
meraih untung masuk dompet
bila dulu mereka menghemat kantong plastik
sebagai service, kini mereka lebih leluasa meringsek
karena selain tak rugi, malah untungnya kian lengket
setiap barang dibungkus kantong tipis
lalu digambung di kantong tebal hingga dua lapis
jangan heran produksi sampah bukannya menipis
malah naik berlapislapis
kebijakan ini benarbenar bikin pipis!

Merawat Alam Dalam Kebenaran Puitik

Kebenaran puitik adalah kebenaran yang tak dapat dilihat oleh logika. Ketika rasio manusia buntu mencapai kebenaran, maka puisi dan seni pada umumnya memperlihatkan sejatinya wujud kebenaran itu.

Begitulah saat Jamal Rahman Iroth, Inggrit Pangkey, Aldes Sambalao, Rahadi Ie Gedoan, Harlie Mamonto, tampil di panggung Eco Vibe Festival 2025 saya merasa teringkus, dan puisi yang mereka bacakan nampak lebih mulia dari khutbah bahkan pidato politik saat bicara tentang alam dan lingkungan hidup.

Bukan karena mereka memang deklamator, aktor dan penyair terbaik di Sulut saat ini, tapi puisi telah menghadirkan kebenaran sejati dan menampilkan alam hayatan yang jauh dan sublim tentang persoalan actual dan berbahaya masa kini yaitu tentang matinya rasa cinta pada alam lingkungan hidup kita sendiri.

Dengan air mata dan ekspresi mendalam, mereka mendobrak kebuntuan rasio dan logika dalam ruang hidup masa kini yang begitu jumawa menjarah dan merusak alam dengan sebegitu rakusnya yang berdampak pada malapetaka lingkungan hidup kita.

Kemudian dengan cara yang sangat estetik mereka menghadirkan nubuat-nubuat pertobatan ekologis dan ajakan lembut mencitai bumi sebagai rumah tinggal kita. Pada titik itu, puisi telah tampil dalam semacam gerakan di arena revolusi penyadaran.

Revolusi yang tak menggunakan senjata atau pentung, tapi revolusi yang mengunakan kata sebagai peluru yang lebih tajam.

Pada sesi inilah di antaranya saya melihat urgensi mulia itu pada kegiatan yang diselenggarakan Tamang Bae Lingkungan dan Serikat Pekerja PLN Sulut pada Rabu, 4 Juni 2025 di Kawasan Megamas Manado dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu.

Dan benarlah sebuah frasa yang mengatakan: “Bila politik pembangunan itu kotor, maka seni yang membersihkannya”. Ini pula sebabnya bagi saya Eco Vibe Festival 2025 dapat diresepsi sebagai peristiwa kebudayaan dan peradaban yang monumental.

Untuk menyemarakan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ketika itu, saya menampilkan pula beberapa puisi yang saya tulis saat berkunjung ke Hutan Lindung Dumoga Bone.

PUISI DARI HUTAN LINDUNG

cempaka agathis dan kenanga
adalah puisi
adalah mata ibu
tempat benih cinta itu tumbuh
sudahkah kaubaca sajak Tuhan
pada bisu selembar daun
sejak kuncup hingga luruh
ia kalam untukmu
kayukayu besi menjejar
kelelawarkelelawar mengantungkan liarnya
burung rangkong dan kumbang, seperti kupu
ingin berumah di bebas bumi teduh
engkau pun bernafas
menyesap udara segar pori daun
helaihelai ikhlas kisut lantak menapis racun
karena paruparumu seharga gugurnya yang luhur
dan seekor maleo menetas di tanah pasir
memanggilmu menafsir
sesuci apa puisi angin dan air
lahir dan mengalir
saat malam hutan bernyanyi
satwasatwa mengendurikan mimpi
adakah kaudengar pesan alam
ditetas riang hati menyimpan gerimis
di taman nasional Bogani Nani Wartabone
hampar matayangan adalah puisi keagungan Tuhan
bagaimana tangan tanah yang sabar
merias manusia dan alam
karena kehidupan
tak sekadar luka dan geram

ARCANGELISIA FLAVA

jangan tancapkan kami kapak
dan luka gergaji
sebagai pohon
kami pun ingin menikmati matahari
sebagai hutan
kami pun ingin hidup lestari
mendakilah ke gunung poniki
di sana kita bisa berbagi riang dan mimpi
mendakilah ke puncak damar
di sana engkau bisa teduhkan letih dan memar
aku hanya sebatang pohon
tanpa tangan atau kaki
untuk melawan atau berlari
jangan tancapkan kami kapak
dan luka gergaji
sebagai pohon aku hanya punya teduh
dan gema daun yang mengolah udara untukmu
sebagai pohon aku hanya punya rindang
dan ricik tanah basah tempat satwa bernaung
suatu ketika engkau akan mengenang tubuh kuningku
dan seekor tarsius bertengger di cabang. cabangku
kau akan menulis
atau bercerita
di poniki, di bentang gunung damar
di sebatang arcangelisia flava
ada tepi surga yang kaffah
jangan tancapkan kami kapak
dan luka gergaji
karena luka pohonan
luka jiwamu sendiri

LAGU SERIBU KUMBANG DUMOGA BONE
UNTUK ALAM LESTARI

kami bernyanyi dalam dengung
kami bernyanyi untuk sebuah renung
seperti gombloh, seperti gombloh
lelaki tirus menyanyikan lestari alamku:
“Lestari Alamku, Lestari Desaku
Di mana Tuhanku Menitipkan Aku
Nyanyi Bocah-bocah Di Kala Purnama
Nyanyikan Pujaan Untuk Nusa”
kami bernyanyi dalam getar sayapsayap kecil
memuja sungaisungai mengalir
memuja pohonpohon teguh tumbuh untukku
memuja hati para musafir
memuisikan megah orkhestrasi nyanyi lestari
bening doa kumbang di semak sepi
dari Kasinggolan ke Lombongo
saat bungabunga hutan menetas dari kandung bumi
kami bernyanyi, menyanyikan hutanhujan tropis
lumut dan rumput paku di bawah pohon waru
adalah lagu pencari nyanyian jiwa yang gaharu
kami bernyanyi dalam dengung
kami bernyanyi untuk sebuah renung
seperti gombloh, seperti gombloh
lelaki pemuja persaudaran manusia dan alam semesta
serupa ruelia, manusia butuh seteguk air
buat tubuh letih dahaga
maka kami bernyanyi di hutan hujan tropis
di gunung damar, di gunung padang, di danau tumpah
di cadas batubatu berkamar
memanggilmu wahai para musafir;
mari teduhkan segala memar
burungburung, anggrek, dan belukar bunga
adalah lirik nyanyianku, sepotong sajak hutan hujan tropis
mamalia, reptilia, amfibia, musang, anoa, babirusa
semua kunyanyikan dengan megah, dengan getar sayap kecilku
kumbang bernyanyi untuk sebuah renung; lestari alamku

SUARA RIMBA RAYA

di halimun suara itu
suara pohonpohon
gumam air
percakapan kupu
dengan setangkai bunga ungu
di ricik sungai
di sinar suci mata fauna
di cabangcabang flora menggapai
suara itu
sebening doa tergerai
suara itu, suara rimba raya
desis gema tipis
berkesiuran
seakan sayap putih
gema kalbu
suara itu
suara taman kehidupan
suara hening
suara yang mengecup kita
dengan cinta
tanpa
sepatah kata

MALEO SENKAWOR

di padang pasir hangat
bumi kadang melukis
apa yang patut kukenang
tak saja gerimis menetes di alis
atau senandung dunia hijau
imaji daun dan riap doa bergaung
padang pasir hangat
kadang rahim dan gamis
tempat burungburung terseduh menangis
tempat telur ditetas bumi puitis
dan seekor maleo senkawor kecil
lahir dengan jambul keras berwarna hitam
seperti puisi alit di ranjang suasa bumi
kubaca hingga angin lelah mendetaki nadi
ketika manusia dan alam tak berjarak
tak ada senja berakhir beku
kita selalu bagai kekasih tak alpa berkecupan
membiarkan wangi berjatuhan ke dalam hati
dan seekor maleo senkawor barangkali telah membesar
dengan paruh berwarna jingga
ia kembali menetaskan setumpuk sajak
memaknai padang hati dengan hangatnya

SUATU KETIKA DI MENGKANG

andai aku bisa bernyanyi
kunyanyikan cahaya sejuk hutan
andai aku bisa mencair
kusyairkan getar air mengkang
batubatu hitam
maknamakna bersemayam
mengaliri curam kehidupan
tapi aku ingin terjun dan tetap berjalan
aku ingin menjelma bunga
di jarijari air mata kumbang
aku ingin menjelma cuaca
di jeriji kehidupan
biar aku mengalir dalam sabdasabda cahaya
biar aku berembus dalam kabung suara tak berdaya
akan kuteguk embunMu di tubir tafsir
bila hutan adalah kitab
pada sepucuk daunMu aku belajar mencinta

KOLASE HIJAU

seonggok bayang kelelawar
dan sepasang kuskus berpelukan
melawat kegembiraan jiwaku
saat malam seakan gambar abadi
menabuh nyala api di tungku nafas lincah
memetik pesan rumputan saat hujan selesai
dan bangkai kesedihan lesap ke akar dalam
dan kurebahkan tidurku pada setangkai mawar
saat ia menegak paling muka
dalam kawanan impian bunga dikalungkan langit
di selembar hutan yang kudekap
dan yang mendekapku dengan wangi
di pagi, aku dan rimbah bagai zirah dan ksatria
lahir kembali dengan kemenangan saat hujan selesai
dan matahari berdenyar
di derak pohon yang mengibar senyuman

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, merupakan salah satu kawasan konservasi seluas 297,11 ha yang sebagian wilayahnya terletak di Provinsi Sulut dan sebagian lagi terletak di Provinsi Gorontalo. Memiliki berbagai keunikan ekologi sebagai kawasan peralihan geografi daerah Indomalayan di sebelah Barat dan Papua-Australia di sebelah Timur (Wallaceae Area).

Kawasan ini memiliki potensi flora yang beraneka ragam yang didominasi oleh kelompok (genus) ficus. Beberapa jenis flora yang dapat anda temui di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi antara lain: nantu (Palaqium obtusifolium), kayu hitam (Diospyros spp), kayu besi (Metrosiderus vera), kayu inggris (Eucalyptus deglupta), cempaka (Elmerrillia ovalis) dan metayangan (Pholydacarpus ihur). Selain ini anda masih dapat menemukan berbagai flora lain seperti paku-pakuan, palem, rotan, hanjuang hijau dan bunga bangkai.

Juga memiliki berbagai potensi fauna yang terdiri dari 24 jenis mamalia, 125 jenis aves, 11 jenis reptilia, 2 jenis amfibia, 38 jenis kupu-kupu, 200 jenis kumbang, dan 19 jenis ikan.
Sebagian besar satwa yang ada di taman nasional merupakan satwa khas/endemik pulau Sulawesi seperti monyet hitam/yaki (Macaca nigra nigra), monyet dumoga bone (M. nigrescens), tangkasi (Tarsius spectrum spectrum), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii), anoa besar (Bubalus depressicornis), anoa kecil (B. quarlesi), babirusa (Babyrousa babirussa celebensis), dan berbagai jenis burung. Satwa burung yang menjadi maskot taman nasional adalah maleo (Macrocephalon maleo), dan kelelewar bone (Bonea bidens) merupakan satwa endemik taman nasional.

Citra Nurani Dalam Lukisan

Di hari Rabu, 4 Juni 2025 itu, saya tiba sejak siang. Ajang Eco Vibe Festival 2025, di kawasan Megamas, Manado ini suasananya sudah asyik dan ramai.

Di area sisi kanan dari panggung utama, dinaungi tenda-tenda kain yang tertata artistik, para pelukis nampak serius menuangkan imaji-imaji mereka ke atas kanvas yang tersandar pada sketsel.

Para muralis juga di sana, menyaput kuasnya ke atas kanvas, mengejar ide-ide visual yang berkelindan dalam perasaan mereka.

Saat saya menyapa pelukis Jaya Masloman, Emor Mingkit, Alfret Pontolondo, Melky Runtu, dan muralis Lutfhi, Jade, Sabrina, Ferdi, karya mereka semuanya belum seutuhnya jadi. Baru di atas sedikit dari sketsa dasar. Tapi saya menangkap cahaya estetika dari permainan warna, komposisi, obyek dan bentuk.

Mereka sedang mengabadikan semuanya, sebagaimana filosofi gambar. Mereka menyajikan sebuah permadani kehidupan yang dibangun dari kedalaman ekspresi dan perenungan.

Sebuah kehidupan yang kompleks yang berisi beragam ketegangan, nafas, aliran waktu dan sejarah.

Beberapa waktu kemudian, saya sejenak terbenam dalam lukisan Sabrina dengan obyek perempuan yang tertidur di bawah pohon sambil tersenyum. Sebuah dunia ideal yang menampilkan kemesraan antara manusia dan lingkungan.

Tentang lukisan itu, saya tertarik mereferensi kembali karya-karya pelukis romantis Rusia yang hidup di abad 19, Ivan Aivazovsky yang kerap melukis lautan dengan pemandangan indah dan menakjubkan. Laut yang molek dan menyenangkan diarungi.

Lantas bagaimana seandainya Aivazovsky melukis ulang laut kita saat ini? Bagi saya:

“bila Aivazovsky melukis ulang laut kita
ia tak mampu membuat enam ribu lukisan indah
tentang laut yang koma
diterjang 8 juta ton limbah plastik setiap tahunnya

bila Aivazovsky melukis ulang laut kita
seperti yang telah ia wariskan ke peradaban dunia
itu tak lebih gambar laut berair mata
dengan mulut dipenuhi sampah

sejak kanvas pertama ia akan melukis amarah
lalu mencabikcabik kanvasnya dengan sapuan paling duka
paling luka”.

—( Bila Aivazovsky Melukis Ulang Laut Kita, Puisi Iverdixon Tinungki)

Di beberapa lukisan lain yang akhirnya selesai di malam hari, saya menemukan semacam mimesis dari perasaan kebencian saya pada ulah perusakan alam dan lingkungan.

Lukisan-lukisan dan mural itu begitu hidup bergerak dengan vitalitas symbol penuh kritik. Sangat kontekstual dan universal sebagai gambaran citra hati nurani pelukis yang peka terhadap problem aktual terkait lingkungan hidup di sekitarnya.

Di tahun tahun 1990 silam, John Semuel adalah salah seorang pelukis Sulut yang banyak melahirkan karya-karya dengan latar laut, perahu, dan ikan tanpa daya, tanpa kekuatan, dan tanpa gizi. Ikan-ikan yang tinggal tulang belulang membisu dalam senyap dan kaku, tulis Uche Ismail.

Di lain waktu ia melukis objek ikan yang berdaya, ikan yang hidup. Ikan yang memiliki daya juang. Ikan yang tidak pasrah begitu saja pada takdir. Ikan yang tidak membiarkan dirinya mati atau dimatikan. Juga, ikan-ikan yang penuh cinta dan kasih sayang.

Begitulah saya menangkap ide-ide kreatif para perupa itu dalam menghayati problem lingkungan hidup kita saat ini di ajang Eco Vibe Festival 2025.

Menangkap Hikmah Suara Penyadaran

Saat Mongga, aktris cantik itu, melantunkan “Banuangku”, lagu Tanah Airku karya Ibu Soed yang dialih dalam bahasa Sangihe, didukung atraksi teateral dari Sanggar Kreatif, ajang Eco Vibe Fest 2025 North Sulawesi mencapai titik puncaknya.

Sebuah puncak gerak, kreasi hijaukan bumi, sebagai tagline bahkan adagium dalam hajatan seru ini.

Di panggung Rabu, 4 Juni itu, sejak pagi hingga malam hari, telah diramaikan pertunjukan musik pop dan etnik, DJ perform, seni lukis, tari kontemporer, mural kolaboratif, teater, deklamasi puisi. Juga ada seni ukir, bonsai dan run with map, talkshow, budaya local, dan sejumlah aksi lainnya termasuk kendaraan listrik, demo masak kompor induksi, sebagai kreasi yang mengedepankan tema hijaukan bumi.

Di sana kreasi dan seni telah menjelma sebuah perlawanan! Sebuah daya niscaya. Creativity yang memungkinkan hadirnya entitas aktual. Karena di balik maknanya, –mengacu semiotika de Saussure — terdapat suatu system yang rumit dan kompleks sebagai pembentuknya.

Begitu Eco Vibe Fest 2025 telah menjadi cara paling seru dan bermakna dalam merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day).

Di sana pula sebagaimana esensinya, seni telah menjadi sarana mengkritisi dan memuliakan kehidupan.

Engkau bisa menukar buku bekas dengan kopi di UKM binaan PLN yang ikut hadir menyemarakan festival. Buku itu akan disalurkan ke sentra-sentra dunia literasi, untuk menghidupkan Taman Baca yang saat ini mulai mati suri di tengah serbuan budaya menonton yang membuat masyarakat meninggalkan buku.

Sebuah keadaan yang dikritisi secara sarkastik oleh para pemikir sebagai jalan menghibur diri hingga mati.

Saat buku ditinggalkan maka manusia menjadi budak kehidupan. Suatu keadaan masyarakat yang tenggelam dalam bisu dan ketakutan.

Di situ ungkapan penyair tanah Cedar Kahlil Gibran menjadi patut dan relefan: “Betapa buasnya sesungguhnya perbudakan kehidupan mengisi hari-hari manusia dengan kesengsaraan dan kesukaran, dengan air mata dan kesedihan mendalam saat kita tak punya pengetahuan”.
Di menit berikutnya, setelah Mongga usai dengan lagu “Banuangku” yang dinyanyikannya begitu ekspresif dan merdu, seorang anak kecil melintas di panggung dalam semacam kolase semiosis bersama wujud-wujud lainnya dalam gerak penyelamatan bumi dan lingkungan hidup.

Saya jadi ingat teolog pembebasan Poulo Freire. Kekuatan yang menjadi daya tarik utama pemikirannya adalah kejujurannya untuk menyatakan, tanpa tedeng aling-aling akan kondisi kemanusiaan kita saat ini yang telah sedemikian rupa rapuhnya di mana kita sendiri justru sering bersikap tidak manusiawi menghadapinya.

Hal itu dapat ditangkap dengan terang benderang dalam puisi yang dibacakan aktor Aldes Sambalao bersama teaterisasi actor cilik Viani:

INDONESIA PADA SEBUAH LAYAR

ada ketika seorang anak akan bertanya pada ibunya:
apa itu Indonesia
karena Indonesia yang ia bayangkan
begitu kabur dan samar
Indonesia yang disuguhkan padanya
adalah pertengkaran politik, berita korupsi dan kriminal
hiburan asing yang tak menjawab akar kesusahannya
pahlawanpahlawan super dunia fiksi yang tak nyata
ada ketika seorang anak akan berkata pada ibunya:
sebegini inikah wajah Indonesia yang harus kubayangkan
wajah yang retak, wajah yang kusam oleh ruparupa persoalan,
oleh ruparupa duka cita, perseteruan dan katakata yang tajam
menusuk hati, meretakan jiwa dan harapan
pulaupulau yang tak bernyawa
laut yang bertabur gelombang amarah
alam dan lingkungan yang terjarah
pendidikan yang kehilangan rasa cinta
akan apa yang kubayangkan pada Indonesiaku yang kubanggakan
ada ketika anak itu akan memandang merah putih berkibar
dalam sepi kebanggaan. dalam pertanyaan yang selalu tak terjawab
tapi ibunya yang sabar tetap saja menatapnya dengan cinta,
dengan sayang yang tak berkesudahan
dan ada ketika ibu itu akan berkata:
sejak negeri kita merdeka, hanya pada sebuah layar engkau melihat
Indonesia apa adanya. Pulaupulau yang riang, tanah air yang gemerlapan
karena hanya pada layar sanubari penuh cinta
Indonesia yang kau bayangkan
tak pernah padam

—( Indonesia Pada Sebuah Layar, Puisi Iverdixon Tinungki)

Dengan puisi ini, kita jadi paham akan apa yang dimaksudkan Hegel dalam The Phenomenology of Mind, di mana hanya dengan mengambil resiko hiduplah, kebebasan dapat dicapai.

Seseorang yang tidak berani mempertaruhkan hidupnya, tidak akan mencapai hakekat kesadaran diri yang mandiri.

Di sana juga terbetik gagasan pentingnya nilai manusia dan kemanusiaan, nilai kehidupan dan lingkungan untuk hidup. Karena panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindas atau yang mungkin menindasnya.

Manusia hendaklah bukan gema kosong sebuah suara, dan bayangan menyedihkan dari sosok tubuh, tapi sesuatu yang terus menafsir ulang nilai kehidupannya seperti sajak yang dibacakan aktor Rahadi IE Gedoan berikut ini:

GADIS PLASTIK DARI JIAMEI

lima ratus tahun kemudian
saat kotakota lama ditata ulang,
samudera dibersihkan,
bongkahan es kutub didinginkan
dan tanah kembali digemburkan
keturunan kita akan menemukan
berjutajuta gadis plastik dari Jiamei
dari pabrikpabrik seantero dunia,
terjengkang, memperlihatkan
betapa buruknya nilai hidup kita
dan mereka berkata: sekesepian itukah leluhur kita,
sesunyi itukah kehidupan mereka, sedatar itukah
akhlak mereka
karena lima ratus tahun sebelumnya,
kita memang diganyang gelombang plastik yang membabi buta
serbuan yang tak terlawankan, bahkan plastik dianggap pahlawan
menjaga bayibayi kita tidur, menemani mereka bermain
dan mereka tumbuh berkembang dalam dunia plastik yang ramai,
menghadirkan pesta nilai artifisial dari segala bentuk kehidupan
samar di kamarkamar yang diplastikkan dengan teramat gemar
karena lima ratus tahun sebelumnya
kita hidup dalam kebudayaan plastik yang paling edan
kita bergantung pada plastik, daya hidup kita didikte oleh plastik
kemudahan memplastikkan segalanya tak terasa telah merampas
semua kebanggaan kita sebagai manusia, sebagai bagian dari alam
yang harus dicintai dan diselamatkan
dengan buasnya kita biarkan plastik memangsa alam kita
memangsa tumbuhan dan hewan, memangsa diri kita,
keseharian kita, bahkan cinta kita
lima ratus tahun kemudian
dengan begitu malu keturunan kita
mencakapkan kebejatan kita yang tiada taranya
menyampahi samudera, menyampahi tanah,
menyampahi udara dengan plastik, dengan gadis plastik dari Jiamei,
dari Dreamdoll Duppigheim,
dari Strasbourg
menyampahi makna kehidupan dengan robotrobot plastik pemuas nafsu,
dengan tas, dengan kondom modif, dengan payudara silikon,
dengan pinggul silikon, dengan cincin penggeli, dengan penis karet,
dengan vagina getar, dengan alatalat rumah tangga, dengan
kemasankemasan barang dan mesin, dengan bunga, dengan segala
sampah plastik yang tak perlu dan tak berguna
dan mereka akan menyumpahi kita sebagai nenek moyang yang terkutuk
mewariskan bumi rusak akibat nafsu plastik yang tak terkendali
pemimpinpemimpin bangsa kita akan dicemooh sebagai para idot yang
tak mampu menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kelestarian hidup
alam semesta
dan mereka akan menulis ulang sejarah manusia
dari kesadaran yang lebih cerah
tentang makhluk yang mencintai planet mereka,
lalu menempatkan kita sebagai kerakera tua yang berotak tumpul
yang hidup di sebuah masa yang begitu buas
saling memangsa,
juga sebagai makhluk yang paling terobsesi dengan plastik
sebagai dunianya
saat keturunan kita memulai kembali hidup mereka
dengan awal yang bijaksana
mereka akan membongkar tulangbelulang dan abu kita
dan menarunya di lubang sampah
bersama plastikplastik yang tak bermakna

—(Gadis Plastik Dari Jiamei, Puisi Iverdixon Tinungki)

Akhirnya, tabik saya untuk Tamang Bae Lingkungan dan Serikat Pekerja PLN Sulut yang telah menghadirkan Eco Vibe Festival 2025 sebagai ajang penuh hikmah dan daya gugah bagi kesadaran mencintai alam dan lingkungan hidup kita. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!

Rangkuman Kembali,
15 Juli 2025
Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
Tags: Catatan dari Eco Vibe Fest 2025iverdixon tinungkiSeni Menggugah Kesadaran Ekologis
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
(Foto: ilustrasi)

Catatan Harian Bunga  Violet, Naskah  Dramatic Reading Karya Iverdixon Tinungki

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Saat Anak-anak Korban Gempa Sangihe Menemukan Lagi Ruang untuk Tertawa 11 Juni 2026
  • Bupati Sangihe Sisir Tiga Pulau Perbatasan Filipina yang Terdampak Gempa M 7,7 11 Juni 2026
  • Forkopimda Sangihe Bertolak ke Marore Salurkan Bantuan Gempa 10 Juni 2026
  • Jaga Populasi Ikan Langka, KKP Lepasliarkan 1.300 Ekor Cheilinus Undulatus 10 Juni 2026
  • Donor Darah Rutin, Wujud Nyata Kepedulian KSR PMI UPT Polimdo 10 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In